My Family Secret

Mohamad Novianto
Chapter #13

Rencana Dio

Lama Dio memandangi Dea. Adik perempuannya ini masih termangu setelah mendengar apa yang Dio ucapkan. Dio sadar, adiknya masih terlalu kecil untuk melakukan sesuatu yang dia minta. Tapi Dio tidak punya pilihan. Ini demi harga diri keluarganya. Dan dia berharap tidak ada yang masuk ke kamar Dea saat ini.

“Kamu takut Dea?...” tanya Dio, karena dari tadi Dea hanya diam.

Dea menggelengkan kepala.

“Kamu sayang sama Kak Dara kan, Dea?”

Dea mengangguk.

“Kak Dio juga sayang sama Kak Dara…” ucap Dio tanpa ragu.

“Kalau Dea lakukan, ntar Kak Dara nggak sedih lagi?” tanya Dea.

Dio mengangguk pasti.

“Setelah kita lakukan ini, tidak ada lagi yang berani menyakiti Kak Dara.” Dio seperti berjanji pada dirinya sendiri.

Dea menatap Dio. Dia memang akan selalu percaya pada kakak laki-lakinya ini.

“Tapi Dea harus janji nggak cerita sama siapa-siapa…” pinta Dio.

“Sama mama papa?” tanya Dea spontan.

“Sama mama papa, Dea juga nggak usah cerita…”

“Berarti Dea bohong dong…”

“Dea nggak bohong… Justru Dea baik sama mama papa. Biar mama papa nggak terlalu khawatir memikirkan anak-anaknya. Mama sama papa kan udah sibuk kerja keras demi kita semua…”

Lama Dea menatap Dio. Sepertinya dia akan menuruti apa yang Dio rencanakan.

 

***

 

 “Aku pengen pergi dari sini Dio… Kalau nggak, aku pengen sekalian pergi dari dunia ini…” suara Dara lemah. Pandangannya masih menerawang.

Dari tadi Dio biarkan saja Dara bicara. Meski perasaan Dio campur aduk antara marah dan sedih, dia tetap sabar mendengarkan kakak perempuannya. Jusrru Dio bersyukur kakaknya masih mau bicara dengannya. Selama ini Dara hanya mengurung diri di kamar. Ini pertama kali Dio masuk ke kamar Dara setelah kejadian malam itu. Dio melihat kakaknya pucat dan kurus. Dia tidak melihat kakaknya yang dulu lagi.

“Kak Dara masih konsultasi sama psikiater?...” Hati-hati Dio bertanya.

“Percuma Dio, dia nggak akan paham…” suara Dara mendesah. Pandangannya jauh keluar jendela.

Niat Dio menjalankan rencananya makin tak terbendung. Dia merasa yang paling memahami apa yang kakaknya alami.

“Kak Dara nggak usah sedih…” kata Dio pelan,”Dio akan selalu dukung Kak Dara… Dio akan selalu jagain Kak Dara…”

Dara mulai memandangi Dio. Meski buat Dara, kata-kata Dio terlalu berlebihan, tapi ketulusan adiknya ini membuat matanya berkaca-kaca. Senyumnya pun tersungging buat adiknya. Buat Dio, sedikit senyum kakaknya sudah cukup untuk membulatkan tekad menjalankan rencananya.

“Kak Dara… aku mau tanya,” suara Dio masih hati-hati tapi serius kini.

“Tanya apaan, Dio?”

“Apa Reno pakai cincin di tangannya?”

Dara menatap Dio.

“Maaf Kak Dara… Aku cuman nanya…” Dio merasa bersalah. Pertanyaannya mungkin membuat kakaknya tidak nyaman.

Lihat selengkapnya