Siang itu, pemakaman terasa kian lengang. Nina masih tertahan di bangku semen bersama Rona yang duduk tenang di sisinya.
Pandangan gadis itu lurus menatap pusara sang ibu, tempat Oma Cempaka dan ayah Marvel masih tampak berbincang dalam nada rendah.
Marvel baru saja beranjak melangkah menuju ayahnya usai percakapan singkat mereka yang membentang jarak.
Kini, giliran Rona yang duduk di samping Nina. Ada keraguan di benak Nina; ia mengira wanita di sebelahnya hanya ingin menyampaikan belasungkawa formal seperti pelayat lainnya—kebanyakan dari mereka hanya menyapa Oma Cempaka, mengabaikan Nina yang memang sengaja menutup diri dari siapa pun.
Gadis itu memutar tubuhnya perlahan, menatap Rona. Sepasang matanya masih sembab, walau raut wajahnya ia usahakan tetap tegar.
“Makasih ya, Tante, udah sempetin datang ke sini,” tutur Nina datar, sekadar memenuhi kesopanan. “Kalau Tante sibuk, harusnya enggak perlu repot-repot.”
Rona yang menangkap getaran halus di balik nada dingin itu tak langsung membalas. Ia tersenyum tipis, menatap Nina penuh empati. “Nina…”
“Tante mau bicara apa sama saya?” sela Nina cepat, seolah menolak segala bentuk basa-basi di tengah dukanya.
Rona mengusap pelan jemari Nina yang saling meremas di pangkuan. “Nina, kalau kamu mau nangis, keluarin aja, Sayang. Enggak usah ditahan di depan Tante.”
Kalimat sederhana itu menjadi akhir dari segala upaya Nina untuk tetap terlihat tegar.
Nina tak sanggup lagi menanggung beban di dadanya; ia pasrah saat Rona merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan yang hangat.
“Hiks… Bubu udah pergi, Tante…” Isaknya pilu.
Rona hanya bergeming, mengusap punggung gadis itu secara teratur untuk memberi ketenangan.
“Nina bahkan belum bisa ngasih sesuatu dari hasil kerja keras Nina ke Bubu, tapi… Bubu udah pergi. Ini enggak adil, Tante…” serunya, masih di pelukan Rona.
Dari kejauhan, tak jauh dari pusara Bunga, Marvel berdiri membisu di samping ayahnya. Matanya tak lepas memperhatikan dua sosok perempuan di sudut pemakaman itu.
Marvel merasa lega melihat Nina akhirnya mau menumpahkan tangisnya di dalam pelukan sang ibu, meski terselip sedikit rasa kecil hati di sanubarinya.
Ada getir saat menyadari bahwa bukan dirinya yang sanggup membuat Nina melepaskan kedok ketegarannya. Marvel berusaha memaklumi; sebagai sesama perempuan, mungkin Rona jauh lebih paham cara merangkul luka yang sedang Nina tanggung.
Di bangku pemakaman, isak tangis Nina perlahan mereda. Napasnya mulai tertata, meski dadanya masih tersengal. Gadis itu menarik tubuhnya perlahan, menunduk dalam karena enggan memperlihatkan wajah sembabnya.
Rona memberikan usapan lembut di bahu Nina, merapikan helaian rambut gadis itu yang berantakan.
“Kamu tahu, kamu ngingetin saya sama seseorang.” ujar Rona.
Nina mendongak tipis, melemparkan tatapan bingung.