Namaku Dio. Ini rumahku yang sudah terjual. Besok penghuni baru akan datang menempati rumah ini. Rumah ini sudah kosong. Barang dan perabotan kemarin sudah lebih dulu pindah ke Jakarta. Satu keluarga baru akan menggantikan kami mengisi hari-hari di rumah ini. Sempat beberapa kali, keluarga itu berkunjung ke sini. Mereka sangat suka dengan rumah ini. Kami sekeluarga pun menyambut mereka layaknya keluarga bahagia karena tinggal di rumah ini. Dari penjualan rumah ini, orangtuaku dapat keuntungan yang sangat besar. Karena dulu saat beli, orangtuaku hanya mengeluarkan beaya administrasi saja. Dengan dana dari rumah ini, kami sekeluarga akan melanjutkan kehidupan kami di Jakarta.
Hari ini kami keliling kompleks, berpamitan dengan tetangga-tetanga yang kami kenal. Giliran di rumah Pak RT, Ziko tidak mau keluar menemui kami. Dia hanya berdiri di pintu dengan muka cemberut.
“Ziko! Ini Dio mau pamitan sama kamu lho…” seru istri Pak RT ke Ziko.
Tapi Ziko masih diam dan cemberut. Dia hanya melambaikan tangannya sebentar. Setelah beramah tamah sebentar dengan Pak RT dan istrinya, kami pun berpamitan. Saat kami keluar gerbang, Dea berlari masuk lagi ke rumah Pak RT. Dea menemui Ziko yang masih berdiri di pintu. Dea menggenggam sesuatu di tangannya yang dia berikan ke Ziko. Ziko menerima di tangannya. Lama Ziko menatap pemberian Dea, Aku tahu, itu cincin perak berbentuk ular. Dan aku yakin itu hanya sebuah cincin sekarang. Mungkin itu cara Dea mengucapkan terimakasih atas dukungan Ziko pada kami waktu itu. Mungkin Dea ingin Ziko selalu ingat kebersamaan kita waktu itu saat kita saling membutuhkan dan mendukung satu sama lain.
Sebentar Dea dan Ziko saling tatap. Lalu Dea berlari, bergabung dengan kami lagi. Aku hanya melambaikan tanganku ke Ziko sembari menahan air keluar dari mataku. Ziko tidak membalas lambaianku. Tapi aku bisa lihat matanya yang berkaca-kaca.
***
Saat kami sedang membereskan barang-barang terakhir ke mobil, aku menyelinap sebentar, menyusuri jalan kompleks. Di depan sebuah rumah aku berdiri lama. Rumah yang sudah ditempelkan tulisan DIKONTRAKKAN di depan pintu gerbangnya. Aku tak kuasa menahan air keluar dari mataku. Di rumah ini aku pernah bertemu dengan anak perempuan yang tatapan matanya tak pernah bisa kulupakan. Aku bisa merasakan apa yang dia alami di rumah ini. Anak perempuan yang selalu memberiku dukungan dan selalu menyemangatiku. Dan sekarang aku tak tahu dia ada di mana. Sejak kami berpisah, nomor ponselnya tidak pernah lagi bisa aku hubungi. Aku akan selalu ingat perpisahan kami saat itu. Saat aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan mencarinya sampai kapanpun.
***