My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #16

15. Resah yang Berlari

Langkah kaki Nina terasa berat sewaktu menyusuri koridor sekolah. Tubuhnya bergerak nyaris tanpa tenaga, membelah hiruk-pikuk pagi yang perlahan memudar begitu ia melangkah masuk ke kelas.

​ Ia langsung menghempaskan diri di bangkunya, lalu menyandarkan dagu ke atas meja.

​Nadin, yang duduk tepat di sampingnya, menghentikan goresan penanya. Ia menatap Nina dengan kening berkerut.

​“Nin! Lo kenapa? Pagi-pagi ngelamun aja. Kesambet baru tahu rasa!” seloroh Nadin santai.

​Nina menoleh pelan. Dari dekat, ia bisa melihat buku catatan Nadin yang sudah terisi separuh halaman.

​“Nad, gue boleh tanya sesuatu?”

​Nadin menyejajarkan posisi duduknya. “Apaan?”

​Nina menegakkan punggung, berusaha memasang raut seolah cerita ini bukan tentang dirinya.

​“Gini… gue punya temen. Dia baru aja dilabrak sama cewek lain.”

​Nina melempar pandang ke luar jendela, menghindari kontak mata. Ia tidak ingin kebohongannya terbongkar.

​“Wajar enggak, sih, kalau dia langsung insecure gara-gara omongan cewek itu?”

​Nadin makin mengernyit. “Gimana maksudnya? Gue enggak paham. Emang cewek itu ngomong apaan sampai temen lo bisa down gitu?”

​ Nina mengembuskan napas panjang. “Ya ada lah, pokoknya!”

​ Ia melempar tatapan sebal ke arah Nadin. “Ah, tau ah. Percuma tanya ke lo. Lemot banget!”

​Nadin malah tertawa kecil, memamerkan senyum jahil.

​ “Ya lagian lo ceritanya setengah-setengah.” Nadin mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung pena.

​ “Eh, wait! Jangan-jangan… yang dilabrak itu elo?”

​ Nadin membelalak, mendekatkan wajahnya. “Serius? Gara-gara cowok, ya? Makanya lo langsung overthinking?”

​Tangan Nina melayang menepuk bahu teman sebangkunya itu. Wajahnya merona karena panik.

“Ih, asbun banget! Udah ah, males gue ngomong sama lo!” gerutu Nina, membelakangi Nadin yang makin keras tertawa.

Nadin menyenggol lengan Nina dengan siku sambil terkekeh. Nina hanya mendecak kesal, memilih mengabaikan tingkah usil Nadin.

✽ ✽ ✽

Lonceng istirahat berbunyi, menandai berakhirnya jam pelajaran. Nina tetap terpaku di bangkunya, sengaja menghindari rutinitas belajar bersama Marvel di kelas pemuda itu.

​Rentetan pesan dan panggilan tak terjawab beruntun meramaikan layar ponselnya. Nina hanya bisa mengembuskan napas panjang.

​Marvel: Enggak ke kelas gue? Istirahat udah setengah jalan nih. Bentar lagi bel masuk.

​Nina menatap pendar layar itu cukup lama. Jari-jarinya bergerak ragu sebelum merangkai sebuah kebohongan kecil.

​Nina: Gue lagi ngerjain tugas kelompok. Enggak sempat belajar sama lo.

​Balasan singkat itu berhasil memutus rantai pesan Marvel. Nina segera mematikan daya ponselnya, mengisolasi diri dari segala kemungkinan interaksi lanjutan.

​Di sudut lain, tepatnya ruang kelas 11-B, Marvel masih setia berdiam di bangkunya.

​Pandangannya terkunci pada sebuah pulpen cetek biru berhias pita dan bintang mungil di ujungnya. Benda itu terus ia putar di sela jari. Pemuda itu membuang napas pelan usai menelaah deretan huruf penolakan dari Nina.

​ “Gimana, Vel? Jadi belajar barengnya?” celetuk Zain.

​Sahabat sebangkunya itu baru saja melangkah masuk dengan tangan penuh. Zain meletakkan sebungkus roti dan sebotol air mineral di atas meja. Bekal itu adalah rutinitas titipan Marvel setiap kali jadwal belajarnya dengan Nina tiba.

​Marvel mendongak tipis, mengukir senyum miring. “Batal, Zain. Katanya lagi sibuk kerja kelompok.”

​Zain menggeser kursi dan duduk menghadap sahabatnya. Tangannya terulur menepuk bahu Marvel.

​“Santai aja, Bro. Kan masih ada jam pulang sekolah nanti buat lanjut berduaan.”

​Alis Marvel bertaut. “Dih, apaan sih. Gue mah biasa aja.”

​Zain tergelak ringan. “Kelihatan kali, dari muka lo yang lecek.”

Lihat selengkapnya