My Family Secret

Mohamad Novianto
Chapter #10

Pelecehan Dara

Walau kepalanya sudah penuh dengan segudang pertanyaan, Dio berpikir ini kesempatannya untuk bisa mengungkap apa yang terjadi dengan Dea. Dio pun mengambil ponselnya, mencari foto yang dia ambil di kamar Dea. Foto coretan pensil di buku gambar Dea.

“Dea, bener kamu lihat ini waktu di rumah temennya Kak Dara?” Dio menunjukkan foto yang ada di ponselnya.

Sejenak Dea terkejut, Dio punya foto gambarnya. Tapi kini Dea sudah percaya pada kakak laki-lakinya ini.

“Iya, Dea lihat di dapur…” kata Dea pelan sembari mencoba mengingat kejadian di acara teman Dara.

Dio sempat menelan ludah, bersiap untuk mendengar cerita Dea lagi. Sementara Nela mengambil ponsel Dio, mengamati foto yang ada disana.

“Terus gimana ceritanya?” suara Dio sedikit bergetar.

“Mereka tinggal di satu rumah… Waktu itu mereka lagi marah-marah…” Dea mencoba mengingat-ingat lagi.

“Lagi marah-marah?” tanya Dio.

“Kata yang badannya berbulu, dia lagi nagih janji…”

“Janji apaan?” Dio tidak mengerti arah cerita Dea kemana.

“Dea nggak tahu… Katanya janjinya tidak ditepati…”

Dio pun semakin tidak mengerti.

“Dea, aku mau tanya boleh nggak?” Dengan suara pelan, Nela menyela.

Dea hanya mengangguk. Karena Dea percaya Dio, Dea juga percaya Nela, teman Dio.

“Waktu kamu lihat mereka, kamu sendirian atau ada siapa lagi di dapur?” Tanya Nela pelan tapi serius.

“Kalau nggak salah… Ada Kak Reno… Dia lagi ngambil botol minuman…,” jawab Dea.

“Cuman ada yang namanya Reno ini?” Nela minta kejelasan.

Dea diam sejenak,” Iya, cuma ada Dea sama Kak Reno…”

Wajah Nela makin serius. Sesuatu ada dalam pikirannya. Dan Dio hanya memandangi Nela dengan tampang bingung.

“Kak Dio, Dea ngantuk…” ujar Dea. Matanya sudah memerah.

“Ya udah gih, sana tidur,” kata Dio memutuskan.

“Tapi Dea nggak mau sendirian… Dea mau tidur sini…” muka Dea memelas.

Dio masih memikirkan permintaan Dea.

“Dio, boleh kan aku tidur sini juga,” Nela menyela, ”Ntar aku tidur sama Dea.

Dio mengangguk-angguk, ”ya udah, kalian nanti tidur di kasur, aku di bawah.”

Dio mengingatkan mereka untuk bangun jam empat, agar tidak ketahuan bapak ibu Dio. Beberapa menit berlalu, Dio belum bisa tidur. Dio lihat di kasur, Dea dan Nela sudah terlelap di bawah satu selimut. Mereka tidur berhadap-hadapan. Lama Dio memikirkan semua cerita Dea. Lalu untuk apa dia harus memaksa memahami sesuatu yang tidak bisa dia jangkau. Mungkin dia terlalu berlebihan mencurigai orang tuanya. Atau akan lebih baik jika dia terima saja semua apa adanya.

Dia lihat lagi Dea di sebelah Nela. Seandainya Dea bisa fokus les piano. Dan tak usah merisaukan hal-hal yang terjadi dengannya. Mungkin hal itu akan lebih berguna buat Dea. Lalu dia lihat Nela yang posisi tangannya sudah mulai memeluk Dea dalam tidurnya. Mungkin bersama Dio, Nela bisa merasa punya keluarga. Lalu Dio mulai memikirkan rencana yang lebih pasti buat Dea. Dan juga buat Nela.

 

***

 

Setelah makan siang, Dio langsung menuju rumah Nela. Bapak Ibu Nela sedang di toko. Nela sudah tahu Dio akan datang. Dia memakai baju feminin.

“Dea mau les piano lagi,” kata Dio di tengah pembicaraan mereka.

“Bagus lah itu,” ujar Nela tulus.

“Aku udah bilang mama, Dea serius belajar pianonya. Udah dapat lagi guru pianonya. Minggu depan mulainya.”

“Iya mudah-mudahan nggak ada gangguan lagi.”

“Kamu yakin?”

“Tadi malam sih, aku nggak ngerasain apa-apa di rumahmu.”

Dio manggut-manggut. Dia berharap tidak ada kejadian aneh-aneh lagi di rumahnya.

“Aku juga mau belajar gitar…” ujar Dio.

“Tumben, bukannya kamu sukanya main basket?” ungkap Nela.

“Nggak juga sih… Tadi malam aku pikir, kalau aku bisa gitar, terus Dea bisa piano. Kak Dara kan vokalis. Jadi kita bisa bikin band keluarga…”

Nela tertawa lepas mendengar perkataan Dio.

“Lho kenapa?” tanya Dio. Seperti ada yang aneh.

“Nggak sih… Kamu sayang banget ya sama kakak sama adikmu…” Nela masih tersenyum memandangi Dio.

“Iya, nanti coba aku minta ajarin sama Reno temennya Kak Dara. Dia kan gitarisnya band sekolah.”

Nela mendengar nama Reno dari Dea. Ada sesuatu di dalam pikirannya tentang Reno. Tapi sepertinya dia tidak akan cerita ke Dio. Dan Dio sempat melirik jendela depan. Di seberang, terlihat Ziko baru sampai lapangan menyandarkan sepedanya.

“Kamu bisa main basket?” tanya Dio.

Nela tertawa, ”Kalau cuman masukin bola ke keranjang bisa lah… Tapi aku paling suka gambar… Mau lihat gambar aku?”

“Gambar apaan? Pasti yang serem-serem ya?” tanya Dio polos.

Nela tertawa lagi. Lalu dia ke dalam. Saat keluar Nela membawa selembar kertas gambar. Dio sudah bersiap untuk melihat gambar-gambar aneh seperti yang digambar adiknya, Dea. Tapi saat melihat gambar Nela, Dio sempat terhenyak dan terkagum-kagum. Nela menggambar Dio dan keluarganya, persis seperti yang ada di foto di meja belajarnya. Gambar sketsa pensil yang terlihat begitu realistis.

“Kapan kamu gambarnya?” tanya Dio yang masih mengagumi gambar Nela.

“Tadi, pagi-pagi waktu mau balik, aku foto dulu potret yang ada di meja belajar kamu. Sampai rumah langsung aku gambar.”

“Ini buat aku?”

“Iya… Tapi aku nggak punya figuranya.”

“Ntar aku kasih figura… Aku pasang di kamar.”

Dio menggulung gambar Nela. Sekilas dari jendela, terlihat di lapangan, Ziko sendiri memainkan bola basketnya.

Lihat selengkapnya