My Family Secret

Mohamad Novianto
Chapter #7

Hilangnya Dea

Sore ini guru les piano Dea akan datang ke rumah. Dio melihat Dea begitu berseri-seri semenjak pulang sekolah. Dea makan banyak. Memakai baju yang paling disukai. Dan kalung Dea masih melingkar di lehernya.

Sudah tiga hari ini ada pembantu bekerja di rumah Dio. Seorang ibu muda. Sebelum berangkat ke Jakarta, Ibu Dio sudah menginstruksikan semua pekerjaannya. Dan Dio senang karena pembantunya bisa dekat dengan Dea.

Dara belum pulang karena ada latihan band di sekolah. Dan hari ini jadwal orangtua Dio pulang dari Jakarta. Dio sengaja duduk di ruang tamu untuk menunggu guru les Dea. Tapi dari tadi Dio sibuk dengan poselnya. Karena sudah tiga kali panggilannya ke Nela tidak diangkat. Pesannya pun belum dibalas. Padahal notifikasinya terlihat sudah dibaca. Dio jadi bertanya-tanya. Ingin sekali dia datang ke rumah Nela.

Tapi sebelum memutuskan sesuatu, guru les Dea datang. Seorang ibu yang sudah cukup tua. Dio pun mengantarkannya ke lantai dua menemui Dea. Dio bersukur ibu itu cepat dekat dengan Dea. Di sebelah gurunya, Dea sudah melantunkan nada-nada lagu klasik dari pianonya. Lalu ponsel Dio berdering di saku celananya. Dio cepat-cepat turun ke lantai satu, berharap itu dari Nela. Waktu Dio angkat ponsel, ternyata dari ibunya.

“Dio, kamu dimana?” suara ibu Dio terdengar di ponsel begitu diangkat.

“Di rumah Ma,” jawab Dio. Tak biasanya ibunya bicara terburu-buru.

“Dea gimana, sudah datang kan guru lesnya?” tanya ibu Dio.

“Dea udah mulai latihan,” jawab Dio. Bunyi musik klasik masih terdengar dari lantai dua.

“Dara dimana?” tanya ibu Dio

“Dara masih di sekolah, latihan band. Ntar pulangnya paling dia dianter Reno,” Dio berusaha agar ibunya tidak terlalu khawatir.

“Kamu jagain adikmu dulu ya… Mama sama papa udah boarding. Dua jam lagi paling sampai.”

“Iya Ma…”

Dio menutup ponselnya. Tapi dia merasa tetap harus pergi ke rumah Nela. Mungkin Dio bisa curi waktu sebentar saja ke rumah Nela. Toh di rumah mereka sekarang ada pembantu. Dio pun ingin memastikan pembantunya dulu. Saat berjalan ke ruang belakang, ada yang aneh Dio rasakan. Tiba-tiba suara angin begitu kencang terdengar. Dan di taman belakang, terlihat tanaman bergoyang keras terterpa angin. Sampai bangku-bangku kecil yang ada di gazebo jatuh bergulingan. Dio menoleh ke jendela depan. Tidak ada tanda-tanda angin menerpa tanaman di taman depan.

Dio berjalan ke gazebo dengan terheran-heran. Sudah tidak ada angin lagi. Yang tersisa hanya bangku-bangku bergeletakan di atas rumput. Pembantu Dio pun terlihat cepat-cepat berjalan ke taman. Tapi Dio perhatikan, pembantunya berjalan agak sempoyongan.

“Tadi angin gede banget Mas Dio,” kata pembantu Dio sembari mengangkat bangku yang bergeletakan.

“Iya Bi, aneh sekali,” ujar Dio sambil membantu mengambili bangku.

“Mau hujan kali ya,” ujar pembantu Dio. Suaranya terdengar agak serak.

Dio menengadah. Langit begitu bersih, tidak ada mendung. Dan Dio melihat wajah pembantunya pucat. Ada bulir-bulir keringat di dahinya.

“Bibi sakit ya,” tanya Dio.

