Blurb
Sepuluh tahun setelah merantau ke Jakarta, Arif pulang ke rumah masa kecilnya dengan satu koper dan hidup yang porak-poranda setelah kehilangan pekerjaan.
Rumah itu ternyata tidak lagi sunyi.
Ibunya sibuk di dapur, memasak terlalu banyak makanan seperti tak pernah kehabisan alasan untuk membuat Arif makan. Ayahnya, yang biasanya tak pernah melewatkan kesempatan untuk mengomel, justru hanya tersenyum melihatnya pulang. Kakak perempuannya masih cerewet, tak bosan-bosan menanyakan apakah akhirnya Arif sudah punya pacar. Sementara kakeknya tetap setia merawat kebun di belakang rumah, seolah waktu tak pernah berjalan.
Semuanya terasa begitu hangat.
Terlalu hangat.
Arif tahu ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Namun ia memilih menikmati setiap tawa, setiap omelan, dan setiap makan malam bersama, seakan takut kehilangan semuanya untuk kedua kalinya.
Di balik rumah yang kembali ramai itu, tersimpan sebuah rahasia yang perlahan mengubah arti pulang, keluarga, dan kesempatan kedua.
Karena terkadang, keluarga tidak selalu kembali untuk tinggal.
Mereka hanya ingin memastikan... tak ada lagi yang tertinggal.