My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #26

25. Saya Pamit

​Setelah berdiskusi panjang dengan Oma Cempaka, Nina membulatkan tekad.

​ Nasihat Oma kemarin masih terngiang jelas di benaknya. “Bagaimanapun, Bayu dan Naila pernah hadir dan punya jasa di hidup kamu, Nak. Keputusan apa pun yang kamu ambil, Oma akan selalu hargai. Tapi Oma mohon, perbaiki hubungan kalian. Minta maaf soal sikap kamu malam itu. Mereka berhak mendapatkan kata maaf dari kamu, Nina.”

Petuah sederhana itu menyadarkan Nina. Sebelum mengambil keputusan besar untuk pergi, ia harus lebih dulu memberanikan diri untuk meminta maaf.

Sore itu, Nina berdiri di depan pintu kayu jati rumah keluarga Darmawan. Rumah besar yang telah ia huni selama beberapa tahun terakhir. 

Berdiri gamang di teras, jemarinya sempat terangkat ragu, tertahan beberapa detik sebelum akhirnya menekan bel.

​Pintu terbuka tidak lama kemudian. Seorang wanita berpenampilan anggun berdiri di ambang pintu, menatap Nina dengan mata berbinar.

​“Nina? Kamu… kamu udah pulang, Nak?” sapa Naila. Suaranya bergetar parau.

​Naila langsung menarik Nina ke dalam dekapan hangat tanpa membiarkan gadis itu bersuara.

​“Sayang… Mama tahu kamu pasti pulang,” bisik Naila penuh keharuan.

​Nina bergeming. Kedua tangannya tertahan kaku di sisi tubuh. Ia membiarkan bahu Naila berguncang pelan, menangkap isak lega dari wanita yang merawatnya sejak usia lima tahun itu.

​“Tante…” bisik Nina lirih.

​Naila perlahan mengurai pelukan. Dahinya berkerut dalam, memancarkan raut bingung. “Sayang? Kok… kamu panggil Mama kayak gitu?”

​Nina berusaha menjaga raut wajahnya tetap tenang, meski sapuan angin sore membuat dadanya kian bergemuruh. “Saya mau bicara sesuatu sama Tante.”

​Naila terdiam beberapa saat, mengamati sorot mata Nina yang terasa asing baginya. Sambil menepis prasangka yang mulai membayang, ia mengelus lembut rambut Nina lalu menuntunnya masuk.

​Keduanya duduk berhadapan di ruang tamu. Nina mengambil posisi di pinggir sofa, menangkupkan jemari di pangkuannya. Gerak-geriknya canggung, persis seorang tamu asing yang berhati-hati menjaga batas.

​Seorang asisten rumah tangga sempat melangkah mendekat, menyajikan cangkir teh hangat dan kudapan kesukaan Nina. Namun, Nina sama sekali tidak menyentuhnya.

​“Saya…” ujar Nina sedikit ragu. “Saya mau minta maaf soal malam itu, Tante,” lanjutnya cepat.

​Naila tersenyum teduh sambil mengangguk mengerti.

​Nina menatap minuman di hadapannya, menghindari kontak mata dengan Naila sebelum berkata, “Sikap saya keterlaluan malam itu. Jadi, saya mau minta maaf sama Tante Naila dan Om Bayu.”

​Alis Naila mengerenyit. “Sayang… Mama udah maafin kamu. Tapi… kenapa kamu manggil Mama sama Papa kayak gitu? Kamu masih marah sama kami?” Ada resah yang menggelayuti hati Naila.

​Meski enggan, Nina menatap wanita yang duduk di hadapannya dengan raut serius.

“Tante Naila, sebenarnya saya ke sini selain mau minta maaf… saya juga mau pamit.”

​Naila masih tampak kebingungan. “Pamit? Emang kamu mau ke mana, Sayang?”

​“Saya mau balik ke rumah Oma Cempaka.”

​“Kenapa gitu, Sayang? Kamu kan udah tinggal di sana selama beberapa hari ini? Mama bahkan udah berhari-hari loh nungguin kamu. Apa kamu enggak kangen sama Mama? Sama Papa juga, atau sama rumah ini?” Matanya mulai berkaca-kaca.

Lihat selengkapnya