My Ghost Family

GAZALI
Chapter #2

BAB 2 — PULANG DI TAHUN PERTAMA

Warung yang Tidak Pernah Berubah

Pagi.

Pagi pertama setelah sepuluh tahun.

Arif terbangun karena aroma kopi yang diseduh, bukan karena alarm kos yang memekakkan telinga. Untuk beberapa detik dia lupa di mana dia berada. Langit-langit kamarnya masih retak di sudut yang sama.

Dari dapur, suara Ibu terdengar.

"Rif! Belikan gula sama kopi dulu! Kopi kita habis! Sekalian mi instan dua!"

Tidak ada "tolong". Tidak ada "bisa tidak". Hanya perintah, seperti dulu. Dan anehnya, itu membuat dada Arif terasa hangat.

"Iya, Bu!"

Dia mengambil uang dari dompet, memakai sandal jepit yang ternyata masih ada di bawah tempat tidurnya — ukurannya masih pas — dan berjalan keluar.

Gang itu masih sama. Anak-anak bermain kelereng di selokan. Radio tua dari warung memutar lagu Ebiet G. Ade yang kresek-kresek. Udara Medan yang lembab dan bau tanah basah setelah disiram.

Warung Mak Leha tetap berdiri seperti sepuluh tahun lalu. Bangku kayunya masih miring sebelah. Toples biskuit bekas Khong Guan masih dipakai menyimpan uang receh. Dindingnya penuh tempelan kartu perdana yang sudah tidak laku lagi.

Mak Leha sedang menuang kopi hitam ke gelas kaca.

Begitu melihat Arif, tangannya berhenti beberapa detik. Tatapannya berubah. Bukan kaget, lebih seperti... lembut. Seperti melihat anaknya sendiri pulang setelah lama hilang.

"Baru pulang, Rif?" Suaranya masih serak khas perokok.

Arif mengangguk, agak canggung. "Iya, Mak."

"Sudah lama."

"Sepuluh tahun, Mak."

Mak Leha mengangguk pelan. Tetap memasukkan gula ke kantong plastik kresek hitam dengan gerakan pelan, tidak tergesa. Toples gula pasirnya dibuka, ditakar pakai gelas.

"Masih kerja di Jakarta?" tanyanya tanpa menatap Arif.

Arif tersenyum hambar. Senyum yang dia latih sejak di bus.

"Baru kena PHK, Mak."

Tangan Mak Leha berhenti sesaat di atas toples. Hanya sesaat.

"Hm..."

"Daripada habis uang di kota, kupikir pulang dulu sambil nunggu panggilan kerja," lanjut Arif cepat, seperti sedang membela diri.

Mak Leha menyerahkan belanjaannya. Gula, kopi kapal api, dan dua bungkus mi instan goreng.

"Bagus," katanya.

Arif menoleh untuk pamit, tapi Mak Leha tidak melihatnya. Perempuan tua itu justru memandang lurus ke ujung gang, ke arah rumah Arif yang terlihat samar dari sini, dengan bunga bougenville-nya yang mekar.

Lalu dia berkata pelan, hampir seperti bergumam pada dirinya sendiri.

"Rumah itu menunggumu kembali sudah sepuluh tahun, Rif."

Arif mengernyit. "Maksud Mak?"

Mak Leha tidak menjawab. Dia langsung berbalik, kembali melayani seorang bocah yang mau beli es.

"Jadi berapa, Mak?"

Arif berdiri beberapa detik di depan warung itu, memegang kantong plastik, dengan perasaan aneh yang mulai merayap di tengkuknya.

 

Orang yang Pendiam

Arif berjalan pulang. Kantong plastik di tangannya berayun pelan.

Di tikungan dekat pohon mangga, suara berat memanggilnya.

"Rif."

Arif menoleh.

Pak Karjo berdiri memikul cangkul. Topi caping lusuh. Baju lengan panjang kotak-kotak yang sudah pudar warnanya karena matahari. Wajahnya hitam terbakar, keriput, tatapannya datar seperti tanah sawah yang baru dicangkul.

"Pak... sehat, Pak?" sapa Arif. Dia ingat Pak Karjo, tetangga yang dulu sering membantu Ayah memperbaiki parit belakang.

Pak Karjo hanya mengangguk sekali. "Masih."

Diam. Tidak ada basa-basi. Hanya angin yang lewat membawa debu.

Pak Karjo memperhatikan wajah Arif. Lama. Dari ujung kaki sampai mata. Seolah sedang memastikan sesuatu. Memastikan Arif ini Arif yang sama, bukan orang lain yang mirip.

Lalu...

Lihat selengkapnya