My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #24

23. Keluarga?

​Kehangatan memenuhi setiap sudut kediaman keluarga Samudra Ahmad Ryansyah dan Hailee Devi Rarasati di kawasan Perumahan Kenari.

​Lampu ruang santai membingkai rutinitas malam yang tak pernah absen mereka jaga. Di tempat inilah kebersamaan berpulang, meleburkan segala kepenatan hari.

​Samudra duduk bersandar nyaman di sofa, mendekap mesra bahu istrinya sembari menikmati tayangan televisi.

​Di sofa tunggal tak jauh dari mereka, Kyara—si anak bungsu—tampak asyik dengan gawai di jemarinya. Sementara itu, Kairo memilih melantai di dekat meja kecil, tenggelam di antara lembar tugas sekolah.

Pandangan Hailee mengedar perlahan, merekam panorama kasih di hadapannya. Senyum tipis terbit di bibirnya. Tatkala pandangannya tertambat pada Kairo yang sibuk menekan kalkulator, ia membuka suara.

​“Kai, Mama dengar dari Tante Rona. Kamu sama Marvel lagi marahan, ya?” tanya Hailee lembut, tetap menyandarkan kepala pada bahu sang suami.

​ Kairo mendongak sejenak. “Enggak kok, Ma. Kita udah baikan.”

​“Palingan berantem gara-gara cewek tuh, Ma,” cetus Kyara tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

​Kairo menoleh cepat, tatapannya menyalang gemas. “Ihh, apaan sih lo, Dek!”

​Jemarinya meraih remasan kertas di meja lalu melayangkannya tepat ke arah Kyara. “Ini juga gara-gara kelakuan lo, ya!”

​Tak terima, Kyara menyambar bantal sofa di sampingnya dan melempar balik. “Idih, apaan sih, Kak? Kok malah bawa-bawa gue!”

​“Ya emang gara-gara lo, kan! Pake acara ngelabrak si Nina segala!” sergah Kairo cepat.

​“Udah, jangan berantem,” potong Samudra menengahi perdebatan anak-anaknya.

​Sebelum sempat melayangkan serangan balasan, Kairo dan Kyara saling melempar lirikan kesal, lalu membuang muka bersamaan.

​“Nina? Kyara ngelabrak anak orang?” Hailee menegakkan duduknya, menatap anak bungsunya heran.

​Kairo mengangguk mantap. “Iya Ma, mana main keroyokan segala. Dia bawa dua temennya ke sekolah Kairo. Terus ngelabrak Nina di depan sekolah.”

​Sepasang suami-istri itu serempak mengalihkan pandangan pada Kyara, yang mendadak pura-pura sangat sibuk mengusap layar ponselnya.

​“Bener yang dibilang kakak kamu, Ky?” tegur Samudra, menuntut kejujuran.

​Kyara tak lagi bisa mengelak. Ia mengangguk pelan sembari menunduk.

​Beberapa saat kemudian, rasa tidak terimanya kembali meluap. Gadis itu mendongak dengan bibir cemberut.

​“Habisnya dia kecentilan banget deketin Kak Marvel! Padahal kan aku yang bakal dijodohin sama Kak Marvel!” sengitnya.

​Samudra dan Hailee bertukar pandang sejenak, tertegun mendengar alasan putri mereka.

​“Anak pungut aja, belagu. Mana, ibu kandungnya autis lagi.” Gadis itu memutar bola mata malas. “Kalau Kak Marvel sama dia, ntar gimana masa depan Kak Marvel?”

​“Kyara!”

​Tiga suara menyambar serentak. Nada teguran itu bergema keras di dalam ruangan.

​ Hailee bangkit berdiri, matanya menatap tajam. “Mama sama Papa enggak pernah ya, ngajarin kamu ngerendahin orang lain kayak gitu!”

​Samudra ikut berdiri, mengusap pelan lengan istrinya untuk menenangkan emosi yang membumbung. “Yang, sabar.”

Melihat ketegangan yang kian meruncing, Kairo sengaja melemparkan bantal sofa ke arah adiknya. “Kya!”

​Lemparan itu sukses mengalihkan atensi Kyara yang kini cemberut menatap kakaknya.

​“Harusnya lo minta maaf ke Nina,” desis Kairo, suaranya merendah namun penuh penekanan. “Lo tahu, Dek? Ibu kandung dia meninggal tempo hari!”

Ruang santai langsung senyap. Hailee meremas tangannya sendiri, terkejut.

​“Astaga... Serius, Kai? Sebenarnya siapa sih, Nina yang kalian maksud?” tanya Hailee prihatin.

​“Duduk dulu, Ma. Biar Kairo jelasin.”

Lihat selengkapnya