My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #14

13. Rona

Santap siang di kediaman Marvel baru saja usai. Nina menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil memegangi perutnya yang kenyang.

​ Marvel berdiri dari duduknya, menatap Nina sejenak. “Gue ganti baju dulu, ya. Nanti kita lanjut belajar. Lo tunggu di ruang tamu aja.”

​Nina mengangguk santai. “Oke, santai aja. Gue tungguin.”

​ Marvel melangkah meninggalkan area meja makan menuju kamarnya. Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya menghampiri meja untuk membereskan piring-piring kotor.

​ Nina yang merasa tidak enak hati langsung menegakkan tubuhnya. “Biar saya bantu, Bi,” tawar Nina penuh kesediaan.

​“Eh, enggak usah, Non,” tolak sang Asisten Rumah Tangga halus, tangannya tetap gesit menumpuk piring.

​Nina menyengir canggung. “Beneran enggak ada yang bisa saya bantu, Bi? Saya enggak enak banget, udah dikasih makan enak, masa cuma duduk doang?”

​ART itu tersenyum ramah sembari mengibas tangan. “Enggak apa-apa, Non. Ini kan emang tugas Bibi. Lagipula, kerjaan hari ini bentar lagi juga kelar, kok. Non santai aja di ruang tamu.”

​Nina akhirnya menyerah. “Ya udah kalau gitu. Saya permisi ke ruang tamu dulu, ya. Makasih banyak buat makan siangnya, Bi!” ucapnya manis, menaikkan ibu jarinya tinggi-tinggi.

Niat Nina beranjak ke ruang tamu lantas urung. Saat melintasi lorong, sayup-sayup terdengar alunan piano berpadu dengan senandung lembut seseorang. Melodi itu terasa begitu menenangkan, memancing rasa ingin tahunya.

​Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Nina memberanikan diri mengintip ke dalam.

​Di sana, seorang wanita anggun sedang berteman dengan tuts-tuts piano, memainkan melodi penuh penghayatan. Di hadapannya, lembaran kertas musik dipenuhi dengan berbagai coretan.

​Tiba-tiba alunan nada terhenti. Wanita itu meraih pulpen dan kembali mencoret lembar musiknya.

​Asyik memperhatikan, Nina kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terdorong ke depan hingga engsel pintu berderit nyaring dan terkuak lebar.

​Wanita itu menoleh spontan. “Loh? Siapa, ya?”

​Nina meringis canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ehh, maaf, Tante. Saya ganggu, ya?”

​“Enggak kok,” balas wanita itu dengan raut bertanya-tanya. “Tapi, kamu siapa?”

​Mencoba mencairkan kecanggungan, Nina mendekat dan mengulurkan tangan. “Saya Nina, Tan. Adik kelasnya Marvel.” Gadis itu lantas meraih tangan Rona dan menciumnya penuh hormat.

​“Oalah… jadi kamu yang namanya Nina?” Rona tersenyum hangat.

​Nina membalas dengan anggukan ramah. Gadis itu tentu mengenali sosok di hadapannya: Baeverly Rona Frederick, seorang komposer musik ternama sekaligus ibu dari Marvel. Nina sempat mencari tahu latar belakang keluarga Marvel di internet agar tidak salah sikap saat bertemu.

​Rona menunjuk sofa empuk di sudut ruangan. “Ayo, duduk dulu.”

​“Makasih, Tante,” ujar Nina sembari berjalan menuju sofa. “Mmm… main pianonya enggak dilanjutin, Tan? Tadi musiknya enak banget, loh. Saya sampai terpesona, jadi ketahuan ngintip. Maaf ya, Tan. Saya ganggu.”

​Rona terkekeh halus. “Enggak apa-apa, kok. Lagipula, Tante akhirnya bisa ketemu kamu langsung. Marvel sering banget cerita tentang kamu.”

​Nina menyelipkan helaian rambut ke belakang telinganya. “Masa, Tan? Cerita apa aja?”

​ “Katanya dia harus ngajarin adik kelasnya yang cerewet dan susah diatur,” goda Rona jenaka. “Tapi Marvel loh ya yang bilang gitu, bukan Tante!”

Lihat selengkapnya