My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #10

9. Dalang

​ Siang itu, Nina telah bersiap di ruang OSIS. Ia memilih bangku di sudut ruangan—sudut tenang yang biasanya menjadi tempat bimbingan belajarnya bersama Marvel.

​Hari ini terasa berbeda. Marvel tidak datang lebih awal seperti biasanya.

​“Mmm… lagi ke kantin kali yah?” gumam Nina pelan, berusaha mengusir sepi yang tiba-tiba singgah. Ia memang sengaja datang lebih cepat dari jadwal.

​Nina menyandarkan punggung pada sandaran kursi, mengalihkan bosan dengan menggulir layar ponsel. Keheningan itu pecah saat suara derit kursi yang diseret paksa menginterupsi perhatiannya.

​Ketika mendongak, kening Nina langsung berkerut. Axel sudah berada di sana, menarik kursi tepat di hadapannya, lalu meletakkan buku paket serta alat tulis dengan gerakan yang terlampau santai.

​“Loh? Kok lo duduk di situ?” Nina menatap cowok itu penuh selidik. “Itu bangkunya Marvel. Kalau mau belajar, lo geser ke bangku lain aja,” ujar Nina.

​Axel justru tersenyum tipis, tampak menikmati sambutan ketus yang diterimanya. Alih-alih beranjak, ia memperbaiki posisi duduknya, melipat kedua tangan di atas meja, lalu menatap Nina lekat.

​“Mulai hari ini, saya yang bakalan gantiin dia jadi tutor kamu,” ujarnya, masih mempertahankan senyuman di bibir.

​Netra Nina membelalak, dipenuhi rasa tidak percaya. “Lah? Marvel kenapa? Kok tiba-tiba lo gantiin dia? Perasaan, kemarin gue bilang mau diskusiin ini dulu ke Bu Rahma. Kok jadi elo—” cerocos Nina.

​“Hussst!” Axel menempelkan telunjuk di bibir, mengisyaratkan Nina untuk meredam suara.

​Anehnya, Nina tertegun dan mengikuti isyarat itu.

​“Marvel ngundurin diri, Nin,” potong Axel kemudian.

​Nina terpaku, menatap cowok di hadapannya dengan sejuta tanya.

​Axel menghela napas panjang. Gurat wajahnya berubah sayu dengan sepasang mata yang meredup—tampak begitu prihatin, meski ada kesan terlalu dramatis yang tertangkap oleh intuisi Nina.

​“Katanya, dia mau fokus ke penyembuhan mental dia, Nin. Kemarin, juga udah diskusi sama Bu Rahma kok.”

​Axel memalingkan wajah ke arah jendela, menunjukkan raut penyesalan.

​“Kasihan banget sih, mungkin… gara-gara lihat kamu berantem kemarin. Makanya dia jadi syok.” Nada suaranya terdengar begitu meyakinkan, seolah-olah sedang menggambarkan Marvel sebagai sosok rapuh yang mudah hancur.

​Pikiran Nina langsung melayang. Bayangan wajah Marvel saat berada di ruang OSIS kemarin—tatapan kosong dan napas yang memburu saat serangan cemasnya kambuh—kembali melintas dengan begitu jelas.

​Rasa bersalah yang pekat menghimpit dada Nina. Andai saja kemarin ia tidak membuat keributan di tempat ini, Marvel pasti tidak perlu menanggung akibatnya.

​“Enggak perlu khawatir, Nin. Ini untuk kebaikan Marvel juga kan. Kamu cuma tinggal fokus belajar aja. Nanti biar aku yang ajarin.”

​Nina menoleh cepat, menatap Axel dengan kening berkerut.

​Aku? Kata itu terasa janggal dan asing di telinganya. Apakah cowok ini sedang berusaha mengikis jarak dan bersikap akrab?

​Namun, Nina segera menepis segala spekulasi yang melintas di kepalanya. Ia harus menerima keputusan ini, baik demi ketenangan Marvel maupun demi dirinya sendiri. 

Bagaimanapun, ia harus memperbaiki nilai-nilainya yang telanjur merosot. Ada harapan orang-orang terdekat yang tidak boleh ia kecewakan.

​Hubungannya dengan Marvel tampaknya memang harus selesai sampai di sini.

​Lagi pula, mencampuri urusan orang lain bukanlah kebiasaan Nina. Hidupnya sendiri sudah cukup berantakan, dan ia tidak memiliki kemewahan waktu untuk memikirkan masalah orang lain.

​Meski begitu, sebuah sudut di hatinya tidak bisa berbohong. Ada rasa ganjil yang menyusup, sebuah kehilangan yang samar, hanya karena Marvel tidak lagi ada di sana.

✽ ✽ ✽

​Hari-hari berikutnya bergulir di bawah kendali Axel. Sebagai siswi yang membutuhkan perbaikan nilai, Nina mencoba mempertahankan sikap patuh dan menerima keadaan dengan lapang dada.

​Meski begitu, jika boleh jujur, ia muak diatur.

​Jadwal bimbingan belajar yang dijejalkan Axel pada jam istirahat dan setiap pulang sekolah sukses membuat Nina jengah. Pemuda itu memang tampan dan pintar, tetapi pesonanya sama sekali mati di mata Nina.

​Bahkan pada hari pertama kerja sama mereka dimulai, Axel sudah meminta bertukar nomor kontak.

​“Biar aku lebih gampang bahas rumus sama kamu,” ujar Axel saat itu.

​Nina hanya mampu mengangguk canggung, sementara batinnya mengumpat kasar, Red flag banget anjir.

​Nina tidak pernah membagikan nomor ponselnya kepada sembarang orang. Namun, demi menyelamatkan lembar prestasinya, ia terpaksa mengalah dan memberikan deretan angka itu.

​Setelah beberapa hari menjadi anak didik Axel, Nina kian menyadari tabiat asli sang Ketua OSIS. Cowok itu terlalu dominan dan perfeksionis, seolah tidak boleh ada celah sedikit pun dalam hidupnya. Metode belajarnya pun sangat membosankan.

​Sering kali Axel mengajak Nina berbincang, tetapi interaksi itu selalu berjalan satu arah. Bukan karena Nina kehabisan topik, melainkan karena Axel selalu memonopoli percakapan.

​Ia gemar memamerkan pencapaiannya, kebanggaannya sebagai orang nomor satu di OSIS, serta berbagai riwayat hidup yang terdengar terlampau hiperbolis. Nina hanya bisa memutar bola mata jemu di balik punggung cowok narsistik itu.

​Setiap kali sesi membosankan itu berlangsung, Nina terpaksa menahan diri. Mereka selalu belajar di bawah pengawasan anggota OSIS lain dan para siswi pemuja Axel. 

Nina tidak ingin memicu keributan yang bisa berujung pada laporan ke telinga orang tua angkatnya. Ia tidak sudi ditegur lagi.

Lihat selengkapnya