Pagar yang Hampir Roboh
Siang sudah bergeser sore. Panasnya sudah tidak menyengat.
Setelah Pak Karjo pulang tadi siang, Ayah tidak berhenti. Dia malah semakin semangat melihat pagar depan yang memang sudah miring dari kemarin.
Ayah jongkok lagi di depan pagar, memegang tiang yang lapuk itu dengan kedua tangan.
"Bah! Tengok ini, Rif! Ini pagar sudah miring kali! Sedikit lagi maling masuk pun kasihan lihatnya! Malingnya pun nanti bilang, 'Tak jadi lah aku maling rumah ini, pagarnya aja sudah minta tolong!'"
Maya yang baru selesai menyiram bunga dan masih memegang gayung langsung menyahut.
"Maling mana mau masuk, Yah. Lihat Ayah ngomel aja sudah takut. Malingnya dengar suara Ayah dari ujung gang langsung tobat."
Kakek yang duduk di bale bambu sambil memilah tomat ikut tertawa, "Hahaha! Betul! Malingnya takut kena ceramah Naga Bonar!"
Dari dapur, Ibu membalas sambil mengulek sambal.
"Kalian ini, pagar belum roboh, mulut sudah duluan ribut! Kerjakan aja, jangan banyak cerita!"
Arif tertawa. Tadi pagi dia membantu menyerut bambu, sore ini dia membantu mengangkat tiang pagar. Tangannya sudah kotor tanah.
Ayah menyuruh Arif memegang tiang agar tidak jatuh.
"Pegang yang kuat! Jangan macam pegang anak ayam! Kau ini sekolah tinggi-tinggi , pegang kayu aja pun tak becus!"
Sesekali Arif sengaja memegangnya miring supaya Ayah semakin banyak bicara. Supaya Ayah terus mengomel di sampingnya.
Suasana benar-benar hangat. Dan ini masih di hari yang sama — hari pertama Arif benar-benar merasa pulang.
Surat dari Dunia Luar
Suara pagar yang sedang mereka tahan itu berderit karena ada yang mendorong dari luar.
"Assalamualaikum... Arif? “
Di tangannya ada beberapa lembar surat dan map plastik bening.
Arif masih memegang tiang pagar. Di mata Arif, Ayah sedang berdiri tepat di sebelahnya, ikut menahan tiang itu.
"Bah, siapa itu?" tanya Ayah, menyipitkan mata.
"Pak RT, Yah," jawab Arif santai, tidak merasa aneh.
"Suruh masuk. Masa tamu dibiarkan di luar pagar macam pengemis. Jangan seperti orang yang Tak ada adab!"
Arif membuka sedikit pagar dengan kakinya. "Masuk dulu, Pak RT."
Pak RT menggeleng cepat. Dia tidak berani masuk. Matanya terpaku.
"Tak usah, Rif. Bapak cuma ngantar surat. dari kelurahan."
Dia menyodorkan surat-surat itu dari luar pagar.
Tapi mata Pak RT tidak melihat surat. Matanya melihat Arif yang sedang memegang tiang pagar seorang diri dengan posisi yang aneh — seperti tiang itu sedang ditahan dua orang, padahal hanya Arif sendiri yang menahannya dengan satu tangan.
Dan Arif sesekali menoleh ke samping, tersenyum, lalu mengangguk seolah sedang mendengarkan seseorang yang sedang mengomel di sampingnya.
Pak RT menelan ludah. Suaranya pelan.
"Rif..."
"Iya, Pak?"
"Lagi ngobrol sama siapa kau?"
Arif tertawa kecil, menunjuk ke sampingnya dengan dagu, ke tempat Ayah berdiri.
"Lho... sama Ayah, Pak. Tadi lagi benerin pagar sama Ayah. Dari pagi."
Pak RT menoleh ke arah yang ditunjuk Arif.
Kosong.
Hanya Arif. Tiang pagar yang miring. Palu yang tergeletak di tanah. Tidak ada orang lain.
Angin sore lewat, membuat daun bougenville berguguran jatuh ke kepala Arif.
Pak RT memaksa tersenyum. Senyum yang kaku, pucat.
"Oh... oh iya... sama Ayah..."
Tangannya gemetar saat menyerahkan surat. Kertasnya sampai berbunyi kresek karena gemetar.
Sebelum pergi, ia sempat sekali lagi melihat Arif yang kini tertawa lagi setelah Ayah kembali mengomel.
"Bah! Kau pegang surat aja pun lelet kali! Macam pegang ijazah! Sudah, kasih sini, Bapak yang pegang tiangnya! Pegang palu sana kau!"