“Nina udah siap?” tanya Oma Cempaka sembari merapikan dasi cucunya.
​Nina tersenyum manis lalu mengangguk. “Siap, Oma.”
​Oma Cempaka mengelus lembut rambut Nina, mengecek atribut sekolah gadis itu satu per satu. Rapi dan pas di tubuh.Â
Wanita itu mundur satu langkah, memperhatikan hasil karyanya—seragam sekolah baru yang ia jahit sendiri khusus untuk sang cucu. Tatapannya memancarkan binar bangga.
​ Setelah sempat terpuruk dalam duka atas kepergian ibunya dan peliknya masalah yang menimpa, hari ini Nina memutuskan untuk kembali melangkah ke sekolah.Â
Seragam buatan Oma kini melekat sempurna di tubuhnya. Barang-barang lamanya sengaja tidak ia ambil dari rumah keluarga Darmawan, sebab Nina merasa tak lagi berhak atas apa pun dari tempat itu.
​Setelah keputusan terbesar dalam hidupnya diambil, segalanya terasa makin terang. Nina memilih memulai awal yang baru sebagai dirinya sendiri, tanpa rasa malu sedikit pun.
​Gadis itu melirik jam dinding, lalu kembali menatap Omanya. “Udah jam segini, Oma. Nina berangkat dulu, ya.”
Ia meraih tas dan sepatu yang dibeli Oma Cempaka dari pasar loak. Keduanya memang bukan barang baru, tetapi Nina tetap memakainya dengan senang hati. Baginya, tak masalah barang itu bekas selama itu pemberian dari sang Oma.
​Sebelum benar-benar melangkah ke teras, Nina meraih tangan Oma Cempaka, menyalami dan menciumnya dengan khidmat, lalu mengecup kedua pipi wanita itu penuh kehangatan.
​“Oma tahu kamu pasti bisa, Nak. Oma bangga banget sama kamu… dan ibu kamu di sana juga pasti sama bangganya,” ucap Oma Cempaka parau.
​“Makasih ya, Oma.” Nina tersenyum hangat. “Nina jalan dulu.”
​Oma Cempaka berdiri menatap punggung cucunya dari teras hingga sepeda motor ojek daring yang dipesan Nina benar-benar berlalu dari pandangan. Ia mengembuskan napas lega. Seolah sesuatu yang sempat terlepas kini kembali dalam pelukannya.
​✽ ✽ ✽