My Family Secret

Mohamad Novianto
Chapter #4

Dara Kakak Dio

Malam ini begitu istimewa. Malam Jumat, bukan malam Minggu. Tidak ada momen yang memang perlu dirayakan. Tapi Malam ini orang tua Dio sedang tidak ada kesibukan di luar. Ibu Dio sengaja memasak masakan khusus. Dio dan keluarganya sedang duduk di depan meja makan menikmati makanan spesial buat mereka.

Bapak Dio sering bertanya tentang kegiatan sekolah pada anak-anaknya. Tapi Neo perhatikan, hanya Dara yang sering ditanya. Dio dan Dea cuma ditanya sekali dan memang topiknya tidak menarik. Terlebih Dara memang pribadi yang menyenangkan. Dio tidak keberatan, karena Dara membuat suasana makan malam keluarganya lebih menyenangkan. Bahkan Dea yang biasanya susah makan, kini lahap mengambil lauk yang ada di depannya.

“Jadi kapan kamu mulai latihan buat kompetisi,” tanya Ibu Dio pada Dara.

“Sebenarnya mereka udah lama latihan Ma. Dara gabung gantiin vokalis yang lama di sekolahan, Kata pelatihnya, Bang Billy, suara Dara lebih cocok…,” jawab Dara antusias.

“Si Bang Billy ini cepet banget pilih kamu ya…” Bapak Dio ikut berkomentar.

“Bang Billy kan pernah lihat Dara waktu ikut festival nyanyi di Solo…” jawab Dara.

“Emang pernah juara, band sekolah kamu ini?” tanya Ibu Dio penasaran.

“Band sekolah kita udah terkenal Ma… Juara terus tiga tahun berturut-turut. Gitarisnya, Reno, jago banget. Dia selalu jadi gitaris terbaik…:”

Dio sudah lihat Reno di sekolah. Idola semua murid perempuan. Ke sekolah bawa mobil sendiri. Dan Dio tahu, Dara sudah mulai jadi idola semua murid laki-laki di sekolah.

“Ma, kayaknya kita musti ada satu mobil lagi deh… Biar kalau pas latihan pulang malam, Dara bisa pakai,” pinta Dara dengan senyum manisnya.

Ibu Dio memandangi suaminya. Dio bisa melihat dari sorot mata bapaknya. Bapaknya akan mengiyakan permintaan Dara.

“Dara… Biar mama atau papa aja yang jemput kamu…” kata Ibu Dio,”Nanti kalau kamu udah kuliah, baru mama sama papa beliin khusus buat kamu…”

“Ntar mama sama papa capek nggak?” tanya Dara manja,”Mama sama papa kan udah sibuk banget…”

“Nggak… Mama sama papa nggak capek,” jawab ibu Dio bijak,” Papa akan selalu siap buat anaknya yang paling cantik.”

 

***

 

Dio sudah beranjak ke kasurnya. Buku-buku yang akan dibawa besok sudah siap di dalam tas sekolahnya. Sejenak dia memandangi langit-langit kamarnya. Sudah seminggu ini dia tidak melihat Nela saat dia di lapangan basket bersama Ziko. Entah kenapa Dio tidak bisa melupakan tatapan mata itu.

Saat kantuk hendak menghantarkannya tidur, Dio mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Dio membuka tirai jendela kamarnya. Dara baru pulang latihan diantar Reno. Tapi ini sudah jam satu malam. Sudah dua kali Dara diantar Reno. Tapi kemarin Dara pulang jam sepuluh malam. Reno sempat berpamitan dengan Ibu Dio dan ngobrol sebentar. Dua hari ini bapak dan ibu Dio sedang di jakarta untuk urusan bisnis.

Dio masih bisa melihat Reno mengantar Dara sampai gerbang. Dara sudah menutup pagar, tapi sepertinya mereka enggan untuk berpisah. Walau mereka terpisah pagar, Reno bisa memegang tangan Dara. Dio melihat Dara begitu berbunga-bunga mendengar apa yang diucapkan Reno. Wajah mereka pun sudah saling berdekatan. Dan mereka berciuman. Cukup lama. Sampai Dio menundukkan kepala. Saat Reno balik ke mobilnya, Dara tidak pernah melepaskan pandangannya pada Reno. Sampai Reno sudah tidak disana pun, Dara masih di depan pagar. Dio bisa melihat Dara tersenyum-senyum sendiri sambil memegangi dada dan bibirnya.

 

***

 

Malam Jumat, Ibu Dio membuat masakan khusus lagi buat makan malam. Suasana ceria pun kembali hadir di meja makan. Tapi malam ini ada sesuatu yang mengganggu pikiran Dio. Tadi sore di lapangan, Ziko cerita kalau sudah seminggu lebih Nela kabur dari rumahnya. Sedikit banyak Dio berusaha menyimak pembicaraan keluarganya. Karena malam Minggu nanti Dea sendirian di rumah. Dio ada acara Persami di sekolahnya. Bapak Ibu Dio harus ke Jakarta lagi untuk urusan bisnis. Sedang Dara ada acara ulang tahun teman sebangkunya, Gaby. Sementara sampai sekarang mereka belum dapat pembantu.

Lihat selengkapnya