Tiga bulan setelah Ziva lahir.
Raina tidak pernah sehancur ini. Sakit paru-parunya kambuh lebih sering dari biasanya. Batuknya tidak berhenti, napasnya sesak, bahkan untuk menggendong Ziva saja ia harus berhenti beberapa kali untuk mengatur napas.
Guntur sama sekali tidak mau tahu, dia akan pulang tengah malam dalam keadaan mabuk lalu tertidur sampai keesokan harinya, lalu pergi lagi, entah ke mana.
Malam itu, Ziva demam tinggi. Badannya panas, tangisnya tidak berhenti.
"Bu... tolong, Bu... Ziva panas banget. Boleh pinjam motor buat ke klinik? Atau tolong jaga Ziva sebentar, saya mau cari taksi online," pinta Raina dengan suara sesak sambil menggendong Ziva yang menangis di depan kamar mertuanya.
Ibu mertuanya bahkan tidak membuka pintu. Dari dalam hanya terdengar jawaban dingin, "Urus saja sendiri anakmu itu!"
Raina terduduk di depan pintu itu sambil memeluk Ziva erat. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
"Setidaknya tolong sekali ini saja, Bu. Ziva cucu Ibu, darah daging Ibu. Kalau Ibu benci saya silakan, tapi jangan benci Ziva juga karena kesalahan saya."
Hening. Tidak ada balasan sama sekali.
Dengan sisa tenaga, ia membungkus Ziva dengan selimut tipis dan berjalan kaki ke klinik 24 jam yang jaraknya tidak jauh dari rumah Guntur.