“Iya… Dari tadi, kayaknya masuk angin ini.”

“Bibi istirahat… Itu di kotak obat ambil aja yang Bibi perlu.”

“Iya Mas Dio. Ini mau bikinin minuman dulu buat gurunya Mbak Dea. Mama tadi telpon suruh bikinin sandwich,”

“Iya Bi… Aku boleh minta tolong nggak?”

“Kenapa Mas Dio?”

“Tolong jagain Dea bentar aja… Aku keluar bentar. Ntar aku balik lagi.”

“Iya Mas Dio.”

Dio pun cepat-cepat berjalan keluar rumah. Di depan pagar, Dio masih dengar suara piano dari lantai dua. Tapi yang aneh, sepertinya itu bukan lagu klasik. Dio merasa, itu seperti lagu jawa. Tapi bagaimanapun, Dio ingin cepat-cepat bertemu Nela.

Dio langsung mengetuk pintu begitu masuk halaman rumah Nela. Tapi tidak ada yang menjawab. Dari jendela terlihat memang tidak ada orang di dalam. Tapi AC nya nyala. Dio pikir orang tua Nela sedang tidak di rumah. Lalu Dio mencoba mengingat apakah ada kata-katanya yang menyinggung perasaan Nela. Hingga Nela tidak mau menemuinya.

Dio melihat ke lapangan. Ziko ada disana memegang bolanya. Tapi dia hanya mematung melihat Dio dari kejauhan. Dengan setumpuk gundah, Dio memutuskan meninggalkan rumah Nela. Dia berjalan untuk menemui Ziko.

“Dio! Kayaknya kamu yang naksir deh sama Si Nela,” Ziko setengah teriak dari jauh.

Dio hanya diam, karena dia harus balik ke rumahnya.

“Zik, aku kayaknya nggak main dulu,” kata Dio walau masih berjarak dengan Ziko.

“Kenapa emang?”

“Aku musti jagain adikku,”

“Tumben… Bukannya adikmu udah gede…”

Seperinya Dio tidak perlu meladeni Ziko. Karena itu yang diperintahkan ibunya. Tapi ketika hendak melangkah balik, Dio melihat Nela keluar dari pagar rumahnya. Nela memakai jaketnya dengan tudung terpasang di kepala. Dia setengah berlari ke arah Dio.

“Dio adikmu… Kamu harus cepat pulang!” wajah Nela terlihat cemas.

Tapi bukan kata-kata Nela yang kini jadi perhatian Dio. Setelah dekat, Dio bisa melihat wajah Nela lembam, seperti bekas dipukul.

“Dio cepat pulang!... Adkmu!...” suara Nela kini seperti orang histeris.

Melihat Nela berteriak seperti itu, Dio jadi mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari balik ke rumahnya. Sampai di depan rumahnya, Dio sudah tidak mendengar suara piano. Kecemasan mulai memenuhi pikirannya.

Dio terus berlari naik ke lantai dua. Dan disana tidak ada Dea. Dea tidak ada di bangku pianonya. Malah guru les Dea tergeletak tak jauh dari piano. Dengan cemas, Dio pelan mendekati ibu setengah tua itu. Dio lega melihat ibu itu mulai bergerak. Dia bantu ibu itu duduk.

“Ibu nggak apa-apa?... Ibu… Dea kemana?” Dea yang pertama Dio pikirkan sekarang.

Ibu itu seperti orang bingung. Dia memandang sekeliling. Setelah sepenuhnya sadar, wajahnya jadi ketakutan. Lalu buru-buru dia mengambil tasnya, melangkah cepat-cepat turun ke lantai satu. Langkahnya terdengar keluar rumah.

Dio tak tahu apa yang terjadi dengan ibu itu, tapi Dea yang dia cemaskan. Dio berteriak memanggil Dea. Dia periksa semua ruangan di lantai dua. Tapi dia tidak menemukan Dea. Lalu Dio lihat di bawah kursi piano. Kalung Dea tergeletak disana.

Lihat selengkapnya