Hari ini hari Minggu. Besok Senin Dio sudah harus masuk sekolah barunya. Semua perabotan sudah tertata kecuali ruang kerja orang tua Dio. Sekarang bapak ibu Dio punya ruang kerja khusus di belakang rumah yang terpisah dengan rumah utama. Tadi pagi Ibu Dio mengajak Dara dan Dea untuk belanja bulanan. Dan Dio sudah berjanji pada bapaknya untuk membantu membereskan ruang kerja.
"Taruh situ aja,” kata bapak Dio menyuruh anaknya meletakkan buku-buku yang dibawanya ke atas rak.
Dio melakukan apa yang dikatakan bapaknya. Dio anak rajin dan penurut. Sebelumnya, dia bersihkan rak yang masih berdebu itu. Lalu dia susun rapi buku-buku bapaknya. Ruang kerja orang tua Dio termasuk luas. Meja kerja lengkap dengan perangkat komputer tersedia di beberapa sudut. Foto-foto bangunan arsitektur ukuran poster berjajar di sepanjang dinding. Neo menyisirkan pandangannya sekeliling. Dia tak menyangka orang tuanya punya ruang kerja layaknya kantor di luar negeri seperti yang dia lihat di film-film.
“Tinggal satu kardus arsip-arsip lama, tolong bawa kesini ya Dio,” pinta bapak Dio sembari memasang sticker bertuliskan RUANG ARSIP di salah satu pintu.
Dengan sigap Dio beranjak ke garasi, mengambil satu kardus besar yang masih tersisa. Agak kewalahan Dio mengangkat kardus itu ke ruang kerja, karena memang berat. Tapi Dio tidak menyerah. Sampai di ruang kerja, dia tetap berusaha untuk memasukkan bawaanya masuk ke ruang arsip. Tapi saat hendak melewati pintu ruang arsip, suara bapaknya menahannya.
“Jangan dibawa masuk!” suara bapak Dio keras tertahan sembari setengah berlari ke arah Dio. “Taruh di luar saja,” bapak Dio mengambil kardus yang dibawa Dio lalu meletakkan di luar pintu ruang arsip, ”Lantainya nanti papa bersihin dulu,” ujar bapak Dio. Cepat-cepat dia mengeluarkan kunci dari saku celana dan mengunci pintu ruang arsip.
Sesaat Dio hanya memandangi pintu ruang arsip itu. Ada sesuatu yang dia rasakan janggal. Tapi mungkin memang ruang arsip itu harus dibesihkan dulu. Atau memang disitu tersimpan arsip-arsip yang tidak boleh semua orang tahu.
“Tinggal memasang kordennya saja,” suara bapak Dio tenang sembari memandangi jendela besar-besar di salah satu sisi dinding,”Kamu cuci tangan sana, nanti papa pesenin pizza kesukaanmu,” ujarnya ke Dio dengan senyuman terimakasih atas bantuan anaknya.
Sebenarnya Dio masih penasaran dengan ruang arsip. Tapi pizza di saat lapar sepertinya sesuatu yang lebih diharapkannya. Dan bapaknya adalah orang yang selalu dia banggakan.
***
Dio melahap pizza yang ada di tangannya. Dia dan bapaknya duduk santai berhadapan di sebuah gazebo yang didirikan bapaknya di tengah taman, tepat di depan ruang kerja.
“Besok kamu masuk jam tujuh kan,” tanya bapak Dio sembari mengambil satu pizza lagi.
“Jam setengah tujuh sih Pa… Ada Upacara,” jawab Dio.