PAGI TANPA SAPAAN
Pagi.
Tidak ada suara omelan Ayah dari halaman. Tidak ada rebutan lauk ikan besar antara Ayah dan Maya. Tidak ada Kakek yang berteriak soal tomatnya yang merah. Tidak ada Ibu yang bernyanyi kecil sambil menjemur baju.
Hanya suara sendok beradu piring. Pelan.
Arif keluar kamar dengan langkah pelan. Rambutnya berantakan. Matanya sembab karena tidak tidur semalaman.
Biasanya, Ayah yang pertama melihatnya akan berkata,
"Bah... bangun juga kau, putri tidur! Jam berapa ini? Kau pikir ini hotel?!"
Hari ini tidak.
Ayah sedang duduk di teras, minum kopi hitam. Tatapannya lurus ke halaman, ke pagar yang kemarin mereka perbaiki bersama. Punggungnya tegak, kaku.
Arif menelan ludah.
"Pagi, Yah."
Ayah tidak menjawab. Tidak menoleh. Hanya meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan pelan. Tuk. Lalu berdiri dan berjalan keluar ke kebun belakang, melewati Arif tanpa menatap.
Seolah Arif tidak ada di sana.
Ibu melihat semuanya dari dapur. Tangannya berhenti mengaduk sayur. Tidak berkata apa-apa. Hanya menghela napas panjang yang berat.
DUA ORANG YANG TIDAK SALING MELIHAT
Siang mulai terik.
Ayah memperbaiki cangkul di sudut halaman. Gagangnya retak karena kemarin dipakai mencangkul tanah keras.
Arif melihat dari teras. Sudah hampir dua jam dia hanya duduk menatap Ayahnya dari jauh. Akhirnya dia memberanikan diri. Pelan ia mengambil pahat dan palu kecil dari kotak perkakas.
"Biar kubantu, Yah," katanya pelan, jongkok di samping Ayah.
Belum sempat dia duduk sempurna...
Ayah berdiri. Mengambil cangkulnya yang retak itu dan membawanya. Pindah ke sisi lain halaman, di dekat kandang ayam, jauh dari Arif.
Tanpa menatap Arif. Tanpa sepatah kata pun. Tanpa makian Naga Bonar-nya yang biasa.
Penolakan yang diam itu jauh lebih menyakitkan daripada bentakan kemarin malam.
Arif membeku. Tangannya masih memegang pahat di udara. Perlahan, sangat perlahan, ia letakkan kembali pahat itu ke tanah. Tangannya mengepal.
Di kejauhan... Kakek melihat dari kebun tomat. Menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala. Maya yang sedang menyapu berhenti menyapu, menatap Arif dengan iba. Ibu menatap dari jendela dapur, matanya berkaca-kaca.
Rumah itu ramai, ada lima orang di dalamnya, tetapi terasa sunyi seperti kuburan.
ARIF DAN KARJO
Siang bolong. Matahari di atas kepala.
Pak Karjo datang lagi. Hari ini untuk ketiga kalinya dalam dua hari. Membawa kantong plastik hitam berisi paku yang kemarin dia janjikan. Paku yang bagus, yang panjang.
Arif duduk sendirian di teras, menatap pagar yang sudah tegak itu. Pagar yang kemarin dia perbaiki bersama Ayah, yang hari ini terasa seperti batas antara dia dan Ayahnya.
Pak Karjo ikut duduk di teras, tidak jauh dari Arif. Tidak menyapa. Hanya membuka kantong pakunya dan meletakkannya di lantai.