My Family Secret

Mohamad Novianto
Chapter #9

Proyek Orang Tua Dio

Siang ini bapak ibu Dio ada di rumah. Dio berusaha cepat menyelesaikan makan siangnya. Dari tadi dia bolak-balik melirik ke jendela. Dari jendela terlihat pintu ruang kerja orang tuanya terbuka. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan orang tuanya. Ini kesempatan Dio masuk kesana. Sesuatu telah Dio lihat disana. Sesuatu ingin Dio buktikan disana.

Dio mengetuk pintu sebelum masuk. Bapak ibu Dio sedang di depan laptop mendiskusikan sesuatu. Sejenak mereka memperhatikan anak laki-lakinya yang berdiri kaku di depan pintu.

“Ada apa Dio?” Tanya ibu Dio lembut.

“Eee, ini Ma… Dio mau tanya sesuatu sama mama, sama papa,” Dio sudah rancang kata-katanya,” Ini untuk tugas sekolah…”

“Tugas apaan?” Tanya ibu Dio lagi.

“Iya, ini tentang pekerjaan orang tua masing-masing…” Dio berusaha menata kata-katanya senormal mungkin.

Lalu Ibu Dio mempersilahkan Dio duduk di depan meja mereka. Dio pun duduk di bangku yang empuk. Sekilas Dio perhatikan ruang keja orang tuanya layaknya kantor yang cozy. Dio merasa suasananya seperti di café. Tidak ada sedikit gambaran yang ada hubungannya dengan apa yang Dio lihat malam itu.

“Mau tanya apaan Dio?” Ibu Dio tersenyum melihat anaknya terbengong dengan suasana ruang kerja mereka.

“Iya Ma… Ini tugas menulis… Eee, maksudnya untuk menjelaskan apa saja yang dilakukan orang tua kita di pekerjaannya,” kata Dio agak terbata.

Bapak Dio pun mengerti. Dengan sabar dia menjelaskan dengan rinci tentang pekerjaan mereka sebagai arsitek dan insinyur sipil. Penjelasan bapak Dio sangat jelas membuat Dio mudah mengerti apa yang sehari-hari dilakukan orang tuanya. Juga tentang rumah mereka ini dibangun. Lalu Dio sempat melirik ke pintu yang ada tulisan RUANG ARSIP.

“Gimana Dio udah ngerti kan?” tanya bapak Dio.

“Iya Pa… Ngerti Pa.”

“Ada pertanyaan lagi?...”

“Sementara belum ada sih Pa… Tapi mmm… Dio boleh foto-foto kan? Soalnya disuruh melampirkan juga foto-foto kantornya.”

“Iya, boleh, boleh.”

Dio pun mulai mengambil foto dengan ponselnya. Dari meja kerja bapak ibunya, sampai gambar-gambar arsitektur yang dipajang berderet di dinding. Lalu Dio mengambil foto salah satu meja di sudut yang ada printernya.

“Tunggu Dio!” Bapak Dio buru-buru merapikan kertas-kertas ukuran besar hasil print out. “Yang ini jangan difoto dulu. Nggak enak sama klien. Soalnya kerjaannya belum selesai. Lalu bapak Dio menggulung lembaran-lembaran itu dan menyimpannya di salah satu lemari.

Dio pun mengerti. Tapi dari tadi perhatiannya selalu tertuju pada pintu yang bertuliskan RUANG ARSIP.

“Pa…Dio boleh foto juga ruangan itu kan?...” Dio menunjuk pintu yang ada tulisan RUANG ARSIP. Perasaannya berdebar menunggu jawaban dari bapaknya.

“O iya… Boleh, boleh,” jawab Bapak Dio yang langsung membuka pintu yang sudah tidak terkunci itu.

Dio pun masuk ruangan itu. Ruangan yang lebih kecil. Hanya ada satu meja dan kursi. Selebihnya rak dan lemari, penuh dengan kumpulan arsip. Dio pun mulai mengambil foto ruang itu. Dan di sudut ruangan, ada satu lemari kecil. Di atasnya ada satu vas karangan bunga.

Sebelum keluar Dio berterimakasih pada bapak ibunya. Dio merasa lega, adegan rekayasanya untuk masuk ruangan itu berhasil. Tapi dia tidak menemukan sesuatu yang ganjil. Semuanya terlihat normal. Seakan tidak ada kaitan dengan yang telah terjadi malam itu bersama Nela.

 

***

 

Di kamarnya, Dio sudah tidak sabar memberitahu Nela. Dio Whatsapp ke Nela dan mengirim semua fotonya tadi.

Nela : Bagus banget ruang keja papa mama kamu

Dio : Iya, emang, tapi nggak ada yang kelihatan aneh

Lalu Nela mengirim ulang salah satu foto ruang arsip dan menuliskan caption.

Nela : Yang ini ruang apa?

Dio : Itu ruang arsip

Nela mengirim ulang lagi satu foto yang dikirim Dio. Foto lemari kecil di sudut ruangan dengan vas karangan bunga di atasnya.

Nela : Ini yang aku lihat waktu di depan pintu

Dio : Itu lemari di ruang arsip

Nela : Energinya asalnya dari situ

Lihat selengkapnya