๐— ๐˜† ๐—™๐—ถ๐—ฟ๐˜€๐˜ ๐—Ÿ๐—ผ๐˜ƒ๐—ฒ โค : ๐’€๐’๐’– ๐’‚๐’“๐’† ๐’‚ ๐’‘๐’‚๐’“๐’• ๐’๐’‡ ๐’Ž๐’š ๐’๐’Š๐’‡๐’†

Rii Mlny
Chapter #5

๐ŸŽ๐Ÿ’ : ๐Œ๐ž ๐“๐ข๐ฆ๐ž ๐๐ข ๐๐ฎ๐ฌ๐š๐ญ ๐Œ๐จ๐๐ž ๐ƒ๐ฎ๐ง๐ข๐š ๐๐š๐ซ๐ž๐ง๐  ๐€๐๐ข๐ค

04.ย Me Time di Pusat Mode Dunia Bareng Adik

"Ih, nih bocah bukannya sabar tunggu di depan gerbang malah kabur ke dalam lagi. Padahal ada halte Bis, kan bisa ngadem di situ!"

- Livy Gabriella -


~โ™กโ™กโ™ก~

Tidak lama kemudian, Livy keluar dari ruang ganti, mengenakan apa yang ia pakai tadi. Rambutnya yang panjang terurai rapi, memancarkan keanggunan khas gadis remaja. Ia berjalan menuju ruang makan, mengikuti aroma masakan yang menguar begitu menggoda.

Sesampainya di ruang makan, matanya berbinar. "Wah, Bibi masak apa hari ini? Aromanya enak banget!" serunya dengan penuh antusias.

Bibi Eliza, seorang wanita paruh baya yang selalu tersenyum hangat, menyambutnya dengan lembut. "Bibi masak makanan kesukaan Nona Livy, French Spaghetti. Suka, kan?"

Livy tersenyum lebar, matanya berbinar. "Wah, Bibi Eliza memang paling tahu seleraku! Aku suka banget! Aku makan, ya, Bi."

"Silakan, Nona Livy. Semoga anda suka," ujar Bibi Eliza dengan penuh kebanggaan.

Livy menikmati Spaghetti itu dengan penuh rasa puas. Setiap suapan terasa istimewa, seolah membawa kebahagiaan kecil di pagi yang tenang. Sambil makan, Livy berbicara santai pada Bibinya.

"Oh ya, Bi. Hari ini aku mau jemput Veronica di sekolahnya, terus sekalian ke mall sambil mampir ke Cafe. Jadi hari ini aku ingin menikmati waktu bersama adikku, Bi."

Bibi Eliza mengangguk penuh perhatian. "Baik, Nona. Nanti Bibi akan menjaga rumah ini dengan baik dan akan Bibi sampaikan ke semua asisten lainnya."

"Baik, terima kasih, Bi. Aku sudah selesai makan, ya. Sekarang mau turun ke lantai bawah dulu, mau duduk santai sambil menunggu Pak Charlie datang," ucap Livy ceria sambil mengambil ponselnya dari atas meja makan.

"Baik, Nona," balas Bibi Eliza.

Matanya mengamati sekitar ruangan. Ruangan itu terasa kosong, hanya ada beberapa asisten yang lalu-lalang di sudut ruangan itu, menjalankan tugas masing-masing. Livy pun merebahkan kakinya pada Sofa panjang yang empuk, memanfaatkan waktu luang dengan membuka ponselnya. Ia mulai scrolling TikTok dan Instagram, menikmati video-video hiburan yang ringan sambil menunggu Asisten Pribadinya (Pak Charlie) datang.

Livy menyelonjorkan kakinya yang jenjang di atas sofa berwarna abu-abu. Ia menyandarkan punggungnya, kemudian menghela napas panjang. "Santai dulu nggak sih? Mumpung masih ada waktu," ucapnya santai.

Tanpa sadar, waktu berlalu begitu cepat. Dua jam kemudian, Livy mendongak dari ponselnya. Ia menyadari ada hal yang perlu dilakukan. Ia pun segera menghubungi asisten pribadinya,ย Pak Charlie,ย yang baru saja mengantar Veronica ke sekolah menggunakan Helikopter.

Livy melirik ponselnya, mengetik cepat sebuah pesan di WhatsApp untuk asistennya.


Livy

Pak Charlie

Tolong antarkan saya ke sekolah Veronica ya, Pak

Setelah itu kita lanjut pergi ke Mall

Asisten Pribadi

Baik Nona Livy


๏ปฟSelesai mengirim pesan, ia memasang EarPods di telinganya, lalu merebahkan diri di Sofa abu-abu yang panjang di ruang tamu. Lagu favoritnya mengalun lembut, membuat suasana semakin nyaman.

"Tunggu di sini dulu aja lah, nanti juga Pak Charlie datang," gumamnya pada diri sendiri sambil memejamkan mata.

Setengah jam berlalu, dan suara langkah mendekat membangunkan Livy dari tidur pulasnya. Ia membuka matanya perlahan dan melihat seorang pria paruh baya berdiri di dekatnya.

"Nona Livy, maaf mengganggu waktu tidur anda. Saya baru saja tiba," kata Pak Charlie dengan sopan.

Livy menguap kecil, lalu bangkit dari posisi tidurnya. "Oh, Pak Charlie. Maaf ya, saya sampai ketiduran nungguin Bapak. Habis nyaman banget sih sofanya," ujarnya sambil tersenyum lemah.

Pak Charlie menundukkan kepala sedikit. "Mohon maaf juga, Nona. Tadi saya sempat mampir ke kantor Papa Anda untuk mengambil dokumen penting sesuai permintaan beliau."

Livy mengangguk pelan, lalu berdiri. "Oke deh, Pak. Bapak tunggu saja di mobil, ya. Saya mau rias ulang wajah dulu. Muka saya pasti kusut banget habis tidur tadi," katanya sambil berjalan menuju kamarnya.

"Baik, Nona Livy," balas Pak Charlie, lalu ia bergegas menuju garasi untuk menyiapkan mobil.

Livy masuk ke kamarnya dan duduk di depan meja rias. Pantulan wajahnya di cermin membuatnya menghela napas kecil. "Kenapa aku malah ketiduran sih? Padahal tadi cuma mau rebahan sebentar."

Ia mulai merapikan rambutnya, menambahkan sedikit bedak, dan mengganti lipstik untuk menyegarkan penampilannya. Setelah puas, ia berdiri, mengangkat dagu, dan tersenyum pada bayangan dirinya di cermin.

Lihat selengkapnya