Nggak terasa hubungan Raina dan Guntur sudah berjalan satu tahun lamanya, dari kedekatan waktu Persami awal kelas 3 SMP, sekarang mereka sudah di ujung kelulusan Raina yang akan beranjak ke SMK.
Setelah ujian nasional, kondisi Raina semakin menurun. Banyaknya aktivitas dari try out, ujian madrasah, ujian praktik, hingga ke ujian nasional. Fisik Raina benar-benar terkuras habis, dan puncaknya penyakit paru-parunya kambuh yang mengharuskan ia dirawat di rumah sakit.
"Kak, kamu nggak pulang? Kamu emang nggak dicariin keluarga kamu? Aku nggak apa-apa kok, bentar lagi Ayah sama Ibu juga balik. Kamu pulang saja istirahat."
Raina membangunkan Guntur yang tertidur di kursi samping ranjangnya.
Raina merasa tak tega melihat kondisi Guntur yang sudah satu minggu ini bolak-balik rumah sakit, sering pulang malam dan bahkan juga ikut menginap di rumah sakit untuk menjaga Raina.
"Eh, Na. Sudah bangun, mau minum?" ucap Guntur sambil menguap.
"Nggak, Kak, aku nggak haus. Kakak nggak pulang lagi malam ini?"
"Kayaknya sih nggak, aku mau tidur sini jagain kamu."
"Kamu pulang aja, Kak, aku ada Ayah sama Ibu. Nanti Ibu kamu nyariin, kamu dimarahin lagi. Katanya besok mau ada interview kerja," ucap Raina membujuk Guntur.
"Iya, besok jam 8 pagi, tapi nggak apa-apa kok dari sini juga bisa langsung ke tempat interview." Guntur menenangkan Raina.
"Iya emang bisa, tapi, Kak. Ada yang perlu dipersiapkan juga kan buat interview kerja besok dan istirahat yang cukup biar besok fresh, di sini kamu nggak bisa istirahat nyaman."
"Nggak apa-apa, Na, aku malah khawatir kalau ninggalin kamu."