Malam telah larut. Hanya satu dua kendaraan yang melintas di jalanan. Dio dan Nela melangkah di gelap trotoar. Mereka memakai jaket dengan tudung kepala. Tas ransel ada di punggung mereka. Dio sudah memesan taxi dari ponselnya. Tadi siang dia mendapatkan alamat rumah Reno dari meminjam buku induk siswa di Tata Usaha. Mereka bergegas masuk taxi, begitu taxi menemukan mereka di sudut halte sepi.
Berkali-kali Dio melirik jam tangannya. Jarak rumah Reno tidak begitu jauh. Nela melirik Dio. Nela melihat Dio begitu tegang. Sebenarnya Nela juga merasakannya. Dia genggam tangan Dio. Dio pun mengeratkan genggaman tangan Nela. Seperti sebuah tekad telah mereka satukan. Mereka tidak bicara sepatah katapun. Tidak ada yang boleh tahu rencana mereka. Bahkan sopir taxi di depan. Dio dan Nela hanya memandangi jalanan malam yang mereka lewati. Sesuatu yang mungkin mustahil musti mereka lakukan malam ini.
Di pos satpam kompleks, Dio mengaku keponakan bapaknya Reno. Baru datang dari Jakarta, naik taxi dari bandara. Sepertinya satpam kompleks percaya karena Dio sengaja memakai taxi premium.
Dio dan Nela turun dari taxi. Mereka segera mengenali rumah Reno dari nomornya. Buru-buru mereka mencari tempat aman yang tak terlihat. Di bawah gelap pohon besar mereka menatap rumah Reno. Jalanan di antara rumah-rumah mewah begitu lengang. Hanya bunyi jangkrik terdengar dari taman di belakang mereka. Sesekali lolongan anjing terdengar di ujung gang.
Mata Dio Nanar memandangi rumah besar di seberang jalan. Sementara Nela sudah mulai membuka tudung jaketnya. Setelah taman luas dengan lampu-lampu malam, jauh di ujung pagar, Dio bisa melihat ada pos jaga. Pelan Nela mulai melangkah ke jalan. Dio pun mengikuti Nela di belakang. Dia tahu Nela sedang melakukan kemampuannya mendeteksi rumah Reno. Dio sempat was-was dengan pos jaga. Tapi dia lega, Nela mengambil arah berlawanan dengan pos disana. Suasana makin gelap. Dio tak tahu, kenapa pagar setinggi dua meter di sebelahnya tidak berpenerangan seperti yang lain. Hingga langkah Nela terhenti. Sepertinya mereka bertemu dengan jalan buntu. Di depan mereka ada pohon besar dan di belakangnya ada sungai yang mengalir di kompleks.
“Nela…” suara Dio setengah berbisik. Ketegangan mulai menyelimutinya karena dari tadi Nela hanya diam berdiri.
“Di sini besar sekali getarannya…” Bisik Nela.
Dio menyisirkan pandangannya diantara gelap sekitar. Dia masih melihat remang di balik pagar sebelahnya. Tak jauh dari situ ada sebuah bangunan. Walau sebagian tertutup pagar, Dio masih bisa melihat bagian jendelanya yang berbentuk segitiga seperti di gambar Dea. Belum sempat Dio memberitahu Nela, tiba-tiba angin berhembus kencang. Suara gesekan daun dari pohon di depan begitu keras terdengar. Dio sempat mundur selangkah saat di atasnya kelelawar berhamburan keluar dari gelap rimbun pohon. Kepak sayap gerombolan binatang itu riuh memecah sunyi malam. Tak berapa lama langit kembali lengang dan Dio tersadar, Nela sudah tidak ada di depannya lagi.
“Nela…” dengan suara tertahan Dio memanggil Nela. Dia menoleh kanan kiri tapi tidak ada tanda-tanda Nela di sekitar.
Dio menyalakan senter dari ponselnya, mengarahkan cahanya ke gelap sekitar. Tapi tetap dia tidak menemukan Nela. Dio melongok ke sungai di depannya. Cahaya senternya bergerak menerangi dasar sungai. Hanya permukaan sungai dangkal yang bisa Dio lihat disana. Kecemasan pun mulai menyelimuti Dio.
“Nela!” tanpa sadar Dio berteriak memanggil Nela.
Di tengah kebingungannya, Dio melihat sorot senter dari belakangnya.
“Siapa disitu!” Suara keras terdengar dari belakang.
Seorang berseragam satpam sudah berdiri di belakang Dio. Agak kurang jelas pandangan Dio karena silau cahaya senter yang mengarah padanya.
“Siapa kamu!” suara orang itu mulai terdengar galak dan dia sudah mengangkat walkie talkie-nya.
Dio tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Di tengah kebuntuan otaknya, Dio melihat orang berseragam satpam mulai berdiri gemetaran. Lalu dia berlari terbirit meninggalkan Dio. Dio merasa sesuatu di belakangnya membuat orang tadi ketakutan. Pelan Dio berbalik. Dan satu sosok tinggi besar sudah berdiri tak jauh darinya. Dengan tegang Dio menengadahkan kepala menatap sosok itu. Seluruh badannya gelap penuh bulu. Tangannya menjuntai dengan kuku panjang. Tanduk ada di kepalanya. Taringnya terlihat saat dia menyeringai.
Badan Dio kaku seolah kakinya tertancap ke tanah. Tapi dia tetap bertahan karena kini hanya Nela yang ada di kepalanya.
“Dimana Nela!” spontan Dio bersuara.
Sosok itu masih diam menatap Dio. Seringainya sudah tidak disana.
“Dimana Nela…!” Kini teriakan Dio keras sarat emosi.
Sosok itu hanya mengulurkan tangannya menunjuk ke satu arah. Dan di sana, Dio melihat Nela tergantung di ketinggian rimbun gelap pohon. Nela moranta. Badannya melayang di atas ketinggian. Tangannya seolah sedang melepaskan sesuatu yang menjerat lehernya.