“Emang kamu lihat apa, Dea?” Tanya Dio was was.
“Kemarin malam Dea lihat darah…”
“Darah?”
“Iya, banyak darah mengalir dari sela-sela langit-langit…”
“Di mana?”
“Awalnya di kamar Dea… Terus Dea lihat di semua rumah kita juga begitu…”
“Di kamar Kak Dio?”
Dea menyisirkan pandangannya sebentar ke sekeliling kamar Dio.
“Kecuali di kamar Kak Dio,” ujar Dea.
***
Menjelang jam tiga, Dio sendiri terbaring di ranjangnya. Matanya tetap tak bisa terpejam. Lama dia memikirkan kata-kata Dea. Seandainya dia bisa menghubungi Nela saat ini. Dio pun bangkit dari ranjang. Di depan jendela dia berdiri mematung memandang jauh ke kelam langit malam. Dia tak tahu Nela ada di mana. Perasaannya tak menentu karena dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk Nela.
Pelan Dio duduk di depan mejanya, memandangi figura di atasnya, Lukisan pensil keluarganya yang dibuat Nela ada di sana. Dia lepas lembaran lukisan itu dari figura. Air mulai menggenangi matanya saat dia raba guratan-guratan coretan pensil di lembaran itu. Dia tak tahu kapan akan bertemu dengan anak perempuan yang tatapan matanya tidak bisa dia lupakan.
Lama Dio usap-usap guratan gambar keluarganya, seakan berusaha menyentuh anak perempuan yang membuat gambar itu untuknya. Semakin Dio mengusap gambar itu, semakin sadar dia tidak melihat kamarnya lagi. Dari tempat dia duduk, Dio bisa melihat ruang-ruang yang ada di rumahnya. Di melihat dinding di ruang-ruang itu berlumuran cairan merah darah. Cairan itu melumuri dinding, merembes dari ujung langit-langit. Tetesan demi tetesan mengalir ke bawah hingga membuat dinding-dinding itu berwarna merah darah.
Dio menjauhkan tangannya dari gambar Nela. Dia merasa ada di kamarnya lagi. Dio ingat apa yang dikatakan Dea. Dia mulai berpikir untuk memberi tahu ibunya, Tapi dengan kondisi dia sekarang sedang menjalani hukuman, dia hanya bisa duduk di kursinya menunggu pagi, saat pembantunya nanti mengantar sarapan.
***
Jam enam pagi, Dio masih duduk di kursinya, saat pembantunya membuka pintu, membawakan sarapan.
“Mas Dio, ini sarapannya,” ujar pembantu Dio sembari meletakkan sarapan Dio di meja.
“Iya, makasih, Bi,” jawab Dio sopan,” Bi, aku bisa minta tolong nggak?”
“Kenapa, Mas Dio?”
“Pintunya jangan dikunci dulu. Aku mau ketemu mama. Ada yang perlu aku sampaiin.”
“Wah, saya nggak berani, Mas Dio… Kata mama, habis anter makanan, harus cepet-cepet kunci lagi pintunya.”
“Cuman bentar, Bi… Ntar mama juga ngerti…”