My Family Secret

Mohamad Novianto
Chapter #17

Dio Melawan Entitas Gelap

Dio memundurkan langkah dari jendela. Tetesan darah dari atap itu mengucur semakin deras. Dan di atas, Dio bisa melihat langit malam yang telah berubah merah. Di antara warna merah darah, segerombolan burung hitam terbang berputar-putar. Mata mereka bagaikan titik-titik cahaya yang bergerak cepat bersama riuh kepakan sayap. Lalu ada satu kepakan sayap yang paling lebar. Titik matanya paling menyala melesat di kelam langit merah.

           Pintu kamar terbuka, Ibu Dio masuk bersama Dara dan Dea.

           “Dio, jagain kakak sama adikmu!” Ibu Dio bicara cepat,” Jangan pernah keluar kamar!”

           Lalu ibu Dio keluar dan mengunci pintu kamar. Dio hanya bisa memandangi pintu kamarnya yang terkunci. Dio tadi melihat wajah ibunya pucat. Dan telapak tangannya hitam.

           “Kak Dio, mama sama papa…” Dea tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia hanya bisa berdiri memandangi Dio.

           “Dio, apa yang terjadi?” Tanya Dara yang duduk di ujung ranjang.

           Dio memandangi kakak dan adiknya. Sebenarnya, kecemasan begitu mencengkeram dirinya. Tapi dia berusaha tetap terlihat tenang di depan mereka.

           “Mama sama papa pasti bisa mengatasinya,” kata Dio terbata.

           “Kak mereka banyak sekali…” Dea setengah berbisik,” Ada satu burung yang paling besar…” Dea tidak meneruskan kata-katanya karena Dio sudah mengajaknya duduk di ranjang dekat Dara.

           Sementara suasana masih hening. Mereka sama-sama menunggu sesuatu yang mungkin akan terjadi.

           “Dio…” Dara berbisik di sebelah Dio,” Dea udah cerita mengenai Reno…”

           Dio memandangi Dea. Dan Dea terlihat merasa bersalah karena mereka sepakat tidak seharusnya Dara tahu masalah itu. Tapi Dara sudah memeluk Dio. Sebuah pelukan terimakasih buat adiknya. Dea pun ikut memeluk Dio. Perlahan kecemasan Dio mereda. Kini dia merasa kakak dan adiknya bisa aman di dekatnya.

           Lalu suara berdebum keras terdengar. Dara dan Dea pun mengeratkan dekapannya ke Dio. Suara debuman itu terdengar bersusulan. Tapi tidak berasal dari atap. Suara keras itu berpindah-pindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Tak berapa lama, suara jeritan dan lolongan terdengar bersahutan.

           Beberapa saat suasana berubah hening. Bau benda terbakar mulai tercium di kamar Dio. Lalu samar terdengar suara bapak Dio yang khawatir memanggil-manggil istrinya.

           “Mama!” spontan Dio berlari ke arah pintu.

           Dengan gugup, Dio berusaha membuka pintu. Sia-sia Dio menaik turunkan gagang pintu, karena pintu kamar memang terkunci.

           “Kak Dio…” Pelan Dea memanggil Dio sembari menunjukkan sebuah kunci di tangannya,” Ini kunci aku ambil dari bibi…”

Lihat selengkapnya