My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #20

19. Terpisah oleh Ego dan Keadaan

Setelah bersitegang dengan Kairo, Marvel akhirnya tahu apa yang harus ia lakukan. Ia perlu menemui Nina dan meluruskan semuanya.

​Dari cerita Kairo, Marvel mendapati fakta bahwa Nina habis dilabrak oleh Kyara. Ketiadaan Nina saat janji belajar bersama tempo hari jelas berbuntut dari kejadian tersebut. 

Zain pun ikut meyakinkan Marvel bahwa kali ini ia berdiri penuh di pihaknya, sembari mengakui kalau sikap Kairo memang terlalu egois untuk ditoleransi.

​ Saat bel pulang berdentang, Marvel memutuskan menyambangi rumah sakit—petunjuk yang ia dapat dari desas-desus siswi kelas sepuluh saat jam istirahat tadi.

​ Ditemani Zain yang sigap menanyakan arah di meja resepsionis dan membuka jalan setiap kali koridor terasa terlalu padat, kedua pemuda itu akhirnya berhasil menemukan bangsal tempat ibu Nina dirawat.

​Langkah mereka melambat di lorong unit perawatan intensif. Tepat di depan salah satu ruang rawat, seorang wanita tua terduduk di kursi tunggu dengan bahu meluruh dan wajah lunglai.

​“Oma Cempaka?” sapa Marvel lembut sembari mendekat.

​Wanita itu menengadah, menatap bergantian dua pemuda yang kini berdiri di sampingnya. “Nak Marvel?”

​Tanpa ragu, Marvel meraih tangan Oma Cempaka untuk bersalim. Zain menyusul di belakangnya, mengulurkan tangan sopan.

​“Saya Zain, Oma. Sahabatnya Marvel,” ucap Zain ramah. Ia menyerahkan keranjang buah yang mereka bawa. “Ini dari Marvel, Oma.”

​Oma Cempaka menerima bingkisan itu dengan mata berkaca-kaca. “Aduh... repot-repot banget kalian.” Ia bergeser sedikit, memberi ruang di kursi panjang tersebut. “Duduk dulu, Nak.”

​“Mmm... maaf ya, kalian sepertinya belum bisa masuk menengok Bunga. Kondisinya di dalam benar-benar belum memungkinkan.”

​“Enggak apa-apa kok, Oma,” sahut Marvel tenang. “Saya turut prihatin atas musibah yang menimpa Bu Bunga. Semoga beliau lekas sembuh.” Zain di sampingnya mengangguk pelan, menyimak penuh simpati.

​Marvel mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Ngomong-ngomong, Nina ke mana, Oma? Ada di dalam?”

​Oma Cempaka menggeleng lemah. “Enggak, Nak. Tadi Oma minta dia ke kantin beli kopi. Kasihan Nina... dari kemarin kurang tidur karena kepikiran ibunya. Makanya hari ini Oma minta dia enggak usah masuk sekolah dulu.”

Marvel mengangguk paham. Keheningan menggantung sejenak, sebelum akhirnya wanita tua itu tak lagi mampu menahan air matanya. Isakan pelan lolos dari bibirnya.

​Marvel dan Zain saling lempar pandang. Refleks, Marvel mendaratkan telapak tangannya di bahu Oma Cempaka, menepuknya perlahan.

“Oma... ada apa? Kalau butuh sesuatu, bilang aja. Siapa tahu saya bisa bantu,” bisik Marvel prihatin.

Oma Cempaka mengusap air matanya, menatap Marvel pasrah. “Oma udah enggak tahu lagi harus minta tolong ke siapa. Oma udah keliling cari pinjaman buat biaya pengobatan Bunga, tapi enggak ada satu pun yang mau bantu.”

Wanita tua itu menarik napas yang terasa berat. “Padahal Bunga harus cepat ditangani supaya kondisinya enggak makin parah.”

Marvel makin mendekat, mengelus bahu rentan itu. Oma Cempaka meraih genggaman jemari Marvel erat-erat. Tangannya gemetar hebat, suaranya sarat keputusasaan.

“Marvel... tolong bantu Oma. Keluarga angkat Nina emang udah bantu bayar kamar isolasi, tapi itu cuma cukup buat ruangan. Biaya tindakan lainnya belum ada sama sekali...”

Marvel menatap iba. Belum sempat ia merangkai kata, Oma Cempaka meluncur turun dari kursi. Wanita tua itu berlutut di lantai, merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil memohon.

​“Tolong Oma ya, Nak... Oma enggak mau kehilangan Bunga...” tangisnya pecah.

Lihat selengkapnya