My Ghost Family

GAZALI
Chapter #3

BAB 3 — ORANG YANG BERBICARA SENDIRI

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, Arif tidak ingin buru-buru pergi kemana-mana.

 

Pagi yang Terasa Normal

Matahari baru naik sepenggalah. Embun masih ada di ujung daun bougenville.

Halaman rumah itu hidup.

Ayah sedang jongkok di sudut halaman, menyerut bambu dengan parang kecil. Serutan-serutan bambu jatuh berantakan di kakinya.

Kakek memperbaiki pagar kayu yang sedikit miring dengan palu, dipukul pelan-pelan sambil mengomel sendiri.

Ibu menjemur pakaian di tali jemuran, satu per satu, sambil bernyanyi kecil lagu lama yang tidak jelas liriknya.

Maya, dengan daster dan sandal jepit, menyiram bunga dengan gayung sambil menyiram juga kaki Ayah dengan sengaja.

"Bih! Maya!" Ayah mengangkat kakinya.

Maya ngakak. "Biar segar, Yah!"

Arif keluar dari dalam rumah membawa dua gelas teh, ikut jongkok di samping Ayah.

Pemandangan ini... ini yang selama sepuluh tahun hanya ada di foto. Dan sekarang dia ada di dalamnya.

"Untuk apa bambunya, Yah?" tanya Arif.

Ayah tidak berhenti menyerut, tapi menjawab tanpa melihat.

"Bah! Untuk apa lagi? Untuk ajir tomat Kakekmu itu lah! Kalau tidak dikasih kayu, roboh semua tomatnya! Manja kali tomatnya itu, sama kayak kau!"

Kakek yang mendengar langsung protes, "Enak aja! Tomatku itu kuat-kuat! Kau aja yang tidak pandai ikatnya!"

Ibu dari jemuran menimpali, "Sudah! Kalian ini! Pagi-pagi sudah ribut! Macam anak kecil!"

Suasana itu benar-benar hidup. Berisik. Hangat. Berantakan dengan cara yang paling dirindukan.

 

Obrolan Ayah dan Arif

Setelah bambu selesai diserut, Ayah menyuruh Arif membantu memperbaiki bangku kayu di teras. Kaki bangkunya goyang.

"Nah, pegang sini," kata Ayah, menyodorkan palu ke Arif.

Arif memegang ujung bangku. Tangannya masih kaku, tidak terbiasa kerja kayu.

Ayah memperhatikan, lalu berkata dengan nada guru yang sabar tapi tetap galak.

"Lelaki itu harus bisa memperbaiki barang di rumah, Rif. Jangan sedikit-sedikit panggil tukang. Paham kau? Apa gunanya tangan kau itu? Untuk pegang HP aja?"

Arif tertawa. Tawa pertama yang lepas setelah berhari-hari.

"Kalau tidak bisa gimana, Yah?"

Ayah mendengus. Dipukulnya paku itu dengan keras. Tok! Tok! Tok!

"Bah! Kalau tidak bisa ya belajar! Mana ada orang langsung pandai! Bapakmu ini pun dulu tidak pandai! Tapi belajar! Kau ini di Jakarta belajar apa? Belajar malas?"

"Belajar kangen rumah, Yah," jawab Arif pelan, setengah bercanda, setengah jujur.

Tangan Ayah berhenti memukul. Hanya sepersekian detik. Lalu dia lanjut memukul paku lagi, lebih keras.

"Ah, banyak kali cerita kau! Kangen, kangen... sudah, pegang yang kuat! Jangan sampai jatuh bangku ini, nanti bokongmu yang kuganti jadi kaki bangku!"

Tidak ada pelukan. Tidak ada kalimat manis. Tapi Arif tahu, itu adalah cara Ayah mengatakan, Aku juga kangen.

Hanya keluarga. Tidak ada misteri di sini. Hanya seorang ayah dan anaknya memperbaiki bangku yang goyang.

Lihat selengkapnya