My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #15

14. Tahu Diri

“Mmm… Nin, tadi Nyokap cerita apa ke elo?” tanya Marvel di tengah kesibukan Nina mengorek lembar soal.

​Mereka duduk berhadapan di teras belakang rumah Marvel. Proses belajar-mengajar itu baru berjalan sepuluh menit sebelum pemuda di depannya mengalihkan topik.

​Nina mendongak dari kertasnya. “Banyak, sih. Soal musik, soal kakak lo, sama…” Ia memutar bolpoin di jemarinya, jeda sejenak. “Tante Rona kelihatan sedih banget pas bahas soal itu.”

​Marvel mengerti arah pembicaraan tersebut tanpa Nina perlu menjelaskan detailnya.

​Bibir pemuda itu terangkat tipis, memamerkan senyum hambar. “Iya, gue tahu. Nyokap emang sering kepikiran keadaan gue. Jujur, gue ngerasa bersalah, tapi…”

​ Nina menjangkau lengan Marvel, menepuk bahunya pelan. “Namanya juga hidup, nggak selalu mulus, kan?”

​“Dih, gaya amat pakai kata-kata motivasi segala?” ledek Marvel, sengaja mencairkan suasana.

​“Yeee… syukur-syukur gue kasih semangat!” Nina mencondongkan badan, sedikit ragu sebelum melanjutkan. 

“Tapi kalau boleh tahu… kejadian aslinya tuh gimana, sih? Soal kasus pembunuhan itu? Waktu itu gue belum masuk sekolah karena baru gabung dua minggu setelah orientasi.”

​Marvel membisu. Matanya menatap lurus ke buku catatan di meja, membuat Nina menggigit bibir bawahnya.

​“Eh, tapi kalau enggak mau cerita, juga enggak apa-apa kok! Gue cuma penasaran doang,” potong Nina cepat.

​Marvel kembali menatap Nina. “Kejadiannya cepet banget. Gue bahkan cuma sempat papasan sama Citra beberapa kali selama perkemahan.”

​ Matanya bergetar halus. “Hari kedua, pas patroli panitia, kita sempat mencar. Nah, di sanalah gue nemuin Citra di dasar jurang.”

“Gue panik setengah mati dan berusaha minta tolong.” Marvel mengembuskan napas pelan, seolah kembali mengingat hari itu. 

“Apesnya, anak-anak panitia yang datang duluan malah nuduh gue yang dorong dia. Ditambah ada beberapa orang yang memang sengaja komporin suasana. Akhirnya… gue yang diseret jadi tersangka.”

​Dahi Nina berkerut dalam. “Segampang itu lo dituduh? Emang nggak ada alibi? Terus sahabat-sahabat lo gimana? Zain, Kairo, sama Amar nggak ada di lokasi buat belain elo?”

​“Mereka nggak ikut acara itu. Katanya malas berurusan sama anak-anak populer.”

​Nina mendengus kencang. “Dih, enggak setia kawan banget!”

​Marvel tersenyum pahit. Ia ingat betul bagaimana Kairo dan yang lainnya memilih menarik diri sejak popularitas Marvel di sekolah mulai mendatangkan masalah. 

Bagi mereka yang cuma ingin masa-masa SMA yang tenang dan biasa-biasa saja, bergaul dekat dengan Marvel yang terlalu mencolok cuma akan menarik perhatian yang tidak perlu.

​Marvel sendiri tidak pernah tahu, sosok polisi yang menginterogasinya habis-habisan hingga mentalnya jatuh waktu itu sebenarnya punya dendam pribadi—seorang ayah yang tak suka melihat anaknya tersaingi oleh kepopuleran Marvel. Bagi Marvel, dunia saat itu cuma terasa berbalik memusuhinya.

​“Udah, Nin. Nggak usah dibahas lagi, ya,” bisik Marvel. Suaranya samar-samar bergetar.

​Melihat bahu Marvel yang mengencang, Nina tertegun. Rasa bersalah memenuhi benaknya. Ia mengamati raut wajah pemuda di depannya.

​“Emm… makasih ya, Vel, udah ngajak gue ke sini,” ujar Nina lembut, membelokkan arah pembicaraan.

​Marvel mengerutkan dahi, tertawa kecil. “Kok tiba-tiba bilang makasih?”

​“Ya… gue seneng aja diajak ke rumah lo. Bisa ketemu Tante Rona, Om Zafran, terus dikasih makan gratis pula. Sumpah, makanannya enak banget! Nyokap lo asik orangnya, bikin iri.”

​ Mendengar celotehan polos Nina, perlahan raut tegang di wajah Marvel mengendur. Senyum aslinya kembali terkembang. Random banget nih anak, batinnya.

​“Sama-sama, Nin.”

​Tatapan mereka terkunci beberapa detik. Hangat dan tenang, sampai sebuah lengkingan nyaring membelah udara.

​“Kak Marvel!”

Lihat selengkapnya