My Ghost Family

GAZALI
Chapter #7

BAB 7 — KORAN YANG TERLAMBAT SEPULUH TAHUN

Malam yang Belum Selesai

Malam semakin larut.

Rumah sudah sepi. Sepi yang berbeda dari sepi sepuluh tahun terakhir.

Piring yang dibanting Ayah tadi malam sudah dibersihkan Ibu diam-diam. Pecahannya sudah dibuang, lantainya sudah dipel. Tapi bekas retaknya masih terasa. Bukan di lantai, tapi di udara rumah itu.

Ibu, Maya, dan Kakek sudah masuk ke kamar masing-masing sejak tadi. Tidak ada yang berani keluar lagi setelah Ayah membanting piring. Lampu ruang tengah sengaja dibiarkan menyala satu.

Ayah belum tidur. Ia masih duduk sendirian di kursi kayu yang kemarin sore ia perbaiki bersama Arif. Punggungnya membungkuk. Kopi di depannya sudah dingin sejak jam sembilan.

Matanya menatap pintu depan yang tertutup. Di balik pintu itu, di teras, Arif duduk. Ayah tahu. Dari bayangan kaki di bawah pintu, dia tahu anaknya masih di sana. Dari tadi.

Dua orang keras kepala yang sama-sama tidak mau mengalah.

Di luar pagar, di gang yang sudah sepi...

Terdengar suara langkah sandal jepit yang diseret.

Tok... Tok... Tok...

Pelan. Berat.

Ayah mengangkat kepala. Dia hafal langkah itu.

Pintu tidak diketuk. Hanya suara pelan dari luar.

"Bang..."

Pak Karjo datang lagi. Jam segini.

Ayah hanya berkata pelan, suaranya serak karena seharian tidak banyak bicara.

"Masuklah, Jo."

 

Koran Lama

Pak Karjo masuk. Membawa tas kain lusuh yang sama yang dia bawa setiap hari. Tapi malam ini tas itu terlihat lebih berat.

Tatapannya jauh lebih berat dari biasanya. Wajahnya yang keriput terlihat lebih tua sepuluh tahun di bawah lampu kuning.

Ia tidak langsung duduk. Ia berdiri di depan Ayah, menatap Ayah yang duduk membungkuk itu.

Tidak banyak bicara. Perlahan... dengan tangan yang sedikit gemetar... ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kainnya.

Sebuah koran tua.

Kertasnya sudah menguning kecokelatan. Sudutnya mulai rapuh seperti akan hancur jika disentuh terlalu keras. Bekas lipatannya hampir putus, sudah dilapisi isolasi bening yang juga sudah menguning.

Ia meletakkannya di atas meja kayu, tepat di depan Ayah. Pelan-pelan, seperti meletakkan sesuatu yang sakral.

Ayah melihat sekilas. Koran Analisa. Sama seperti koran yang biasa dia baca setiap pagi.

Lalu tersenyum tipis. Senyum lelah seorang bapak yang sedang banyak pikiran.

"Bah, masih kau simpan rupanya koran ini, Jo? Koran lama pun kau simpan? Rajin kali kau," 

katanya, mencoba bercanda, tapi suaranya tidak ada tenaga.

Pak Karjo mengangguk sekali. Matanya tidak lepas dari Ayah.

"Bacalah, Bang."

 

Nama yang Tidak Mungkin Ada

Ayah membuka koran itu. Awalnya santai. Gerakannya seperti kebiasaannya setiap pagi — dikibas-kibaskan dulu biar rapi, baru dibaca.

Lalu matanya berhenti di halaman depan. Judul besar, huruf balok, tinta sudah agak luntur.

KAPAL WISATA DI DANAU TOBA TENGGELAM - 47 PENUMPANG DINYATAKAN HILANG

Ayah mengernyit. Keningnya berkerut.

"Bah, berita apa ini? Kapal tenggelam di Danau Toba? Kapan ini? Kok tak pernah dengar?"

Ia membaca lebih jauh, lebih dekat. Matanya yang tua mendekat ke kertas.

Daftar nama korban yang berhasil diidentifikasi. Daftar nama penumpang yang dinyatakan hilang.

Matanya berhenti. Napasnya berhenti.

Baris pertama.

Siti Aminah Siregar (48) - Medan.

Tangan Ayah mulai gemetar.

Baris kedua.

Maya Sari br. Simanjuntak (22) - Medan.

Baris ketiga.

H. Bonar Simanjuntak (71) - Medan.

Lalu...

Parlindungan Simanjuntak (52) - Medan.

Lihat selengkapnya