My Family Secret

Mohamad Novianto
Chapter #11

Rencana Jahat untuk Reno

“Apa yang akan kamu lakukan, Dio?” suara Nela pelan.

Dio masih diam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tangannya gemetar, terkepal di atas meja. Pandangannya masih nanar.

“Mending kamu istirahat Dio… Aku pulang dulu… Kalau kamu udah tenang, kita bicara lagi, ok?”

Nela sudah bersiap keluar jendela. Dia lihat lagi Dio yang masih terduduk kaku di depan mejanya. Lalu dia tinggalkan Dio sendiri. Beberapa menit kemudian Dio masih tetap di posisinya. Pikiran jahat sedang berkecamuk di otaknya.

 

***

 

Jam dinding menunjuk pukul tiga. Mata Dio belum juga terpejam. Dio pun keluar kamar. Langkahnya pelan menuju taman belakang. Di depan ruang kerja orang tuanya, lama dia berdiri. Apa yang berkecamuk di kepalanya mulai mendidihkan batinnya. Entah apa yang dilakukan di situ, Dio pun tak tahu. Perasaannya hanya mengatakan sesuatu ada di dalam sana. Dio tahu pintu ruang di depannya terkunci. Tapi emosi yang memuncak membuatnya mencoba menarik gagangnya. Hingga dia tak sadar beberapa kali dia menaikturunkan gagang itu.

“Dio kamu ngapain?” Suara Ibu Dio terdengar di belakang Dio.

Ibu Dio mengguncang pundak Dio, karena Dio masih juga menaikturunkan gagang pintu.

“Sadar Dio,” Suara ibu Dio keras tertahan. Wajahnya begitu dekat dengan anaknya.

Melihat ibunya, Dio jadi tersadar. Di belakang, Dio juga melihat bapaknya. Mereka masih memakai baju tidur.

“Dio kamu kenapa?” tanya ibu Dio lagi.

Sejenak Dio terdiam. Apa yang berkecamuk di kepalanya, susah untuk dia jelaskan.

“Nggak tahu Ma…” Dio mencoba mengarang cerita, ”Tiba-tiba Dio sadar, udah ada disini…”

Sebentar ibu Dio menoleh ke suaminya.

“Kamu tadi mungkin tidur berjalan,” kata bapak Dio dengan suara yang tetap tenang, ”Kecapekan kamu itu… Kebanyakan pikiran…”

“Iya, ini badan kamu panas,” Ibu Dio memegangi dahi anaknya, ”Kamu musti istirahat.”

Ibu Dio mengantar anak laki-lakinya ke kamar. Menyelimutinya dan memberikan obat penurun panas. Dan memang Dio merasakan badannya lemas. Sebelum ibunya keluar, Dio sempat memandangi wanita yang begitu perhatian kepadanya.

“Ma…” dengan suara lemah Dio memanggil ibunya.

“Kenapa Dio?” Ibu Dio menatap anaknya lembut.

“Gimana keadaan Kak Dara Ma…?” Walau badannya lemas, Dio berusaha mengeluarkan suaranya.

“Sepertinya kakakmu harus istirahat lebih lama… Udah kamu istirahat aja… Kamu nggak usah terlalu memikirkan hal itu.”

Barangkali kata-kata Ibu Dio benar. Tapi sudah satu jam lebih mata Dio tidak bisa terpejam. Dio tetap tidak bisa mengingkari semua kegalauannya. Mungkin bukan badannya saja sekarang yang sakit, jiwanya juga merasakan itu. Hingga pagi Dio hanya berusaha berbaring, tapi matanya tidak pernah benar-benar terpejam. Sampai ibunya memeriksanya. Suhu badan Dio tambah tinggi. Dio tidak bisa sekolah hari ini. Setelah menyiapkan sarapan bubur, ibu Dio duduk di sebelah anaknya terbaring.

“Dio dengerin Mama… Mama tahu apa yang kamu pikirkan,” suara ibu Dio lembut sembari memijit kaki anaknya yang terbalut selimut.

Dio hanya memandangi wajah ibunya. Mungkin ibunya memang sudah tahu sesuatu tentang dirinya.

“Mama hanya ingin kamu sekolah dengan baik… Pikirkan masa depan kamu… Sekarang kamu nggak usah mikir macem-macem. Semua ini yang bikin kamu sakit sekarang. Janji sama mama, kamu akan fokus ke sekolahmu Dio… Dan nggak mikir macem-macem…”

Dio masih memandangi ibunya. Sesuatu ingin dia ungkapkan ke ibunya tapi tak sanggup.

“Dio?” tanya ibu Dio lembut karena Dio belum juga menjawab.

“Iya Ma… Dio janji…” Suara lemah Dio spontan keluar dari mulutnya.

Bagaimana bisa dia tidak berjanji pada wanita yang merawat dan menyayanginya sampai saat ini.

“Satu lagi Dio… Mama minta kamu tidak terlalu banyak bergaul dengan anaknya Bu Darni. Bergaul saja sama anaknya Pak RT… Ok Dio?”

Dio hanya mengangguk pelan. Wajah Nela kini ada di pikirannya. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan tatapan mata itu. Saat ini justru Dio merasa Nelalah yang paling dia butuhkan.

Lihat selengkapnya