Senin kembali menyapa SMA Bakti Luhur. Riuh lonceng berdentang menandai mulainya jam pelajaran pertama, tepat setelah barisan upacara dibubarkan.
Di kelas 11-B, Marvel tidak mampu duduk tenang. Buku pelajaran di mejanya terbuka, tetapi pandangannya terus terbagi ke arah pintu kelas.
“Vel.” Zain menegur pelan teman sebangkunya itu.
Marvel tersentak. Ia menoleh ke arah sahabatnya sembari mengangkat alis. “Hmm?”
“Lo nggak apa-apa, kan? Dari tadi pagi celingak-celinguk mulu,” bisik Zain pelan agar tidak memancing perhatian guru di depan. “Nyariin Nina, ya?”
Marvel melirik situasi sekitar sebelum akhirnya mengangguk. “Pas upacara gue nggak liat tuh anak. Apa bolos lagi, ya?”
“Mau gue temenin nyamperin ke kelasnya?” tawar Zain. Ia paham betul canggungnya Marvel jika harus melangkah sendirian.
Marvel tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk. “Boleh, deh.”
Zain tersenyum lalu menepuk pelan bahu sahabatnya. Keduanya kembali berfokus mencatat tulisan di papan tulis.
Waktu berjalan cepat hingga lonceng istirahat berbunyi. Marvel langsung berdiri setelah merapikan alat tulisnya, sedangkan Zain masih merapikan mejanya tanpa terburu-buru.
“Udah, yuk, Zain. Cepetan,” desak Marvel pelan. “Ntar si Kairo sama si Amar nanya-nanya kalau kita ketahuan melipir ke kelas 10.”
Marvel tahu benar, dua sahabatnya itu paling usil jika menyangkut masalah pribadinya. Di antara mereka berempat, Zain adalah sosok yang paling bisa diandalkan dan memahami situasinya.
Zain mengangguk santai sambil menepuk dada kirinya pelan, mengatur napas agar tidak tersengal. “Yaudah, yuk.”
Keduanya pun melangkah keluar kelas, menyusuri koridor menuju area kelas satu.
✽ ✽ ✽
Setibanya di depan kelas 10-B, beberapa pasang mata langsung tertuju pada dua pemuda bertubuh tinggi itu.
Zain berjalan di depan, sementara Marvel mengikutinya dari belakang dengan headset kabel terpasang di telinga, menghalau riuh suara yang enggan ia dengar.
Keduanya berhenti di ambang pintu, berdiri di antara lalu lalang siswa yang sibuk berhamburan keluar.
Zain mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, mencari sosok Nina. Marvel tetap bergeming di belakangnya dengan tatapan waspada.
Pandangan Zain akhirnya tertambat pada seorang siswi. Ia mengangkat tangan, memberikan isyarat memanggil.
Gadis itu melangkah menghampiri mereka. “Iya, Kak? Ada apa, ya?” tanyanya heran.
Pandangannya sempat tertambat sejenak pada Marvel, sebelum buru-buru terlempar ke arah lain dengan keraguan yang tersirat jelas di raut wajahnya.
“Lo Nadin, kan? Temen sebangku Nina?” tanya Zain.
Gadis itu mengangguk pelan. “Iya, Kak.”
Ia tampak gelisah, sesekali melirik Marvel sebelum kembali memusatkan perhatian pada Zain.
“Kalian nyariin Nina, ya?” tebak Nadin.
Marvel mencondongkan badan ke depan, menyela tajam dengan nada yang tak bersahabat. “Iya. Nina mana? Kok nggak ada di kelas?”
Nadin tersentak, refleks menarik langkahnya mundur dengan raut panik. Zain yang menyadari gestur gadis itu langsung menyikut lengan Marvel, menegurnya pelan agar tidak menakut-nakuti lawan bicara mereka.
“Sorry,” gumam Marvel canggung, memalingkan muka.
Nadin mengibaskan tangan cepat, berusaha menguasai diri. “Enggak apa-apa, Kak.”
“Jadi, Nina ke mana?” ulang Marvel, napasnya terdengar memburu.
“Dia nggak masuk, Kak. Katanya lagi ngerawat ibunya di rumah sakit,” jelas Nadin.