Jam istirahat telah tiba. Suasana SMA Bakti Luhur riuh oleh hiruk-pikuk siswa, persis seperti kegaduhan di kepala Nina tentang tuntutan dan ekspektasi orang-orang terdekatnya.
Begitu bel berbunyi, Nina tidak membuang waktu. Ia bergegas bangkit tanpa berbasa-basi kepada Nadin, teman sebangkunya.
Nadin yang paham tabiat Nina jika suasana hatinya sedang buruk, memilih diam. Itu pilihan terbaik saat ini.
Lagi pula, hal seperti ini sudah sering terjadi. Biasanya, dalam beberapa hari, Nina akan kembali menjadi sosok supel yang gemar menjahilinya.
Nina berjalan cepat menuju ruang OSIS, mengabaikan sekeliling. Di sana, Marvel sudah menunggu.
Selama menjadi tutor Nina, cowok itu selalu datang lebih awal. Mereka memilih meja di sudut—posisi strategis agar tidak menarik perhatian anggota OSIS lain.
Nina mengembuskan napas berat lalu mengempaskan tubuhnya di kursi hadapan Marvel. “Gue hari ini kerjain soal yang mana lagi?” tanyanya langsung, sudah hafal sistem belajar mereka.
Marvel yang semula sibuk menulis, mendongak. Ia menatap Nina sejenak lalu menyodorkan buku catatannya. “Kerjain yang ini. Soalnya beda, tapi rumusnya sama kayak kemarin.”
Nina mengangguk singkat. “Oh, oke.” Ia menarik buku itu dan mengambil pulpen dari saku seragam. Kepalanya tertunduk, mulai fokus.
Marvel mengernyit melihat kepatuhan yang tidak biasa ini. Kendati biasanya gemar menegur, kali ini Marvel memilih memperhatikan Nina diam-diam.
Ia menatap gadis itu yang tengah serius memiringkan kepala ke kiri dan ke kanan, seolah memeras otak mengingat rumus kemarin.
Sesekali Nina mengangkat pandangan saat sadar dirinya diperhatikan. Dengan cepat, Marvel mengalihkan mata ke ponsel, berpura-pura mengganti lagu di playlist-nya.
Hingga beberapa menit kemudian, “Yes! Selesai!” gumam Nina puas lalu menyodorkan kembali buku catatan itu. “Nih…”
Marvel mengambil buku tersebut dan memeriksa setiap jawaban dengan teliti.
Sret… sret…
Satu coretan, dua coretan, hingga beberapa tanda silang merah menghiasi kertas. Nina yang semula memasang tampang antusias, langsung cemberut.
“Masih banyak yang salah. Kerjain lagi,” titah Marvel.
Nina mengerucutkan bibir sambil memutar bola mata malas saat meraih kembali buku itu.
Sembari pulpennya mulai mencoret kertas, ia menggerutu, “Hufft… enggak pinter-pinter gue diajarin sama lo. Salah mulu!”
Marvel menyunggingkan senyum tak percaya. “Serius lo bilang gitu?”
Ia menghela napas, lalu menatap Nina serius. “Gue udah kasih rumus yang paling gampang dipahami biar gue enggak perlu capek-capek ngejelasin. Kalau lo ngerasa enggak cocok sama metode gue, tinggal bilang ke Bu Rahma biar dicariin tutor lain.”
Marvel melipat tangan di dada, menantang. “Itu juga kalau ada yang bisa sabar ngajarin lo. Atau mungkin… tutor barunya bakal lebih galak dari gue.”
Nina menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Hehe… enggak usah baper, dong. Gue kan cuma bercanda,” ujarnya dengan cengiran terpaksa.
Sejauh ini, memang cuma Marvel orang pintar yang Nina tahu aslinya baik. Sebagian besar orang pintar yang ia kenal justru munafik, ambisius, dan pelit ilmu—tipe orang yang paling malas Nina urusi.
Walaupun sikap Marvel kadang ketus, Nina tidak bisa memungkiri kalau cara mengajar cowok itu memang paling mudah ia mengerti.
“Yaudah, kerjain lagi gih,” kata Marvel sambil kembali memasang headset-nya.
Sembari mendengarkan musik, Marvel terus memperhatikan gerak-gerik Nina. “Aneh. Kok jadi nurut banget gini? Cerewetnya sih masih ada, tapi enggak se-ngeyel biasanya,” batinnya heran.
Tiba-tiba, gerakan pulpen Nina terhenti. Bukan karena soalnya selesai, melainkan karena perhatiannya teralih ke sudut lain ruang OSIS. Wajahnya mendadak berubah kesal.
Marvel langsung melepas headset, hendak menanyakan ada apa, namun kalimat dari seberang ruangan lebih dulu terdengar.
“Duh, mending kalau beneran belajar, ya. Tapi kalau posisinya di pojokan sepi gitu, sih, niatnya pasti udah aneh-aneh.”
Marvel turut memutar kepala, mencari sumber distorsi. Celetukan itu berasal dari beberapa anggota OSIS putri yang berkumpul di sudut yang agak jauh dari mereka.
Rahang Nina mengeras. Jemarinya mengepal kuat, sementara tatapannya menembak tajam ke arah gerombolan tersebut. Rupanya, sindiran itu belum mencapai puncaknya.
“Lagian enggak tahu malu banget, kegatelan deketin cowok mana aja. Emang tipe cewek hyper, urat malunya udah putus.”
“Hahaha, wajar sih. Ibunya aja autis, gila gitu. Buah kan jatuh enggak jauh dari pohonnya. Pasti anaknya ketularan aneh.”
Siswi yang menjadi poros dari kelompok itu kemudian mengangkat kedua tangannya, memperagakan gestur menimang bayi dengan mimik muka penuh penghinaan.
“Nina bobo… oh, Nina bobo…” senandungnya mengejek, memantik tawa sinis dari rekan-rekannya.
Mendengar bait nista yang mereduksi kehormatan ibunya, darah Nina mendidih. Ia bangkit berdiri hingga kursi di belakangnya terdorong menyentak lantai. “Anjrit… nyari ribut lo semua!”
Marvel ikut berdiri secepat kilat, mencengkeram lengan Nina dengan ketat demi menahan gadis itu. “Enggak usah diladenin, Nin.”
Nina menoleh sekilas, menatap Marvel dengan amarah. Namun, gelak tawa yang kembali pecah dari seberang ruangan laksana siraman bensin di atas api yang menyala.
“Wah, liat tuh… ngamuk. Beneran autis kayak ibunya ternyata!”
Rasionalitas Nina luruh. Tanpa kompromi, ia menepis tangan Marvel secara kasar, lalu melesat membelah ruang OSIS layaknya peluru yang lepas dari larasnya.
Secara brutal, Nina menjambak rambut ketiga siswi tersebut tanpa ampun.
Meski kalah jumlah, kemurkaan mendongkrak kekuatan fisik Nina hingga menjadi sangat beringas.
Ketiga siswi itu kewalahan. Nina melayangkan tamparan dan cakaran secara membabi buta, melunasi rasa sakit hati atas penghinaan yang menargetkan sang ibu.
Di sudut lain, Marvel terpaku di tempatnya. Tubuhnya mendadak kaku, terkunci oleh trauma masa lalu saat menyaksikan manifestasi kekerasan fisik di depan matanya.
Suara pekikan, hantaman, dan makian yang saling bersahutan mendadak terdengar meredam di indra pendengaran Marvel, seolah ia terlempar ke dasar samudra.
Dadanya sesak, seakan seluruh pasokan oksigen di dalam ruangan itu menguap. Tungkai kakinya bergetar hebat.