Bel tanda berakhirnya pelajaran berdentang, memicu keriuhan instan di seluruh penjuru koridor saat para siswa berhamburan keluar.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Marvel melangkah berlawanan arah. Langkah kakinya membawa pemuda itu menuju ruang guru untuk memenuhi panggilan Bu Rahma.
Wali kelas Nina tersebut rupanya ingin membahas perkembangan program tutor yang tengah berjalan.
Begitu Marvel mengambil tempat duduk di hadapannya, Bu Rahma langsung melayangkan tatapan penuh minat.
“Marvel, bagaimana impresi kamu mengajari Nina selama beberapa hari ini?” tanya sang guru membuka percakapan.
Marvel mengangguk sekilas, mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar tanpa senyuman.
“Lumayan, Bu. Anaknya emang agak susah diatur, persis seperti yang Ibu bilang,” jawab Marvel luwes.
Ia sengaja menjeda kalimatnya, memilih untuk menyembunyikan insiden perkelahian Nina tadi siang agar gadis itu tidak terseret masalah baru.
“Tapi, sejauh ini masih aman-aman aja, kok,” imbuhnya.
Bu Rahma manggut-manggut puas, lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi dengan gestur yang lebih santai.
“Hmm, bagus kalau begitu. Ibu senang mendengarnya. Sebenarnya, ada satu hal lagi yang mau Ibu bicarakan sama kamu terkait Nina,” ujar Bu Rahma, bersiap masuk ke topik utama.
Belum sempat kata itu lolos dari bibir sang guru, sebuah ketukan beruntun memotong percakapan.
Tok… tok… tok…
Suara itu mengalihkan perhatian Bu Rahma dan Marvel ke arah ambang pintu.
“Oh, Axel! Silakan masuk, Nak,” sapa Bu Rahma. Kehadiran murid itu mengubah atmosfer ruangan yang semula formal menjadi lebih hangat.
Marvel spontan menoleh. Netranya menangkap sosok Axel yang tengah melangkah masuk dengan setumpuk buku di dekapannya.
“Saya mau nganterin buku tugas kelas 11-A, Bu,” ujar Axel. Suaranya terdengar ramah dan sopan, khas seorang ketua OSIS yang berwibawa.
“Oh, iya. Taruh aja di meja sebelah sana,” sahut Bu Rahma sembari menunjuk meja di sudut ruangan dengan dagunya.
Sementara Axel sibuk menyusun buku-buku tersebut dengan rapi, Bu Rahma kembali memutar tubuhnya menghadap Marvel.
Mengabaikan keberadaan Axel di sudut lain, ia lantas melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda.
Bu Rahma membetulkan posisi duduknya, menatap Marvel dengan binar penuh harap.
“Jadi gini, Marvel. Orang tua Nina sempat menghubungi Ibu. Mereka minta tolong agar jam belajarnya ditambah pas pulang sekolah, bertepatan sama jam ekskul. Kira-kira, kamu keberatan nggak kalau ambil tawaran ini?”
Marvel terdiam. Pandangannya jatuh ke jemarinya sendiri.
Di sisi lain ruangan, gerakan tangan Axel yang sedang merapikan buku tampak melambat, telinganya menangkap tajam setiap jengkal obrolan itu.
“Gimana kalau saya aja, Bu, yang ngajarin Nina?”
Sebuah celetukan memotong. Axel melangkah mendekat ke meja Bu Rahma setelah merapikan tumpukan buku terakhirnya.
Ketua OSIS itu tentu saja sengaja menyimak pembicaraan sejak tadi. Kebetulan, posisi sebagai mentor Nina memang menjadi salah satu target yang tengah ia incar.
Bu Rahma sedikit terperanjat, menatap murid yang baru saja mengajukan diri itu dengan alis bertaut. “Axel?”
“Iya, Bu,” sahut Axel, memamerkan senyum penuh keyakinan.
“Saya bisa kok kasih tutor ke Nina pas pulang sekolah. Bahkan kalau dia butuh pas jam istirahat, saya siap bantu.”
Guratan sangsi terlukis di wajah Bu Rahma. Tatapannya beralih pada Marvel yang masih bergeming, lalu kembali pada Axel.
“Hmm… gimana, ya, Xel? Kamu kan Ketua OSIS. Apa jadwal kamu nggak keteteran nanti?”
Axel memberikan gestur meyakinkan, menegakkan bahunya perlahan.
“Ibu bisa percayain ini ke saya. Ibu juga tahu kan bagaimana rekam jejak akademik saya selama ini? Jadi, nggak perlu ragu, Bu,” ucapnya, terdengar begitu persuasif bak seorang profesional yang tengah mempromosikan diri.
Langkah taktik Axel belum selesai. Sepasang netranya bergulir sekilas ke arah pemuda di sebelahnya.
“Lagi pula… harusnya kan Marvel fokus sama pemulihan kesehatan mentalnya, Bu. Jadi, menurut saya lebih baik tugas Marvel dialihkan ke saya aja.”
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, Axel langsung memutus kontak visual dan kembali memusatkan atensinya pada Bu Rahma, bersikap seolah-olah pemuda yang barusan ia sebut namanya sama sekali bukan ancaman berarti.
Tensi di udara merayap naik. Marvel meremas jemarinya di bawah meja, menahan gejolak gusar yang mulai membakar dada.
Ia berusaha keras menjaga suaranya agar tetap terdengar tenang saat kembali menatap sang wali kelas.
“Kalau dari saya, semua terserah Nina aja, Bu. Kan dia yang bakalan menjalani proses tutornya.”