My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #25

24. Dia Selalu Bangga

Setelah perdebatan sengit semalam dengan Bayu dan Naila, Nina kembali meringkuk di kamar ibunya.

Di luar, Oma Cempaka mencoba menyibukkan diri dengan pesanan jahitannya. Tangannya gemetar memegang kain pola, sementara dadanya sesak oleh duka yang tak kunjung reda.

Di usia senja yang seharusnya diisi dengan ketenangan, ia kehilangan arah. Dulu, setiap jam dalam hidupnya berputar untuk merawat putri tunggalnya yang berkebutuhan khusus.

Kayuhan mesin jahit itu perlahan terhenti.

Oma Cempaka menengadah, menarik napas panjang sembari menatap sekeliling. Sunyi melingkupi ruangan, hanya memperlihatkan bulir-bulir debu melayang menembus sorot cahaya pagi dari jendela dan ventilasi.

Suasana pagi di rumah tua ini selalu sama. Dahulu, sebelum sang surya terlalu tinggi, ia akan beranjak ke pasar mencari bahan jahit, meninggalkan putrinya yang asyik merajut. 

Begitu kembali, Bunga pasti menyambutnya di depan pintu dengan mata berbinar, menagih kue basah kesukaannya.

Kini, rutinitas itu telah sirna. Bunga telah tiada.

Pandangan wanita itu tertuju pada pintu kamar Bunga yang tertutup rapat. Isaknya pecah tanpa mampu ditahan. Sosok yang ia rawat dengan kasih tanpa tepi itu pergi begitu cepat, meninggalkannya dalam kesedihan yang teramat dalam.

Di balik pintu kamar tersebut, Nina masih terlelap.

Kamar itu tak lagi berantakan. Pakaian tercecer dan gulungan benang rajut yang dulunya memenuhi sudut ruangan kini telah bersih, berganti aroma pembersih lantai yang segar.

Melihat Nina yang begitu terpukul dan ingin langsung menempati kamar mendiang ibunya tanpa memedulikan kondisi sekitar, Oma Cempaka berkeras agar ruangan itu dibersihkan terlebih dahulu.

Nina yang semula tak acuh akhirnya turun tangan membantu sang oma, menyapu dan memilah sisa benang hingga kamar itu layak dihuni.

Oma Cempaka paham betul alasan Nina ingin berada di sana. Walau kini kamar tersebut jauh lebih rapi dan nyaman, Nina memilih bertahan di sana hanya demi menyusuri kembali jejak sang ibu, merasakan kehangatan yang seolah mendekapnya saban ia terlelap.

“Hmm... hmmm... hmmm... Ni-na bo-bo...”

Alunan lembut itu terngiang di ambang kesadaran Nina. Pucuk kepalanya terasa hangat, seperti ada jemari halus yang mengelus helaian rambutnya dengan penuh kasih sayang.

Kehangatan itu perlahan buyar saat silau cahaya pagi menerobos celah jendela, mengusiknya yang masih terpejam.

Nina membuka mata, menatap sekeliling ruangan. Kehangatan yang barusan ia rasakan rupanya hanya igauan mimpi. Ia mengira senandung itu nyata, mengira sang ibu benar-benar berada di sisinya.

Bukan Bunga yang membelai rambutnya. Sang ibu sudah tidak ada di sana.

Gadis itu bangkit lalu duduk di tepi ranjang. “Bubu...” bisiknya pada kesunyian.

Beberapa saat ia terpaku mengingat sang ibu, hingga samar-samar terdengar suara isakan dari luar kamar. Nina menoleh ke arah pintu, lalu melangkah perlahan mencari asal suara.

✽ ✽ ✽

Di ruang tengah, Oma Cempaka duduk di depan mesin jahitnya. Wanita itu menopang kepala dengan kedua tangan, meremas rambutnya sendiri di tengah tangis, berusaha menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata.

“Oma?” panggil Nina pelan sembari mendekat.

Oma Cempaka terperanjat, lalu buru-buru menyeka air matanya sebelum mendongak.

“Eh, Nina udah bangun? Mau sarapan, Sayang? Oma belum masak. Kamu ke gang depan aja ya, beli nasi uduk buat sarapan, sekalian lauk buat makan siang nanti,” ujarnya cepat, sengaja mengalihkan topik agar tidak terlihat menyedihkan di depan cucunya.

