My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #13

12. Rumah

Hari-hari berlalu tanpa hambatan sejak kali terakhir Nina melabrak Axel. Sesi tutornya bersama Marvel di kelas 11-B, ruangan kelas pemuda itu, saat jam istirahat dan seusai bel pulang sekolah pun berjalan lancar. 

​Perilaku Nina tidak seugal-ugalan dulu. Seragamnya kini rapi sesuai regulasi sekolah, membuatnya bisa melangkah tenang melewati gerbang utama tanpa harus menghindari teguran guru atau melompati pagar belakang. 

​Hanya saja, sebuah kebiasaan lama belum sepenuhnya hilang. 

​Seusai mendengar rentetan nasihat panjang dari Bayu dan Naila saat sarapan, Nina kerap mengendap-endap menuju atap sekolah. 

Di sana, ia menyalakan sebatang r*kok. Kepulan asap tipis menjadi pelariannya untuk meredakan bobot ekspektasi yang diimpitkan kedua orang tua angkatnya itu. 

​Percik rasa bersalah sempat menyelusup tiap kali mengingat janjinya pada Marvel. Berhubung pemuda itu tidak pernah menangkap basah aksinya, Nina memilih menyimpan rapat rahasia kecil ini. 

​✽ ✽ ✽ 

​“Yes! Udah selesai, nih. Cepat periksa!” seru Nina antusias seraya menggeser buku tulisnya. 

​Marvel yang semula fokus membaca buku sembari menunggu, mendongak. Pandangannya menyipit menatap Nina. “Cepat banget? Jangan-jangan salah semua,” selorohnya penuh curiga. 

​“Sembarangan kalau ngomong! Periksa dulu, makanya,” sungut Nina sambil menunjuk lembar jawabannya.

​Kekehan pelan lolos dari bibir Marvel saat ia meraih buku tersebut. Raut wajahnya perlahan berubah serius begitu mengamati deretan angka serta alur penyelesaian yang ditulis Nina.

​Ingin tahu hasilnya, Nina yang duduk di hadapan Marvel mencondongkan badan, berusaha mengintip. Akan tetapi, Marvel dengan sigap mengangkat buku itu lebih tinggi, menghalangi jarak pandangnya. 

​Nina mendesis sebal. Ia menarik tubuhnya kembali, memanyunkan bibir, lalu melempar pandangan ke luar jendela.

​Tak sampai satu menit kemudian, Marvel menurunkan bukunya. “Benar semua.” 

​Nina spontan berdiri dari kursinya. “Betulan?” Ia membelalak tak percaya. “Eh, beneran?”

​Marvel mengangguk, senyum tipis terbit di sudut bibirnya. 

​Tanpa memedulikan beberapa siswa kelas 11-B yang masih berada di ruangan, Nina langsung bergoyang heboh, merayakan kemenangannya dengan joget ala dangdut. 

Marvel hanya bisa menahan tawa melihat tingkah absurd itu, sesekali melirik cemas ke sekeliling pada teman-temannya yang mulai mengernyit heran.

​“Yes… Gue bisa anjay! Kalau gini terus, ujian semester nanti bisa dapat juara kelas nih. Wah, harus diabadikan!” Gadis itu tertawa renyah, kembali duduk, lalu menarik bukunya untuk memotret hasil nilai sempurna itu.

​Di seberang meja, pandangan Marvel tak lepas dari senyum cerah Nina. “Nin?”

​“Kenapa?” sahut Nina tanpa mengalihkan fokus dari ponselnya.

​“Habis bel pulang nanti, lo ada acara enggak?” tanyanya, sedikit ragu.

​Nina menengadah, mengamati wajah Marvel dengan dahi berkerut. “Kan kita jadwalnya lanjut belajar. Lo lupa?”

​“Gimana kalau belajarnya di rumah gue aja?”

​ Mata Nina memicing curiga. “Ada angin apa ajak-ajak ke rumah? Mau aneh-aneh, ya?”

​“Mana ada!” Marvel gelagapan, buru-buru membuang muka demi menyembunyikan rona tipis di pipinya.

​Melihat reaksi salah tingkah itu, tawa Nina perlahan mereda. Ia menyadari ada keraguan di raut wajah teman belajarnya. Nina memilih bungkam, memberikan ruang tenang agar pemuda itu bisa menyampaikan maksudnya.

​ Keheningan melingkupi mereka sejenak, sebelum Marvel kembali bersuara pelan, “Waktu itu lo pernah ajak gue ketemu keluarga kandung lo. Sekarang, gue mau ajak lo ketemu orang-orang yang paling berharga di hidup gue. Mereka yang selama ini jadi support system gue.”

​Nina terpaku sejenak, lalu mengangguk mengerti. “Oalah... Oke deh. Tapi ada makan-makan, enggak? Jam pulang sekolah biasanya cacing di perut gue udah pada demo minta makan.”

​Ketegangan di wajah Marvel luruh, berganti binar antusias. “Pasti ada. Nanti gue kabarin Mommy biar masak banyak.”

​“Mommy?” Tawa Nina meledak begitu saja mendengarnya. 

​Merasa tersindir, Marvel dengan cepat meremas selembar kertas bekas di mejanya, lalu melempar bola kertas itu tepat mengenai jidat Nina.

​“Buset!” gerutu Nina.

​“Lagian lo rese! Itu panggilan kesayangan,” protes Marvel tak terima. “Lo sendiri panggil nyokap lo Bubu, gue biasa aja tuh.”

​“Iya, iya, ampun...” ringis Nina sambil mengelus jidatnya, walau tawa masih tersungging di bibirnya.

Lihat selengkapnya