Angin sore semilir menerpa wajah Dio. Dio berjalan menyusuri jalan kompleks. Rumah-rumah yang Dio lewati, hampir semua model lama. Ibu Dio pernah cerita kalau penghuni awal kompleks ini adalah orang-orang lama. Sekarang mereka kebanyakan sudah pensiun. Anak-anak mereka sudah banyak yang bekerja, menikah dan pindah ke tempat lain. Cuma anak Pak RT saja sisa anak seumurannya disini. Atau juga anak Bu Darni. Dio hanya menduga.
Dio sampai di depan lapangan basket. Lapangan yang sudah tidak terurus. Dan disana, seorang anak sedang memainkan bola basketnya. Sepedanya tergeletak tak jauh dari situ. Dio tahu itu anak Pak RT. Anak itu berhenti memainkan bolanya begitu tahu Dio berjalan ke arahnya.
“Dio ya?” tanya anak itu datar. Bola basket terkempit di keteknya.
“Iya…” jawab Dio. Dia tidak tahu berkata apa. Dio lupa nama anak ini. Dia hanya berusaha mengulurkan tangan duluan.
“Ziko…” sambil lalu anak itu menyebut namanya menyambut tangan Dio. Lalu dia mulai memainkan lagi bola basketnya.
Neo hanya berdiri melihat Ziko main basket sendiri. Anak itu men-drible bola seolah pemain kelas dunia dan memasukkannya ke dalam keranjang. Lalu dia menghampiri Dio.
“Kamu daftar SMA favorit kan?” tanya Ziko sambil masih memainkan bolanya,
“Iya…” jawab Dio singkat.
“Dapet kelas berapa?”
“Kelas 10-13…”
“O, kita sebelahan. Aku di kelas 10-12."
Lalu Ziko men-drible lagi bolanya dan memasukkannya ke keranjang. Setelah itu dia oper bola itu ke Dio. Dio merasa ini gilirannya. Dia berusaha memainkan bola sekedar menikmati sore saja, lalu memasukkannya ke keranjang. Berdua mereka pun mulai terlibat permainan basket versi dua orang. Sampai satu waktu, Ziko menahan bolanya. Lalu lama diam seperti berpikir.
“Boleh nanya nggak sama kamu?” tanya Ziko spontan. Kali ini wajahnya serius.
“Boleh…” jawab Dio. Dia pilih ngobrol daripada keringetan main basket terus.
“Kamu semenjak menempati rumahmu ada kejadian aneh nggak, kayak kejadian yang serem-serem gitu?” tanya Ziko lagi.
“Maksudnya?…” Dio belum tahu arah pembicaraan Ziko.
“Dulu rumah itu katanya angker, udah lama nggak ditempatin sampai rusak,” jawab Ziko.
“O, gitu ya?” tanya Dio singkat. Lebih dari rasa penasaran, sebenarnya dia ingin ngobrol banyak saja sama Ziko.