My Family Secret

Mohamad Novianto
Chapter #6

Nela

Sore ini Dio pergi ke lapangan basket. Tidak seperti biasanya, hari ini Dio berangkat lebih awal. Dia sudah berniat mampir ke rumah Nela dulu. Rencananya sudah dia pikirkan matang-matang dari tadi malam. Bahkan kata-kata untuk berbicara dengan Nela sudah dia rancang.

Sampai di rumah Nela, pelan Dio membuka pagar yang tidak terkunci. Dio melihat rumah Nela tidak terawat. Lalu Dio mengetuk pintu ruang tamu pelan. Tapi sudah lima kali tidak ada jawaban. Agak ragu, Dio pun beranjak meninggalkan rumah Nela.

Di lapangan Dio hanya duduk di pembatas pagar. Dio berusaha menghubungi Ziko, karena Ziko belum datang. Ziko bilang, dia agak telat karena sedang disuruh mengambil barang dagangan dari agen dengan mobil pickup bapaknya. Tapi saat mematikan ponselnya, ada seseorang yang telah berdiri di sebelah Dio.

“Nela?…” Dio kelepasan menyebut nama saking gugupnya. Dia masih terkesiap melihat tatapan mata itu.

“Kamu tahu namaku?” tanya anak perempuan itu datar. Dia masih berdiri kaku di sebelah Dio. Tudung jaket menutup kepalanya.

“Eeee, Iya…. Ziko yang ngasih tahu,” Dio berusaha menata ucapannya.

Anak perempuan itu masih menatapnya. Tapi ada sedikit senyum tersungging di bibirnya.

“Eeee… Duduk sini…” Dio menggeser duduknya, mempersilahkan Nela duduk di sebelahnya. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan. Segala kata-kata yang dia rancang sudah berantakan di otaknya.

Nela pun duduk di sebelah Dio. Untuk sesaat mereka saling diam.

“Namaku Dio,” Dio mengulurkan tangannya, mencoba memecah kebisuan.

“Nela…” Nela menyambut tangan Dio. Dan Dio sudah tahu namanya.

“Kamu sendirian di rumah?” tanya Dio berusaha membuka pembicaraan.

Nela hanya mengangguk. Lalu dia mulai memandangi rumahnya dari lapangan. Dio sempat bingung untuk mengajak bicara Nela.

“Banyak sesuatu di rumahmu,” suara Nela pelan. Pandangannya tertunduk ke bawah.

“Maksudnya…” Dio tidak mengerti. Tapi raut wajah Nela terlihat dekat olehnya dari samping.

“Mereka bergantian menghuni rumah itu,” Kini pandangan Nela menerawang ke depan.

“Maksudnya hantu yang menghuni rumahku?...” Dio seperti meminta penjelasan.

Nela memandangi Dio. Senyum kecilnya lepas melihat kepolosan anak laki-laki di sebelahnya.

“Iya begitu… Setiap yang tinggal disitu punya bawaan sendiri-sendiri…” Nela menjelaskan.

Dio masih bingung memandangi Nela. Nela pun tertawa melihat raut muka Dio.

Lama Nela tersenyum-senyum memandangi Dio. Dan Dio merasa ini hari terindahnya karena begitu dekatnya wajah dengan tatapan itu di depannya.

“Mmm… Aku sudah dengar cerita dari Ziko juga…” Dio mencoba untuk mengimbangi pembicaraan Nela,” katanya dulu ada pohon besar yang ada penghuninya tinggi besar… Terus di sungai sebelah itu banyak kunti mandi kalau malam…”

“Itu hanya bagian kecil yang ada di sekitar rumahmu…” wajah Nela kini serius, ”Akhir-akhir ini banyak yang mengincar rumahmu…”

“Mengincar?... Dari mana?...” Dio bertambah bingung.

“Tapi di rumahmu juga….” Nela mengalihkan pandangannya. Dio tahu, Nela sedang memandang ke arah rumahnya.

Tapi saat Dio menunggu Nela dengan segala kebingungannya, dari ujung lapangan terlihat Ziko berjalan mendekati mereka. Nela pun cepat-cepat beranjak meninggalkan Dio.

“Nela!” Dio berusaha mengejar Nela yang berjalan cepat menuju rumahnya.

Tapi Nela tidak mau berhenti. Langkahnya malah bertambah cepat.

“Nela!... Tunggu!...,” suara Dio lebih keras kini.

Sesaat Nela berhenti dan menoleh ke arah Dio.

“Nela… Boleh aku minta nomor HP kamu,” kata Dio.

“Berapa nomor HP-mu?” tanya Nela cepat.

Neo mengucapkan nomor ponselnya. Sebentar Nela berusaha mengingat. Lalu dia meneruskan langkahnya lagi menuju ke rumahnya. Dio hanya memandangi Nela sampai dia masuk rumah.

“Kayaknya dia naksir kamu tuh…” Suara Ziko dari belakang menggoda Dio.

Tapi Dio masih diam memandangi rumah Nela. Hari ini hari spesial buat Dio bisa bertemu Nela. Tapi kini semakin banyak pertanyaan menumpuk di kepalanya.

 

***

 

Dio sudah rebah di kasurnya. Sudah jam satu malam, matanya tak bisa terpejam. Ponselnya tergeletak dekat bantal. Sesuatu sedang dia tunggu. Tapi akhirnya dia putuskan untuk tidur, sampai ada notifikasi pesan muncul di ponselnya.

Nela : Dio ini Nela

Spontan Dio duduk, berusaha mencari kata-kata untuk membalas pesan.

Dio : Hai Nela, belum tidur?

Nela : Belum, kamu belum tidur?

Dio : Belum, lagi banyak tugas

Dio bohong supaya tidak ketahuan lagi tungguin pesan dari Nela.

Nela : Tugas sekolah?

Dio : Iya, Nela kenapa kamu nggak mau sekolah?

Lama Nela tidak menjawab. Dio jadi merasa bersalah.

Dio : Nela maaf ya kalau pertanyaanku menyinggung perasaan kamu

Nela : Nggak papa, kamu itu orang yang baik.

Dio lega Nela tidak marah. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak asal menulis pesan.

Nela : Banyak yang nggak suka sama aku di sekolah

Dio : Biasalah itu

Nela : Cuma satu yang orangnya pengertian

Dio : Siapa?

Nela : Pak Riza

Dio : Pak Riza guru agama?

Nela : Iya

Dio : Aku juga suka sama Pak Riza, orangnya friendly

Lihat selengkapnya