Nina mengajak Marvel melangkah ke luar. Mereka kini duduk di atas ayunan kayu teras rumah Oma Cempaka—sudut favorit Nina setiap kali menyambangi kediaman sang nenek.
Pemandangan di hadapan mereka terhampar asri. Deretan tanaman hias milik Oma Cempaka tumbuh rimbun walau sedikit terabaikan, cukup untuk meredakan kepanikan yang sempat menguasai Marvel beberapa saat lalu.
Di tengah keheningan, Nina memiringkan kepala, mendekat perlahan demi mencuri atensi pemuda di sampingnya.
“Vel, lo enggak apa-apa, kan?”
Marvel menoleh. Senyum tipis terukir seiring sebuah anggukan perlahan.
“Udah mendingan kok, Nin.”
Nina menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Raut bersalah tercetak jelas di wajahnya.
“Mmm... soal yang tadi, sorry banget, ya. Gue beneran enggak nyangka reaksi Bubu bakal se-histeris itu.”
“Enggak masalah, kok,” sahut Marvel tenang.
“Walaupun reaksi gue tadi agak berlebihan, tapi gue paham. Ibu lo mungkin belum terbiasa dengan kehadiran orang asing.”
Nina mengangguk setuju.
“Emang gitu, sih. Bubu suka kurang nyaman sama orang luar. Jangankan lo, sama pelanggan jahit Oma Cempaka aja kadang suka sensitif.”
Gadis itu mengangkat dua jarinya, membentuk lambang v.
“Tapi sumpah, gue beneran enggak nyangka dia bakal se-reaktif itu ke lo!”
Marvel tertawa kecil. Pandangannya kembali terlempar menuju dedaunan hijau di pekarangan, sembari mengayunkan ayunan kayu yang mereka duduki secara perlahan.
Suasana kembali senyap. Keraguan menguasai pikiran Nina, memaksanya memutar otak demi memecah kekakuan.
“Lo pasti udah sering denger, kan? Anak-anak sekolah suka ngomongin kondisi ibu gue?”
Marvel memperlambat laju ayunan, lalu mengangguk pelan.
Nina menyenderkan punggung, menyelaraskan arah pandangnya melintasi taman.
“Iya, Bubu mengidap spektrum autisme. Lo bisa lihat sendiri tadi, kalau mau interaksi sama Bubu, harus serba hati-hati biar dia enggak panik.”
Getar tipis menyusup di ujung kalimat gadis itu.
Namun, Nina cepat-cepat menegakkan posisi duduknya. Seulas senyum hangat terbit di bibirnya.
“Walaupun gitu, gue bangga jadi anak Bubu. Lahir dari rahim seorang ibu istimewa itu rasanya emang campur aduk. Tapi yang paling gue syukuri, gue tahu Bubu sayang banget sama gue. Makanya gue bisa ada di sini sekarang.”
Marvel menoleh. Kalimat tulus yang meluncur dari bibir Nina dalam sekejap menghadirkan desir halus di dadanya—perasaan asing yang tak lagi sanggup ia definisikan.
“Tapi ya, tetep ada bagian yang enggak enaknya juga,” lanjut Nina sembari menghela napas panjang.
Ia menengadah, berusaha menahan genangan air mata yang membasahi pelupuk matanya.
“Oma pernah bilang, alasan beliau pertahanin gue... karena dia percaya bayi di rahim Bubu waktu itu tetap suci walau hadir dari sebuah kesalahan. Jadi, Oma sama Bubu ngasih gue kesempatan buat hidup.”
Napas Nina terdengar kian berat.
“Makanya, kalau gue sedih gara-gara omongan mereka, rasanya sama aja kayak gue ngekhianatin kepercayaan Oma sama Bubu yang udah perjuangin gue buat lahir ke dunia ini.”
Getar di ujung suara gadis itu makin nyata.
“Gue enggak mau bikin mereka kecewa. Karena mereka, gue bisa ada di sini. Merekalah alasan gue buat tetap bertahan.”
Melihat pundak Nina yang berguncang pelan, Marvel refleks menepuk bahunya lembut.
“Yang sabar, ya, Nin.”
Usapan ringan itu membuat Nina goyah. Air matanya menetes, tetapi dengan cepat ia menyekanya dengan punggung tangan sebelum kembali menatap Marvel.
“Lo enggak usah kegeeran, ya, karena gue ceritain soal ini.”
Gadis itu mengerjap beberapa kali untuk mengusir bayangan kabur di matanya.
“Gue cuma percaya sama lo. Dan gue rasa, lo bisa paham karena lo juga tahu rasanya berjuang sama kesehatan mental.”
Marvel tersenyum hangat, mengangguk penuh pemahaman.
“Makasih udah mau percaya sama gue, Nin.”
“Sama-sama. Gue cuma berharap lo ngerasa agak mendingan setelah main ke sini.”
Suasana hening sejenak, mengizinkan angin sore membelai teras rumah Oma Cempaka. Marvel memutar otak, mencari topik pembicaraan lain yang mengganjal pikirannya.
“Emm... ada satu hal yang bikin gue penasaran. Tapi gue agak segan nanya ini ke lo.”
Nina mengernyitkan dahi.