Siang itu, ketika rombongan pelayat mulai terurai usai salat jenazah, keranda almarhumah Bunga dibawa perlahan menuju tempat peristirahatan terakhir. Nina melangkah limbung, meratapi kepergian sang ibu di dalam dekapan erat Oma Cempaka.
Beberapa perwakilan dari SMA Bakti Luhur turut hadir menyampaikan belasungkawa, termasuk Marvel dan ketiga sahabatnya yang masih mengenakan seragam putih abu-abu lengkap usai langsung meluncur dari sekolah.
Sumbangan dari teman-teman pun telah diserahkan. Akan tetapi, duka yang terlampau dalam membuat Nina tak sanggup menyapa siapa pun. Hanya Oma Cempaka yang sesekali mengangguk samar, membalas kepedulian para pelayat dengan suara serak.
Isak tangis Nina pecah saat tubuh ibunya perlahan diturunkan ke liang lahat. Beberapa kali jemarinya berusaha menggapai tanah yang pelan-pelan menimbun ruang tersebut, hingga Oma Cempaka harus mendekap tubuhnya kuat-kuat agar tidak melompat ke bawah.
“Bubu… kenapa ninggalin Nina?” Suara itu terdengar pilu di antara bisik-bisik doa yang memenuhi pemakaman.
Tak jauh dari sana, Marvel berdiri membisu bersama sahabat-sahabatnya. Balutan seragam sekolah yang mereka kenakan tampak kontras dengan pakaian serba hitam milik Nina yang menyerap kelamnya suasana di sana.
Pemuda itu menunduk dalam-dalam tiap kali jeritan kecil Nina menyayat udara. Saat tanah selesai dirapikan dan papan kayu ditancapkan, Nina ambruk, menyungkurkan wajahnya di atas gundukan tanah berselimut bunga itu.
“Ibu…” panggilnya lirih, begitu putus asa.
Perlahan, area pemakaman mulai lengang. Orang tua angkat Nina, Bayu dan Naila, melangkah mendekat dengan raut serba salah. Ada ganjalan besar dalam hati mereka karena merasa gagal mengulurkan tangan saat almarhumah benar-benar membutuhkannya.
“Bu Cempaka,” panggil Bayu pelan.
Pria itu membetulkan posisi berdirinya. “Sekali lagi, kami turut berduka cita, Bu,” ucap Bayu menatap iba ke arah Nina yang masih tak bergeming di atas tanah.
Naila merangkul bahu Oma Cempaka, mengusapnya perlahan. “Ibu yang sabar, ya.”
Saat Naila mengurai pelukannya, Oma Cempaka menatap pasangan suami istri itu secara bergantian. Suaranya gemetar. “Bayu, Naila… tolong izinin Nina tinggal di rumah Saya sedikit lebih lama. Dia sangat kehilangan. Saya mohon, kalian mengerti, ya?”
Naila mengangguk cepat sambil menggenggam jemari wanita tua di hadapannya. “Iya, Bu, kami sangat mengerti. Nina pasti butuh waktu untuk menerima semua ini.”
Sebuah senyum tipis yang sarat duka terbit di wajah Oma Cempaka. “Terima kasih banyak. Nanti kalau kondisi Nina sudah tenang, Saya sendiri yang akan mengantarnya pulang ke rumah kalian.”
Setelah pamit dengan bahasa tubuh yang santun, pasangan suami istri itu beranjak pergi, meninggalkan kompleks pemakaman yang kian sunyi.
Di sudut lain yang agak teduh, Kairo menepuk bahu Marvel. “Vel, orang-orang udah pada balik. Anak-anak OSIS juga udah pada cabut.”
Marvel yang tatapannya tak pernah lepas dari figur Nina menjawab tanpa menoleh. “Kalian duluan aja. Gue masih nungguin Daddy sama Mommy. Katanya mereka mau dateng ke sini.”
Kairo bertukar pandang sebentar dengan Zain dan Amar, lalu mengangguk paham. “Ya udah, kita bertiga balik ke sekolah duluan, ya. Kalau ada apa-apa, langsung kabarin.”
Marvel memutar tubuhnya, menatap ketiga sahabatnya bergantian sebelum membiarkan mereka melangkah jauh.