My Family Secret

Mohamad Novianto
Chapter #5

Dea Adik Dio

“Kamu pernah kepikiran nggak, kalau Dea banyak keanehan,” tanya Dara spontan pada Dio.

“Mmm, nggak terlalu sih,” jawab Dio polos.

“Gimana sih kamu. Itu kalungnya Dea dari kecil nggak pernah dicopot. Mama marahnya kayak gimana kemarin sama aku gara-gara kalung itu aku copot.”

“Iya sih, aneh juga ya…”

“Inget nggak kamu, mama sering sakit-sakitan waktu mengandung Dea. Terus waktu Dea lahir, mama sampai masuk ICU.”

“Iya…”

“Waktu Dea lahir kan heboh banget. Hujan deres banget sampai airnya masuk ke rumah sakit. Terus lampu sampai mati.

“Mmm, aku agak lupa.”

“Dea itu kan suka menyendiri. Aku nggak pernah lihat Dea main sama temen-temennya. Kerjaannya di kamar mulu.

Dio diam. Dia jadi ingat Nela. Anaknya aneh. Dan sekarang dia kabur dari rumah. Tiba-tiba Ibu Dio muncul di pintu.

“Lho Dio… Bukannya kamu istirahat. Ntar kamu sakit…” Ibu Dio terlihat khawatir melihat Dio malah ngobrol di kamar Dara.

“Iya Ma… Ini Dio mau istirahat,” Cepat-cepat Dio melangkahkan kakinya keluar kamar Dara. Tapi dari luar, Dio masih dengar ibunya minta maaf pada Dara karena sudah memarahinya kemarin. Dara memang tetap anak kesayangan orang tuanya.

 

***

 

Sore tadi orangtua Dio berangkat ke jakarta. Dio terpaksa mengantar makan malam Dea ke kamarnya. Dea tidak mau turun waktu diajak makan bersama Dio dan Dara. Dio masuk kamar Dea, meletakkan makanan di meja. Dea masih duduk di lantai. Masih tak berhenti mencorat-coret buku gambarnya.

“Dea ini makanan kamu…” Dio berusaha menegur. Tapi Dea masih tak mau berhenti dengan buku gambarnya. Dio pun duduk di hadapan Dea.

“Dea kenapa kamu nggak makan? Kamu nggak laper?” Dio mencoba membuka pembicaraan.

Dea masih tidak menjawab.

“Kenapa Dea? Mau cerita sama aku?” Dio berusaha melembutkan suaranya.

Dea menatap Dio sejenak. Dia melihat ketulusan di wajah kakak laki-lakinya ini.

“Kak Dara benci sama aku,” kata Dea singkat. Lalu dia menggambar lagi.

Dio tidak menyangka Dea berkata begitu. Tapi mengingat kejadian kemarin malam, Dio bisa mengerti. Dan Dio melihat kalung Dea masih melingkar di lehernya.

“Kak Dara nggak benci sama kamu, Dea,” Dio berusaha menghibur adiknya.

Lihat selengkapnya