๐— ๐˜† ๐—™๐—ถ๐—ฟ๐˜€๐˜ ๐—Ÿ๐—ผ๐˜ƒ๐—ฒ โค : ๐’€๐’๐’– ๐’‚๐’“๐’† ๐’‚ ๐’‘๐’‚๐’“๐’• ๐’๐’‡ ๐’Ž๐’š ๐’๐’Š๐’‡๐’†

Rii Mlny
Chapter #9

๐ŸŽ๐Ÿ– : ๐Š๐ž๐ง๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐“๐ž๐ซ๐š๐ค๐ก๐ข๐ซ ๐๐ข ๐Š๐จ๐ญ๐š ๐’๐ญ๐ซ๐š๐ฌ๐›๐จ๐ฎ๐ซ๐ 

08.ย Kenangan Terakhir di Kota Strasbourg

"Kak, mungkin ini bakal jadi hari terakhir kalinya kita lari pagi disini"

ย - Veronica Grizella -


~โ™กโ™กโ™ก~

Pagi itu, sinar matahari yang hangat menyelimuti kotaย Strasbourg, menciptakan suasana cerah yang sempurna untuk berlari pagi atau sekadar bersepeda menikmati udara segar.

Dua gadis bersaudara, Livy dan Veronica, tampak berlari menyusuri jalanan kota yang dipenuhi bangunan bersejarah. Veronica, yang lebih muda, mulai melambat.

Saat sedangย joggingย bersama adiknya, Livy mengalihkan pandangannya, menikmati pemandangan di sekitar. Musim Gugur membuat kawasan itu tampak mempesona, dengan daun-daun yang berguguran menciptakan karpet warna-warni. "Indah banget pemandangan pagi ini," ucap Livy, terpesona melihat keindahan alam di tempat yang ia lewati bersama Veronica.

'Cuacanya hari ini sejuk banget, tapi sayang banget mataharinya dah keburu terbit duluan. Coba aja kalau Veronica bangunnya agak pagian banget, mungkin aku bisa foto Sunrise nya,'ย sesal Livy dalam hati.

Tak berapa lama, ia melirik ke arah adiknya yang sedangย berlari kecilย di sampingnya, berusaha agar Veronica tidak menyadarinya karena ia diperhatikan. Rasa penasaran muncul, bercampur dengan kekesalan karena adiknya bangun kesiangan.ย 'Tapi aku penasaran, apa sih yang dimimpiin dia, sampai tidurnya lelap banget nggak bangun-bangun???'ย batin Livy lagi, ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksukaan atas kebiasaan molor Veronica.

'Jangan bilang dia mimpiin bias Korea-nya itu lagi. Emang suka ngehalu nih bocah! Bukannya fokus sama dunia nyata, malah sibuk mikirin artis yang jauh di sana sampai susah dibangunin.'

Livy menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya agar tidak meledak di dalam. Baginya, tingkat imajinasi adiknya itu sudah berada di level yang tidak masuk akal, dan itu adalah salah satu hal yang paling sering membuatnya gemas sekaligus kesal sebagai seorang Kakak.

Setelah berlari cukup jauh, stamina Veronica mulai terkuras. Ia tertinggal beberapa langkah di belakang Livy, napasnya terdengar tersengal-sengal.

"Kak, tunggu!" panggil Veronica dengan suara terputus. "Aku capek... Istirahat dulu, yuk," ujarnya sambil memegang pinggangnya yang mulai terasa pegal.

Livy menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya, lalu tersenyum lembut. "Oke, ayo kita duduk di sana," katanya sambil menunjuk bangku taman di bawah pohon rindang.

Livy mengamati adiknya yang terlihat sangat kelelahan.ย 'Kayaknya nih bocah lelah banget, padahal baru disekitaran Kota Strasbourg doang lho. Tapi yasudah lah.. Dilihat-lihat kasihan juga,'ย batin Livy, rasa geli campur iba melihat perjuangan Veronica.

Mereka pun melangkah menuju taman, duduk di bangku kayu yang teduh. Angin sepoi-sepoi menggerakkan daun-daun, sementara burung merpati beterbangan riang di sekitar mereka.

"Pemandangannya indah banget, ya, Kak," ujar Veronica dengan mata berbinar. "Sejuk, asri... rasanya seperti mimpi."

Lihat selengkapnya