“Nina, kamu jaga ibu kamu dulu yah, Nak.” Oma Cempaka mengelus pucuk kepala gadis itu. Matanya masih sembab, menatapi setiap inci wajah cucunya.
“Oma mau pulang dulu. Mau nyelesain orderan jahitan.”
Nina menatap neneknya khawatir. “Oma masih ada orderan?”
“Masih, Sayang. Yang mau Oma kelarin cuma yang udah setengah jadi. Kalau sisanya, mau Oma cancel aja biar bisa fokus ngerawat ibu kamu.”
Nina mengangguk pelan.
“Nanti kalau Oma datang lagi, kamu balik ke rumah Bayu dan Naila buat istirahat ya, Sayang. Besok pagi baru balik lagi. Kita memang lagi kesusahan, tapi kesehatan tetap harus dijaga demi ibu kamu,” tutur Oma Cempaka.
Nina mengusap lembut bahu wanita tua itu sebelum mereka berpisah. Langkah kaki Oma Cempaka perlahan menghilang di koridor, meninggalkan Nina yang bergeming sejenak sebelum kembali melangkah ke dalam bangsal rawat yang bising dan padat.
Tirai kain putih di bangsal itu tertutup rapat, mengurung Nina dalam sudut remang yang sesak.
Aroma sengat karbol bercampur uap tubuh yang sakit memenuhi udara, membuat tiap tarikan napas terasa berat. Di atas brangkar, Bunga—ibunya—terbaring makin layu.
Suara napas Bunga terdengar ringkih, seperti embusan angin yang dipaksa melewati lorong sempit dan basah. Gendang telinga Nina rasanya mau pecah setiap kali mendengar bunyi serak itu.
Gadis itu duduk menekuk lutut di atas kursi besi dingin, merapatkan kedua lututnya ke dada. Di tengah kepungan sunyi yang menekan, hanya ada satu pelarian: layar ponsel di genggamannya.
Dengan jemari yang basah oleh keringat, ia mengetikkan kata kunci pada kolom pencarian: Pneumonia Kronis & TBC.
Layar gawai menyala terang, memantulkan cahaya pucat pada manik mata Nina yang melebar. Jarinya bergulir cepat, menyapu baris demi baris artikel medis sembari menahan detak jantung yang kian berpacu.
“...pada kasus lanjut, penumpukan cairan di rongga pleura akan menekan paru-paru, mengakibatkan pasien merasa seperti tenggelam dari dalam…”
Tenggelam dari dalam. Nina terpaku menatap layar. Untuk sesaat, ia bahkan lupa cara bernapas.
Gadis itu kemudian beralih menatap ibunya. Ia membayangkan cairan pekat yang perlahan naik, menyumbat jalur napas Bunga, lalu mencekiknya tanpa suara.
Bunyi derit tajam mengejutkannya saat tirai disibak kasar dari luar.
Seorang perawat melangkah masuk dengan gerak tergesa. Tangannya membawakan nampan stainless steel berisi tumpukan masker tebal jenis N95.
Wajah perawat itu tertutup rapat, hanya menampilkan sepasang mata yang menatap Nina dengan tatapan dingin penuh waspada.
Tanpa banyak bicara, perawat itu bergerak cepat mencantolkan papan plastik berwarna kuning menyala pada tiang infus Bunga. Tulisan kapital tebal tercetak jelas di sana: ISOLASI DROPLET / PERINGATAN INFEKSIUS.
“Pakai ya, Dek. Berlapis kalau bisa,” ujar perawat itu sembari menyodorkan dua buah masker. Tangannya ditarik kembali dalam tempo cepat, seolah enggan berlama-lama di area tersebut. “Ibunya positif TBC aktif. Sangat menular lewat udara.”
“T-TBC aktif, Sus?” Suara Nina tercekat, tertahan di kerongkongan.