Sore itu Raina dilema. Ia belum bisa menjawab pertanyaan Zafir.
"Maaf sebelumnya, Pak. Bisa beri saya waktu? Ini terlalu mendadak buat saya, Pak," ucap Raina gugup.
Pertanyaan Zafir benar-benar mengejutkannya. Selama ini ia memang tahu jika Zafir sangat memperhatikannya, namun ia tidak menyangka bahwa Zafir menyukainya. Selama ini banyak teman Raina yang memberi tahu, namun Raina tidak percaya. Ia pikir perhatian Zafir hanya sebatas rekan kerja biasa.
"Iya, tidak apa-apa. Aku beri kamu waktu satu minggu, cukup, Na? Maaf membuatmu kaget, tiba-tiba saja aku bicara seperti ini."
"Cukup, Pak. Terima kasih atas pengertiannya." Raina pamit untuk kembali ke lobi hotel melanjutkan pekerjaannya.
Sore hari, saat jam pulang kerja, Raina sudah janjian dengan Guntur untuk makan sate di warung depan hotel. Ya, kawasan Tretes memang terkenal dengan sate dan juga jagung bakarnya. Banyak sekali penjual sate dan jagung bakar di sepanjang jalan depan hotel, beserta macam-macam kuliner lainnya.
"Maaf lama menunggu, Kak?" sapa Raina menghampiri Guntur yang sudah menghabiskan satu porsi sate ayam.
"Iya, tidak apa-apa, Na. Aku juga baru habis satu porsi nih. Berhubung kamu sudah datang, aku pesankan lagi ya sekalian? Kamu mau sate apa? Mau jagung bakar juga tidak? Atau camilan yang lain?" tanya Guntur antusias.
"Tidak usah, Kak. Sate ayam sama air mineral saja sudah cukup," ucap Raina tersenyum dan duduk di depan Guntur.
Tak lama pesanan mereka datang. Hening, tidak ada yang bersuara. Mereka asyik menyantap makanan sampai habis.
"Gimana, Na? Enak, kan? Aku sering makan di sini sama temanku," ucap Guntur santai.
"Iya, Kak, enak. Aku baru pertama kali coba, sih," ucap Raina terkekeh.