Santap siang di kediaman Marvel baru saja usai. Nina menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil memegangi perutnya yang kenyang.
Marvel berdiri dari duduknya, menatap Nina sejenak. “Gue ganti baju dulu, ya. Nanti kita lanjut belajar. Lo tunggu di ruang tamu aja.”
Nina mengangguk santai. “Oke, santai aja. Gue tungguin.”
Marvel melangkah meninggalkan area meja makan menuju kamarnya. Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya menghampiri meja untuk membereskan piring-piring kotor.
Nina yang merasa tidak enak hati langsung menegakkan tubuhnya. “Biar saya bantu, Bi,” tawar Nina penuh kesediaan.
“Eh, enggak usah, Non,” tolak sang Asisten Rumah Tangga halus, tangannya tetap gesit menumpuk piring.
Nina menyengir canggung. “Beneran enggak ada yang bisa saya bantu, Bi? Saya enggak enak banget, udah dikasih makan enak, masa cuma duduk doang?”
ART itu tersenyum ramah sembari mengibas tangan. “Enggak apa-apa, Non. Ini kan emang tugas Bibi. Lagipula, kerjaan hari ini bentar lagi juga kelar, kok. Non santai aja di ruang tamu.”
Nina akhirnya menyerah. “Ya udah kalau gitu. Saya permisi ke ruang tamu dulu, ya. Makasih banyak buat makan siangnya, Bi!” ucapnya manis, menaikkan ibu jarinya tinggi-tinggi.
Niat Nina beranjak ke ruang tamu lantas urung. Saat melintasi lorong, sayup-sayup terdengar alunan piano berpadu dengan senandung lembut seseorang. Melodi itu terasa begitu menenangkan, memancing rasa ingin tahunya.
Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Nina memberanikan diri mengintip ke dalam.
Di sana, seorang wanita anggun sedang berteman dengan tuts-tuts piano, memainkan melodi penuh penghayatan. Di hadapannya, lembaran kertas musik dipenuhi dengan berbagai coretan.
Tiba-tiba alunan nada terhenti. Wanita itu meraih pulpen dan kembali mencoret lembar musiknya.
Asyik memperhatikan, Nina kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terdorong ke depan hingga engsel pintu berderit nyaring dan terkuak lebar.
Wanita itu menoleh spontan. “Loh? Siapa, ya?”
Nina meringis canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ehh, maaf, Tante. Saya ganggu, ya?”
“Enggak kok,” balas wanita itu dengan raut bertanya-tanya. “Tapi, kamu siapa?”
Mencoba mencairkan kecanggungan, Nina mendekat dan mengulurkan tangan. “Saya Nina, Tan. Adik kelasnya Marvel.” Gadis itu lantas meraih tangan Rona dan menciumnya penuh hormat.
“Oalah… jadi kamu yang namanya Nina?” Rona tersenyum hangat.
Nina membalas dengan anggukan ramah. Gadis itu tentu mengenali sosok di hadapannya: Baeverly Rona Frederick, seorang komposer musik ternama sekaligus ibu dari Marvel. Nina sempat mencari tahu latar belakang keluarga Marvel di internet agar tidak salah sikap saat bertemu.
Rona menunjuk sofa empuk di sudut ruangan. “Ayo, duduk dulu.”
“Makasih, Tante,” ujar Nina sembari berjalan menuju sofa. “Mmm… main pianonya enggak dilanjutin, Tan? Tadi musiknya enak banget, loh. Saya sampai terpesona, jadi ketahuan ngintip. Maaf ya, Tan. Saya ganggu.”
Rona terkekeh halus. “Enggak apa-apa, kok. Lagipula, Tante akhirnya bisa ketemu kamu langsung. Marvel sering banget cerita tentang kamu.”
Nina menyelipkan helaian rambut ke belakang telinganya. “Masa, Tan? Cerita apa aja?”
“Katanya dia harus ngajarin adik kelasnya yang cerewet dan susah diatur,” goda Rona jenaka. “Tapi Marvel loh ya yang bilang gitu, bukan Tante!”