Melihat reaksi itu, dada Nina justru makin teriris. Ia merengkuh pundak wanita itu penuh rasa prihatin.

“Oma... Nina boleh ngomong sesuatu?”

Oma Cempaka mengangguk. Ia berdiri lalu menggiring cucunya duduk di sofa.

Mereka duduk berdampingan. Jemari Oma Cempaka menggenggam erat tangan Nina, sementara sang cucu menatap lekat wajah omanya yang masih basah oleh bekas air mata.

Nina menelan ludah sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya. “Oma enggak mau bahas apa-apa soal yang semalam?”

Gadis itu mengira sang oma menangis lantaran kecewa atas pertengkarannya dengan Bayu dan Naila kemarin.

Oma Cempaka menggeleng lembut. “Kalau kamu belum siap bahas ini... Oma ngerti kok, Sayang.” Tatapannya menerawang. “Penjelasan kamu semalam juga udah cukup buat Oma tahu apa yang kamu rasain soal mereka.”

Wanita itu menarik napas berat sebelum kembali menatap cucunya. “Tapi, Sayang... Oma harap kamu jangan terlalu membenci Bayu dan Naila. Mereka udah berjasa membesarkan kamu.”

Nina merenggangkan genggamannya. Gadis itu membuang muka, tak ingin menatap Oma Cempaka.

“Kalau aja dulu Oma enggak nyerahin aku ke mereka, aku pasti enggak bakalan berutang budi kayak gini!” Suara Nina mulai bergetar, menahan emosi yang meluap.

“Nina capek, Oma! Nina capek harus terus ditimpa beban moral dari mereka. Bahkan Oma pun selalu ngingetin Nina soal itu. Nina tahu diri, Oma...”

Air mata Nina menetes, membasahi pipi.

“Tapi bukan mereka yang mau Nina bikin bangga. Yang mau Nina bikin bangga itu Bubu! Sekarang apa? Nina bahkan enggak sempat bikin Bubu bangga sebelum Bubu pergi.”

Gadis itu menoleh kembali pada omanya, menatapnya dengan tatapan hancur dan rasa sakit hati.

“Kalau aja aku enggak diadopsi sama Papa dan Mama, aku pasti punya banyak waktu sama Bubu. Aku pasti bisa bikin Bubu bangga tanpa perlu ngerasain beban seberat ini...”

Isakan Nina pecah. “Hiks... kenapa waktu itu Oma ngelepasin aku?”

Melihat kehancuran di sorot mata cucunya, Oma Cempaka yang merasa bersalah langsung mendekap Nina erat-erat. Tangisnya ikut pecah.

“Andai aja bisa sesederhana itu, Sayang... Oma pasti pertahanin kamu.”

Tatapan Oma Cempaka menerawang jauh ke masa lalu. Bayangan hari kelam itu kembali hadir—hari ketika ia terpaksa melepas Nina demi kehidupan yang ia kira lebih baik.

Pagi itu di rumah sederhana yang tenang, Bunga dan Nina kecil yang baru saja menginjak usia lima tahun sedang lesehan di lantai semen ruang tamu.

Kain perca berserakan di mana-mana, menjadi mainan menyenangkan bagi mereka.

Kebersamaan sederhana yang biasa mereka lakukan saat Oma Cempaka pergi mengantar pesanan jahitan. Nina sibuk bermain boneka kain, sementara Bunga begitu tekun menyusun potongan kain perca berdasarkan warna.

Selama ini Oma Cempaka merasa tenang meninggalkan mereka. Bunga memang seorang penyandang autisme yang membutuhkan perlakuan khusus dalam kesehariannya. Namun, ia penuh kasih dan selama ini tidak pernah menyakiti putri kecilnya.

Suasana tenang di rumah itu tak bertahan lama. Kepolosan anak lima tahun, keterbatasan Bunga yang butuh selalu diawasi, serta tidak adanya orang dewasa lain di rumah berujung pada bahaya yang tak terduga.

“Bubu... main boneka!” Nina kecil mulai bosan, menyodorkan bonekanya ke hadapan Bunga.

Bunga tertunduk, menggerakkan kepalanya canggung tanpa mengalihkan pandangan dari susunan kainnya. Nina yang merasa diabaikan lantas berdiri, lalu menyapu tumpukan kain di depan ibunya hingga berantakan.

“Haaa... rusak! Nina nakal!” Bunga berseru pelan sembari mendorong bahu Nina menjauh.

Lihat selengkapnya