My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #11

10. Tempat yang Aman

Begitu getaran di tubuh Marvel mereda, Nina pelan-pelan melepaskan pelukannya. Matanya menelusuri wajah pemuda di hadapannya dengan raut cemas.

​“Marvel… Lo enggak apa-apa? Ada yang luka?”

​Marvel menunduk dalam, tak sanggup bertatap mata dengan gadis itu.

​“Gue… baik-baik aja, Nin,” sahutnya patah-patah.

​ Nina kembali menyapu penampilan Marvel dari atas sampai bawah. Seragam basah kuyup dan napas yang belum sepenuhnya stabil memperjelas bahwa pemuda itu jauh dari kata baik-baik saja. 

Nina paham betul sorot mata tersudut itu; gestur seseorang yang kelelahan dihantam serangan panik.

​“Kita bersihin badan lo dulu di UKS, ya? Abis itu lapor Bu Rahma,” usul Nina lembut namun tegas. “Anak-anak tadi Axel yang nyuruh. Dia harus dikasih pelajaran.”

​Sontak Marvel mencengkeram jemari Nina, matanya membelalak panik.

​“Jangan, Nin. Biarin aja. Gue enggak mau orang-orang ngeliat keadaan gue kaya gini.”

​Nina terdiam sejenak, menangkap ketakutan mendalam di balik penolakan itu. Ia memelankan nada suaranya.

​“Ya udah, kalau gitu gue anterin lo pulang sekarang, ya?”

​Marvel menggeleng cepat, gurat panik di wajahnya makin jelas. “Jangan… Jangan anterin gue pulang. Gue enggak mau bikin orang tua gue khawatir.”

“Terus kita ke mana?”

​Pemuda itu menghela napas berat, lalu menatap Nina dengan pendar memohon.

​“Ke mana aja, Nin. Asal pergi dari sini.”

​Nina mengangguk paham. Tanpa banyak bertanya lagi, ia menggenggam erat pergelangan tangan Marvel, menyalurkan rasa aman yang sangat dibutuhkan pemuda itu saat ini.

​ “Ya udah. Ayo ikut gue, kita ke tempat yang aman.”

​Gadis itu melangkah lebih dulu keluar dari area toilet. Ia menuntun Marvel yang bertubuh jauh lebih tinggi untuk berjalan mengendap-ngendap menembus koridor sepi, menuju pagar tembok belakang sekolah.

​Tiba di batas area sekolah, keduanya mendongak menatap tembok pembatas yang menjulang.

​“Kita lewat sini. Lo bisa, kan?” tanya Nina memastikan.

​Marvel menatap lekat permukaan dinding semen di depannya sambil menelan ludah. 

Keinginan untuk melarikan diri dari tempat yang menghakiminya membakar dorongan adrenalin dalam darah, mengalahkan kekakuan otot yang sempat melumpuhkannya tadi.

​Ia menoleh ke arah Nina, lalu mengangguk mantap. “Gue bisa.”

​Nina sempat ragu, tetapi sebelum ia sempat menahan, Marvel sudah menggerakkan tubuhnya yang basah kuyup. Pemuda itu memanjat dan melompati pagar dengan gerakan tergesa.

Tindakan itu jauh dari kata rapi, tapi cukup untuk membawanya mendarat di sisi luar batas sekolah. 

Nina membelalak mendengar bunyi keras saat tubuh Marvel menghantam tanah di seberang tembok.

“Vel! Lo enggak apa-apa?” serunya panik dari dalam.

Tak ada jawaban. Di luar jangkauan pandangan orang-orang, Marvel tak lagi mampu mempertahankan dirinya saat kakinya menyentuh tanah.

​Tubuhnya langsung kolaps. Ia jatuh terduduk di atas tanah berbatu, napasnya memburu tak beraturan.

Seluruh pasokan tenaganya seolah habis terkuras untuk satu lompatan tadi.

​Tak membuang waktu, Nina menyusul melompati pagar dengan gesit. Ia mendapati Marvel terduduk pasrah sambil memegangi lututnya yang gemetar. Nina berjongkok di samping pemuda itu.

​“Marvel, beneran enggak ada yang sakit?” tanyanya dengan nada khawatir.

​Marvel menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari tanah. Ia mengatur napasnya yang memburu selama beberapa saat, mencoba menguasai dirinya kembali.

​Perlahan, pemuda itu mendongak. Matanya yang basah menyapu wajah Nina yang berjarak sangat dekat dengannya.

​Melihat fokus mata Marvel yang mulai jernih, bibir Nina mengulas senyum lega. Tangannya terulur mengusap titikan air di pelipis Marvel.

​“Yuk, pergi sekarang. Sebelum ada yang mergokin kita,” bisiknya lembut seraya mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

✽ ✽ ✽

Alih-alih mengantarkan Marvel pulang, Nina membawa pemuda itu ke sebuah tempat yang ia yakini aman. Taksi online yang mereka tumpangi melaju membelah jalanan, membawa mereka menuju kediaman Oma Cempaka.

​Begitu mobil berhenti di depan sebuah hunian bersahaja dengan nuansa asri yang teduh, Marvel sempat terpaku ragu. 

Menyadari keraguan itu, Nina mengulas senyum menenangkan seraya menggandeng jemari Marvel untuk melangkah masuk.

​Siang itu, Oma Cempaka sedang sibuk berkutat dengan mesin jahitnya di ruang tamu. Suara denting mesin itu mendadak terhenti ketika derap langkah Nina dan Marvel melintasi ambang pintu.

Lihat selengkapnya