My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #21

20. Bila Waktu Berhenti Memaafkan

Hari itu, usai kepulangan Marvel, Nina menatap sang nenek dengan sorot mata cemas. 

​“Oma… tolong… kalau Marvel datang lagi, jangan terima apa pun dari dia. Dan tolong, jangan ngemis ke dia kayak tadi,” ucap Nina, suaranya bergetar menahan perih.

​“Maafin Oma, Sayang. Oma bingung, enggak tahu harus cerita ke siapa lagi…” Cempaka menunduk lesu.

“Enggak gitu, Oma. Nina cuma enggak mau mereka mandang rendah kita. Marvel itu orang kaya. Kalau kita nerima bantuan dia, kita cuma dianggap manfaatin mereka. Kita bakal disebut enggak tahu diri.”

Nina mengembuskan napas panjang, berusaha meredakan emosinya.

​ Cempaka meraih jemari cucunya, lalu merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukan.

​“Oma enggak usah khawatir, ya. Habis ini Nina mau pulang ke rumah Papa sama Mama. Nina bakal bujuk Papa Bayu. Nina yakin Papa pasti mau bantuin kita.”

​Cempaka mengangguk pelan, mengusap lembut helaian rambut gadis tersebut.

✽ ✽ ✽

Rasa gusar, kecewa, dan jengah belum juga mereda saat Nina memasuki kediaman keluarga Darmawan.

​ Biasanya pada jam seperti ini, Bayu dan Naila kerap menghabiskan waktu di ruang santai untuk melepas penat seusai bekerja.

​Nina melangkah perlahan, berniat membersihkan diri di kamar sebelum menemui kedua orang tua angkatnya. 

Langkahnya tertahan tatkala melewati area tengah. Di sana, Bayu dan Naila duduk berdampingan menatap layar televisi dengan volume yang dikecilkan.

​ Pasangan suami istri itu tidak menyadari kehadiran Nina.

​“Aku kasihan sama mereka, Mas. Bu Cempaka kemarin sampai mohon-mohon ke aku,” tutur Naila lembut seraya menatap suaminya.

​Langkah Nina terhenti sepenuhnya. Niat menuju kamar menguap begitu saja. Dari balik dinding sekat, ia berdiri mematung, merapatkan tubuh sembari menajamkan pendengaran.

Di sela sayup-sayup suara televisi, Bayu menarik napas panjang.

​“Nai… kita udah keluar cukup banyak uang buat Nina.”

​“Tapi, Mas, kondisi ibunya lagi kritis dan harus segera ditangani. Kasihan dia…” sela Naila.

​“Halah, kamu enggak usah sok baik, Nai. Enggak penting juga, kan?”

​Bayu mendengus, nada bicaranya makin kentara enggan. “Nanggung biaya rumah sakit ibunya Nina? Itu bukan tanggung jawab kita.”

​Di balik remang sudut ruangan, jemari Nina mengepal erat hingga memutih.

​“Nina itu cuma anak angkat di sini. Jadi, jangan ada pengeluaran lain buat dia selain kebutuhan wajib!”

Bayu mengembuskan napas kasar sebelum kembali bersuara.

“Udah bagus kita baik hati mau ngerawat dia.”

​ Mendengar bait demi bait kalimat itu, binar harapan di netra Nina langsung padam. Keinginan untuk membujuk sang ayah angkat hancur berkeping-keping.

​Dengan air mata yang membendung di pelupuk, Nina memutar tumit dan mengayunkan langkah cepat keluar dari rumah.

Ia berlari melintasi remang malam tanpa arah yang pasti. Satu-satunya yang ada di benaknya adalah melarikan diri dari dua orang yang ternyata hanya menganggapnya sebagai beban moral.

​Tanpa tahu, apakah ketulusan yang dirasakannya selama ini hanyalah sebatas rasa iba yang berbalut belas kasihan.

​Rasa lelah membimbing langkah Nina menuju taman kecil tak jauh dari permukiman Oma Cempaka.

​Gadis itu kehabisan arah. Ia meluruh di atas bangku kayu yang diterangi temaram lampu taman, membiarkan isak tangisnya pecah perlahan.

​ “Hiks… sekarang… gue harus minta tolong ke siapa lagi?” gumamnya lirih pada sepi.

​Bayangan Marvel hadir dalam benaknya. Ingatan tentang penolakan mentah-mentah yang ia lontarkan tadi siang melintas kembali. 

Rasa tersinggung akibat dilabrak Kyara tempo hari—ditambah rasa pedih saat melihat Omanya berlutut di hadapan pemuda itu—membuat emosinya sempat membutakan segalanya.

Apa gue keterlaluan sama dia? bisiknya dalam hati.

​Mengucapkan kata maaf terasa amat berat saat harga diri menjadi taruhannya. Mengemis bantuan hanya akan makin mengikis martabatnya. Lantas, jalan apa lagi yang tersisa?

​Nina menengadah, menatap hamparan bintang yang bertebaran di langit malam. 

Dalam diam, ia berharap ada secercah keajaiban yang datang mengetuk takdirnya—agar dunia tak terus-menerus menekan pundaknya yang mulai goyah.

​Mengapa takdir terasa begitu keras bagi mereka yang tak memiliki apa-apa?

Lihat selengkapnya