My Family Secret

Mohamad Novianto
Chapter #15

Hukuman Buat Dio

Langit masih gelap saat Dio turun dari taxi di depan rumahnya. Dio heran, mobil orang tuanya sudah ada di depan garasi. Rencananya baru sehari lagi orang tua Dio balik dari Jakarta. Dio cepat-cepat menyelinap taman menuju kamarnya. Tapi baru saja Dio membuka jendela, dia dapati bapak dan ibunya sudah duduk di dalam. Pelan Dio beringsut dengan perasaan tak menentu karena dia bisa melihat sebersit kemarahan di wajah orang tuanya.

“Duduk Dio!” Suara bapak Dio tegas.

Dio duduk di kasur. Biasanya ibunya yang membuka pembicaraan. Kali ini bapaknya yang memulai dengan suara berat.

“Dari mana kamu?” Tanya bapak Dio.

Dio sudah tertengkap basah. Terpaksa dia harus mengatakan apa adanya.

“Dio antar temen, Pa… Dia kabur. Soalnya sering dipukuli sama papanya…” suara Dio terbata.

“Siapa?... Anaknya Bu Darni?” Ibu Dio menimpali.

Dio mengangguk.

“Kan sudah mama bilang, Jangan bergaul dengan anak itu…” Tambah ibu Dio.

“Kamu tahu akibat kamu bergaul dengan anak itu?” Bapak Dio menyela.

Dio menelan ludah. Dia tidak berani memandang wajah bapaknya.

“Seseorang meninggal gara-gara kalian nggak tahu sebenarnya apa yang telah kalian lakukan!” suara bapak Dio meninggi.

Seketika darah Dio berdesir. Dari mana orang tuanya tahu akan hal itu. Dio langsung berpikir tentang Dea. Tapi ketakutan menghadapi orang tuanya kini lebih dari apapun di kepalanya.

“Papa dan mama selama ini sudah berusaha mendidik kalian supaya nantinya kalian jadi orang yang berhasil dengan apa yang kalian lakukan!” suara bapak Dio tegas dengan nada tinggi,” tapi kalau kamu tidak menuruti apa yang mama papa bilang, kamu tidak saja merugikan diri kamu semdiri, tapi juga keluarga kita!”

“Tapi maksud Dio mau belain Kak Dara,” spontan Dio bersuara karena dia merasa harus melakukan protes atas kata-kata bapaknya,” Dio tidak terima Kak Dara diperlakukan seperti itu!”

“Kamu kira apa yang kamu lakukan itu bisa membela kakakmu!” suara bapak Dio tambah tinggi,”Kamu justru bukan saja akan membahayakan kakakmu, tapi membahayakan semua yang ada di keluarga ini!”

“Jusru Dio tidak rela kalau ada orang yang melecehkan keluarga kita,” suara protes Dio tambah tinggi,” Apalagi mama papa tidak bisa belain Kak Dara.”

Spontan satu tamparan keras mendarat di pipi Dio. Hingga Dio jatuh tertelungkup di lantai.

“Papa, sabar!” suara ibu Dio tertahan sembari menarik tangan suaminya.

Tapi emosi bapak Dio sudah memuncak karena kelakuan anak laiki-lakinya. Dia kibaskan tangan istrinya. Lalu dia tindih badan anaknya sembari mencengkeram sebagian rambutnya.

“Jangan sekali-kali kamu ragukan apa yang mama papa lakukan untuk kalian!” suara bapak Dio meledak,” Jangan sok pintar kamu!”

Lalu bapak Dio berdiri di depan anaknya yang masih terkapar.

“Dua hari ini kamu nggak boleh keluar kamar!” Bapak Dio menentengkan tangannya,” Biar kamu bisa renungkan dan belajar dari kejadian ini… Biarin, kamu nggak sekolah dulu, nggak apa-apa!”

Bapak Dio pun keluar kamar meninggalkan anak laki-laki dan istrinya.

“Dio…” suara ibu Dio pelan sembari mengusap rambut anak-laki-lakinya.

Dio sesenggukan. Air matanya keluar karena menahan emosi. Bukan karena amarah bapaknya. Tapi karena dia merasa telah melakukan sesuatu buat keluarganya. Ibu Dio menuntun anaknya duduk di kursi.

Lihat selengkapnya