Sudah sepuluh kali Dio mengetuk pintu rumah Nela. Dio tahu Nela ada di dalam. Mesin AC di luar masih berdengung. Seperti yang sudah Dio rencanakan, dia akan duduk di teras sampai Nela keluar. Sudah hampir satu jam Dio menunggu. Dan Dio melihat Ziko baru saja menyandarkan sepedanya di sudut lapangan. Lalu Ziko hanya berdiri menenteng bolanya begitu tahu Dio duduk seperti orang linglung di teras Nela. Ziko mengeluarkan ponselnya menelpon Dio.
“Beneran sampai segitunya kamu naksir Si Nela?” suara Ziko di ponsel Dio terdengar berseloroh.
“Zik, kayaknya hari ini aku nggak main dulu,” Dio tidak memperdulikan perkataan Ziko.
“Udahlah, anaknya juga nggak keluar-keluar tuh… Ngapain juga… Mending main sini…”
“Zik, ini penting. Soalnya ada hubungannya sama kejadian adikku kemarin,” Lalu Dio mematikan ponselnya.
Ziko pun terlihat mulai sibuk sendiri dengan bolanya di lapangan. Dan Dio sudah bertekad untuk bertahan di posisi duduknya sekarang. Hingga sepuluh menit kemudian, pintu ruang tamu terbuka. Tapi Dio tunggu tidak ada yang keluar. Pelan Dio beranjak masuk ke ruang tamu. Di sana Nela sudah duduk di sebuah sofa. Nela memakai tudung jaketnya. Pandangannya tertumbuk ke lantai. Dio pun duduk di sofa sebelah Nela.
“Nela kamu nggak apa-apa?” tanya Dio karena dari tadi Nela hanya diam.
Beberapa saat, Nela masih diam. Walau Nela berusaha menutupi wajahnya dengan tudung jaket, Dio masih bisa melihat ada lembam di pipi kiri Nela.
“Kenapa kamu mau berteman sama aku?” Suara Nela datar. Pandangannya kini menerawang ke depan.
“Lho memang kenapa?” Spontan Dio tanya balik.
“Aku nggak pantas jadi teman kamu…” jawab Nela lirih.
“Kenapa bisa begitu?... Mau pantas apa nggak pantas terserah aku,” Dio agak menaikkan suaranya.
Nela pun tak bisa menahan senyumnya. Tapi kemudian senyumnya berubah sinis.
“Suatu saat kamu pasti akan benci aku…” Nela sedikit melirik ke Dio.
Tapi Dio hanya diam memandangi wajah anak perempuan di sebelahnya. Memandangi tatapan mata yang selalu memenuhi kepalanya. Pelan Dio mencoba membuka tudung jaket Nela. Tapi seketika Nela menahannya. Dio menatap dalam mata Nela. Dan Nela pun pasrah tudung jaketnya terbuka. Kini Dio bisa melihat seluruh wajah Nela. Rambut Nela yang tebal dibiarkan tergerai. Dio menyingkap rambut Nela yang menutup pipi kirinya. Lembam bekas memar jelas terlihat disana. Nela hanya menatap Dio. Kini dia pasrah terlihat seperti itu.
“Siapa yang melakukannya?” tanya Dio pelan.
“Ini bukan apa-apa…,” jawab Nela lirih.
Dio semakin dalam menatap Nela.
“Papaku yang melakukannya,” jawab Nela pasrah.
“Kita harus lapor polisi…” kata Dio spontan. Dia tidak mengatakan kalau kakaknya, punya teman yang bapaknya pejabat polisi.
“Papaku udah minta maaf…”
“Ya, tapi tetep kita harus laporin… Ntar kalau dia begitu lagi gimana?”
“Salah aku juga sih… Aku dorong dia sampai berdarah kepalanya kena meja… Soalnya dia udah mulai bentak-bentak mamaku… Mereka bertengkar gara-gara aku.”
Lama Dio menatap Nela. Sepertinya masalah Nela sudah terlalu pelik untuk dia pikirkan. Nela malah tersenyum melihat muka Dio yang mulai kebingungan harus bagaimana.
“Gimana keadaan adik kamu?” tanya Nela pelan mengalihkan pembicaraan.
“Adikku baik-baik saja… Maksudku aku… Aku nggak tahu kejadian kemarin itu bisa seperti itu…” Dio sampai bingung untuk merangkai kata.
“Ada yang menculik adikmu...”
“Siapa?”
“Mereka…”
“Mereka siapa?”
“Mereka yang ingin mencelakai keluargamu…”
“Mereka itu mahluk hitam, seperti bayangan, matanya merah, terus matanya ada tiga?”
“Iya, mereka yang dulu berkuasa di rumahmu…”
“Berkuasa di rumahku?”
“Iya, mereka sisa-sisa yang pernah disingkirkan dari rumahmu…”
“Siapa yang menyingkirkan mereka?”