My Ghost Family

GAZALI
Chapter #1

BAB 1 - SETELAH PHK

Bus ekonomi itu memasuki Kota Medan dengan batuk panjang dari knalpotnya.

Arif masih bersandar di kaca jendela. Getaran mesin membuat pelipisnya ikut berdenyut. Di luar, ruko-ruko berjejer silih berganti. Ada yang berubah, ada yang tetap sama. Kota itu terus berjalan tanpa pernah menunggunya.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun dia meninggalkan rumah demi pekerjaan yang dulu begitu dibanggakan.

Dan kemarin semuanya berakhir hanya dengan beberapa lembar kertas.


Di sela dompet itu terselip sebuah surat yang sudah lecek karena terlalu sering dilipat.

SURAT KETERANGAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA

Dia hanya menatapnya sebentar. Lalu menutup dompet kembali. Tidak ada gunanya membaca sesuatu yang sudah menghancurkan hidupnya berkali-kali.

Di depan bus, televisi kecil yang digantung dengan kawat menyiarkan berita dengan suara pecah.

"...hari ini tepat sepuluh tahun tragedi tenggelamnya kapal wisata di Danau Toba yang merenggut puluhan korban jiwa. Sejumlah keluarga korban masih menggelar doa bersama..."

Arif langsung memasang headset.

Musiknya tidak dinyalakan. Dia hanya tidak ingin mendengar berita itu.

"Sepuluh tahun kerja..." gumamnya pelan. "...pulangnya tetap naik bus ekonomi."

Bus mengerem keras. Semua penumpang terhuyung.

"Bang, turun Amplas?" tanya seorang bapak di sebelahnya.

"Iya."

"Merantau?"

Arif menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca. Kurus. Mata cekung. Kumis tumbuh tak beraturan.

"Pulang."

Jawaban itu pendek. Tapi terasa paling berat.

Arif menaikkan ranselnya. Isinya hanya dua potong baju dan masa depan yang mendadak kosong.

Dia mulai berjalan menuju gang rumahnya. Semakin dekat, langkahnya semakin pelan.

Gang itu nyaris tidak berubah. Warung Mak Leha masih berdiri di tikungan. Bangku kayunya masih miring sebelah. Pohon mangga depan rumah Pak Lurah masih menjulur sampai ke kabel listrik. Bahkan radio dari warung itu masih memutar lagu-lagu lama.

Arif tersenyum tipis. "Masih sama rupanya..."

Namun senyum itu perlahan menghilang ketika rumahnya mulai terlihat.

Gerbang kayu itu masih berdiri kokoh. Tidak berkarat. Halamannya bersih. Rumput dipotong rapi. Bunga bougenville di teras bermekaran. Jendela terbuka. Tirai putih bergoyang tertiup angin sore.

Arif berhenti. Dadanya terasa sesak.

Rumah itu tidak terlihat seperti rumah yang sudah sepuluh tahun ditinggalkan.

"Siapa yang ngurus rumah ini...?"

Tak ada jawaban.

Yang datang justru sesuatu yang membuat tubuhnya membeku.

Aroma masakan.

Gulai ayam. Ikan nila goreng. Sambal belacan. Dan nasi hangat.

Lihat selengkapnya