Surat dari Jakarta
Hari kedua Arif pulang. Dan hari pertama dia berencana pergi lagi.
Malam.
Meja makan penuh lagi. Selalu penuh sejak Arif pulang.
Ibu menuangkan sayur daun ubi tumbuk ke piring Arif sampai menggunung. Kakek sibuk memilih tomat paling merah dari keranjangnya, yang paling besar, diletakkan di piring Arif. Maya mengeluh karena Ayah mengambil lauk ikan paling besar.
"Bah! Ini ikan yang kubeli tadi pagi! Masa tak boleh ambil yang besar! Kau ini macam belum makan setahun!" omel Ayah sambil menahan ikan gorengnya agar tidak direbut Maya.
"Yah, Arif yang baru pulang, harusnya dia yang dapat yang besar!" balas Maya sambil mencoba mencubit ikan itu.
Kakek tertawa, "Sudah, sudah! Nanti ku belikan ikan paus untuk kalian berdua!"
Percakapan ringan. Rumah terasa hidup. Berisik. Sempurna.
Di tengah tawa itu, Arif mengeluarkan amplop cokelat besar dari Jakarta yang diberikan Pak RT tadi sore. Amplop yang sempat dia lupakan karena pagar.
Ia membukanya perlahan. Kertas di dalamnya masih baru.
UNDANGAN WAWANCARA KERJA - PT. NUSA KARYA MANDIRI - JAKARTA - LUSA PAGI JAM 09.00 WIB.
Arif tersenyum. Senyum lega yang pertama kali muncul setelah PHK.
"Bu, Yah... kalau tidak ada halangan... besok aku berangkat lagi ke Jakarta. Ada panggilan wawancara lusa pagi."
Suasana langsung berubah.
Seperti ada yang mematikan volume radio.
Sendok Ibu berhenti di udara, sayur tumpah sedikit kembali ke mangkuk. Maya tidak jadi mengambil lauk, tangannya menggantung di atas meja. Kakek yang sedang mengupas tomat memandang meja, tidak jadi mengupas.
Ayah tetap makan. Kunyahannya melambat. Lama.
Baru kemudian, tanpa mengangkat kepala, dia bertanya pelan. Suaranya tidak keras. Justru karena pelan itulah terasa berat.
"Apa yang membuatmu ingin pergi lagi, Rif?"
Arif tersenyum, mencoba mencairkan suasana.
"Kerja, Yah. Kesempatan. Sayang kalau dilewatkan."
Ayah mengangguk pelan. Mengunyah lagi.
"Hanya itu?"
"Iya, Yah. Cuma itu."
Diam. Diam yang panjang. Hanya suara cicak di dinding.
Rumah Juga Bisa Menghidupi
Ayah meletakkan sendoknya. Pelan. Tidak dibanting. Diletakkan.
Tidak marah. Tenang. Terlalu tenang.
Ia menunjuk ke luar jendela, ke kebun kecil di belakang. Tomat-tomat Kakek bergoyang tertiup angin malam.
"Kalau cuma untuk hidup..." Ia berhenti, menatap Arif. "...di sini pun orang masih bisa hidup, Rif."
Arif diam.
Ayah menunjuk tomat-tomat itu lagi.
"Lihat tomat Kakekmu itu."
Kakek yang dari tadi diam langsung menyela, tidak mau kalah, "Bah, tomatku lagi dibawa-bawa! Apa salah tomatku!"
Semua tertawa kecil. Dipaksakan. Suasana mencair sedikit.
Baru Ayah melanjutkan, suaranya lebih pelan dari tadi.
"Dia tetap hidup. Disiram, dijaga, dia berbuah. Tak perlu ke Jakarta dia untuk jadi merah."
Lalu Ayah menatap Arif lekat-lekat.
"Tak perlu terlalu cepat kembali ke sana, Rif."
Kalimat sederhana. Bukan larangan. Namun terdengar seperti permohonan yang sudah ditahan sepuluh tahun.
Sebentar Lagi
Pagi harinya, rumah itu tidak menghalangi Arif. Justru sebaliknya. Setiap anggota keluarga menunjukkan cintanya dengan cara yang berbeda. Bukan menghalangi, melainkan menikmati waktu yang tersisa.
Bagian I — Ibu
Pagi, jam enam. Ibu menggoreng pisang. Harumnya memenuhi seluruh rumah, sampai ke kamar Arif.
Saat Arif lewat membawa handuk hendak mandi, Ibu hanya berkata tanpa menoleh dari wajan.
"Masih panas."
Tidak memanggil. Tidak menyuruh. Tidak bilang "makanlah".
Arif sendiri yang duduk di kursi kayu dekat dapur. Mengambil satu. Ibu memperhatikan dari ekor mata, memastikan Arif makan.
Lalu Ibu berkata pelan, sambil membalik pisang goreng.
"Nanti kalau di Jakarta... kalau sempat... jangan sering makan mi."
Hanya itu. Tidak menangis. Tidak meminta tinggal. Tidak bilang "jangan pergi".
Tetapi Arif tahu, Ibu sedang mengucapkan selamat jalan dengan cara Ibu.
Bagian II — Maya
Arif hendak masuk kamar untuk berkemas, melihat Maya sedang duduk di lantai ruang tengah. Membuka album foto keluarga yang sampulnya sudah berdebu.
"Bang, sini."