My Ghost Family

GAZALI
Chapter #9

BAB 9 — YANG SUDAH KUTAHU

Senja di Ujung Halaman

Senja. Langit mulai berubah jingga.

Halaman rumah terasa lebih sepi daripada biasanya, padahal ramai.

Ibu masih terdengar memasak di dapur. Suara wajan beradu. Suara Maya sesekali tertawa bersama Kakek di kebun tomat. Ayah sedang duduk sendirian di bangku kayu, memperbaiki ujung cangkul yang retak kemarin.

Rumah tampak hidup. Terlalu hidup untuk rumah yang seharusnya sepi.

Sementara itu... Arif duduk sendirian di pojok halaman. Di bawah pohon mangga.

Tas ranselnya berada di samping kaki. Belum dibuka lagi sejak kemarin sore. Belum disentuh lagi.

Tatapannya kosong. Bukan sedang melihat halaman. Melainkan memandang sesuatu yang jauh sekali. Seolah pikirannya tidak berada di rumah itu.

Tangannya menggenggam tiket wawancara yang sudah kusut. Amplop cokelat dari Jakarta yang sudah berkali-kali diremas, ujungnya sobek.

Angin sore meniup pelan. Daun mangga berguguran di sekitar kakinya. Tak satu pun diambilnya.

Arif hanya melihat rumah itu. Ibu sedang menjemur baju. Ayah memperbaiki ujung cangkul yang belum selesai. Maya tertawa. Kakek menyiram tomat.

Ia hanya melihat, lama. Lalu tersenyum. Senyum yang lelah.

Lalu berkata sangat pelan, hanya untuk dirinya sendiri.

"Hari ini mereka masih ada."

 

Pak Karjo Datang

Suara langkah sandal mendekat.

Tok. Tok. Tok.

Pak Karjo datang. Tidak seperti biasanya yang langsung masuk ke halaman. Ia berhenti di luar gerbang, memperhatikan Arif yang duduk di bawah pohon mangga itu.

Ia tidak langsung duduk. Hanya berdiri beberapa saat memperhatikan Arif.

Lalu berkata pelan.

"Kau masih menghitung ya..."

Arif menoleh, bingung.

Pak Karjo melihat ke arah rumah yang ramai itu.

"Berapa hari lagi mereka bersamamu."

Arif tidak menjawab.

Lalu perlahan Pak Karjo ikut duduk di bangku bambu di samping Arif. Tidak dekat, memberi jarak. Mereka sama-sama memandang langit senja yang sama. Bayangan rumah semakin panjang menutupi setengah halaman.

Lama. Baru Pak Karjo berkata pelan.

"Jadi... kau jadi berangkat?"

Arif tersenyum kecil. Senyum yang sangat lelah. Sepuluh tahun lebih tua dari umurnya.

Menggeleng.

"Sepertinya... tidak, Pak."

Pak Karjo tidak terlihat terkejut. Justru mengangguk pelan. Seolah jawaban itu memang sudah ia duga sejak hari pertama Arif pulang.

 

Pertanyaan yang Selama Ini Disimpan

Lama mereka diam. Matahari semakin rendah. Lampu rumah belum dinyalakan, tapi cahaya jingga membuat semuanya terlihat hangat.

Pak Karjo akhirnya bertanya. Pelan sekali. Hati-hati.

"Kau... tidak ingin tahu... kenapa mereka kembali?"

Arif tersenyum. Senyum yang pahit.

Lihat selengkapnya