Siang itu, Nina dan Oma Cempaka duduk tegak di ruang konsultasi. Harum antiseptik yang tajam menyengat indra penciuman, memperkeruh suasana cemas yang menggantung di antara mereka.
Wajah kedua perempuan itu pias. Tatapan mereka terkunci pada sosok pria berjas putih di seberang meja, menanti kalimat pertama yang keluar dari bibirnya.
“Baik, Ibu Cempaka. Setelah pemeriksaan fisik awal tadi, ada beberapa hal yang perlu saya pastikan untuk memperkuat dugaan sementara kami,” ujar sang dokter. Suaranya tenang, tetapi menyimpan bobot yang berat.
Oma Cempaka mengangguk cepat. “Baik, Dok.”
Pria itu menunduk sejenak, mengamati lembaran rekam medis di hadapannya sebelum kembali menatap Oma Cempaka.
“Bu Cempaka, sudah berapa lama Bu Bunga mengalami gejala batuk ini?”
Oma Cempaka melirik Nina di sampingnya. “Udah lama, Dok. Dulu batuknya suka hilang timbul. Cuma biasanya pas saya kasih obat batuk warung, batuknya langsung reda.”
Wanita itu terdiam sejenak, berusaha mengingat kembali. “Tapi belakangan ini batuknya enggak kunjung reda, padahal udah disiapin obat yang kayak biasa.”
Dokter mengangguk paham. “Apakah batuknya disertai sesak napas? Atau mungkin saat batuknya kambuh, Ibu Bunga tampak memegangi dada karena kesakitan?”
Oma Cempaka mendongak, mencoba memanggil kembali ingatannya. “Kalau sesak napas yang sampai megap-megap sih enggak, Dok. Soalnya Bunga enggak pernah ngeluh. Paling kalau batuknya kambuh, napasnya jadi kedengaran berat banget. Dan benar, Dok, dia kalau batuk suka sambil pegang dada.”
Pulpen di jemari sang dokter diletakkan secara perlahan di atas meja.
Nina yang sejak tadi meremas jemarinya sendiri tak sanggup lagi bergeming. “Jadi… gimana keadaan Ibu saya, Dok? Bubu baik-baik aja, kan?” tanyanya. Suaranya bergetar halus.
Pandangan dokter beralih kepada Nina, sarat akan rasa simpati.
“Begini, Nak, Ibu Cempaka...” Dokter menarik napas pelan. “Dari gejala batuk kronis dan napas yang berat tadi, paru-paru Ibu Bunga tampaknya mengalami infeksi yang cukup hebat.”
Ia melanjutkan, “Untuk sementara, dugaan kami mengarah pada infeksi bakteri TBC yang kemungkinan sudah memicu pneumonia—atau awamnya paru-paru basah. Kantung udara di paru-parunya terendam cairan.”
Keheningan menusuk. Dua pasang mata di hadapan dokter saling bertukar tatap dalam kepanikan yang teredam.
“Tapi, ini baru dugaan awal,” sela dokter cepat, berusaha meredam gejolak di wajah keduanya. “Kita harus melakukan pemeriksaan penunjang seperti rontgen dada dan tes laboratorium. Kita berdoa saja semoga kondisinya belum sampai ke tahapan yang serius.”
Oma Cempaka menelan ludah dengan susah payah. “Jadi, sekarang kami harus gimana, Dok?”
“Untuk sekarang, Ibu Bunga sebaiknya dirawat inap dulu di sini agar kami bisa memberikan bantuan oksigen dan antibiotik lewat infus.”
Dokter menggeser selembar resep ke hadapan Oma Cempaka. “Sementara ini ada beberapa obat yang harus segera ditebus di apotek luar karena stok farmasi kami sedang kosong. Setelah itu, Ibu bisa mengurus administrasi rawat inap di depan.”
Kedua perempuan itu beranjak meninggalkan ruangan setelah mengangguk pasrah, melangkah berat menyusuri koridor menuju ruang perawatan Bunga.
Di bangsal umum itu, seorang perawat baru saja merapikan selang infus yang terpasang di punggung tangan Bunga. Riuh suara keluarga pasien lain dan lalu lalang petugas membuat udara terasa sesak dan pengap.
Jauh dari kata nyaman, tetapi hanya fasilitas ini yang sanggup dijangkau tabungan Oma Cempaka saat ini.
“Nina…” panggil Oma Cempaka seraya menepuk pelan bahu cucunya.
Nina yang sejak tadi memandangi sekeliling dengan gelisah menoleh.
“Kamu temani ibu kamu dulu di sini, ya. Oma mau pulang sebentar, mau ambil uang buat bayar administrasi Bunga.”
Nina mengangguk patuh. “Iya, Oma… Oma hati-hati di jalan, ya. Nina tungguin di sini.”
Oma Cempaka mengukir senyum tipis, mengelus lembut puncak kepala Nina sebelum berbalik melangkah pergi.
Suasana riuh bangsal kembali menyapu indra pendengaran Nina. Ia menatap ibunya yang terlelap lelah di atas brankar.
Dengan perlahan, Nina menarik tirai kain di sekeliling tempat tidur hingga tertutup rapat. Kain kusam itu setidaknya menjadi benteng tipis yang memisahkan ibunya dari hiruk-pikuk sekitar. Nina tahu betul, Bunga selalu cemas jika berada di tengah keramaian.
Nina menggeser kursi lipat, duduk tepat di sisi brankar. Jemari Bunga yang dingin disatukannya ke dalam genggaman.
“Nina harap… Bubu baik-baik aja,” bisiknya amat lirih.
Gadis itu mendaratkan kecupan lembut di punggung tangan ibunya, menatap raut wajah pucat yang pasrah itu dengan napas bertautan cemas.
✽ ✽ ✽
Pukul sebelas siang lewat sedikit, sosok Oma Cempaka belum juga memunculkan batang hidungnya.